Senyawa Alas Lali Jiwo: Energi Cantigi (6)

Lagi-lagi aku terlalu percaya diri. Aku menyebut waktu tempuh ke puncak Welirang setidaknya 2,5-3 jam. Aku lupa mengukur diri. Pencapaian segitu adalah diriku sekitar lima tahun lalu. Saat ini bisa jadi lebih dari itu.

Tapi setidaknya aku bisa beralibi. Kali ini pendakianku jauh lebih santai. Mengikuti ritme teman-temanku, yang ternyata acapkali lebih cepat melangkah daripada aku.

Aku akui fisikku tidak terlalu prima. Walaupun tidak payah-payah amat. Namun sekarang memang lebih berasa menuruti bisikan untuk berhenti sejenak ketimbang berjalan konstan.

Jun atau Lidia mungkin telah menemukan penyebabnya: lemak di perutku. Sudah kelihatan membuncit memang dalam dua tahun belakangan. Dampak kerja kantoran yang dimanjakan dengan banyak makanan, tapi tidak diimbangi olahraga teratur.

Pantas saja. Ketika sejak awal mendaki dari Tretes langkahku seperti terganjal di bagian perut. Itu bagaikan sepeda yang berjalan dengan ban kempes.

Read More

Senyawa Alas Lali Jiwo: Riang Pagi Lembah Kidang (5)

Di blog ini, aku pernah bercerita betapa puitisnya Lembah Kidang. Pada suatu pagi dalam pendakian yang terjadi Maret 2016. Ketika sebagian teman pergi ke puncak Arjuno, aku bersama Rizky dan Kurniawan memilih tetap singgah di tenda.

Kami menikmati pagi di lembah yang hijau dan damai. Maklum saja. Kami bertiga baru tiba di Lembah Kidang sudah larut malam saat itu.

Begitu pun kali ini. Hanya berbeda urutan agenda saja. Tujuan pendakian kami di hari kedua, Minggu, 30 Mei 2021, bukanlah Arjuno. Melainkan Welirang terlebih dahulu.

Itu juga harus mundur dari jadwal yang direncanakan. Dari yang semestinya muncak sekitar pukul 2-3 dini hari, terpaksa harus molor beberapa jam. Setidaknya sesuai keinginan Satya. Ia mau pergi ke puncak setelah pukul enam pagi.

Dan memang kami akan berangkat jika sudah benar-benar siap; usai melakukan sejumlah kegiatan pagi yang biasanya penuh hajat. Hajat memenuhi isi perut, menyeduh minuman hangat, membasuh muka, olahraga ringan, sampai dengan “hajat” yang harus dibuang.

Khusus hajat yang disebut terakhir, mau tidak mau, tidak boleh ditahan-tahan. Kondisi perut harus dibuat nyaman selama pendakian. Nikmat mana lagi yang kami dustakan, ketika menuntaskan “hajat” berselimut semak berembun dan dikelilingi pohon cemara menjulang?

Read More

Senyawa Alas Lali Jiwo: Terjala Gulita (4)

Jun dan Lidia terlihat berhenti di satu titik. Seruan dan lambaian tangannya menegaskan satu kepastian, bahwa tempat camp untuk kami telah ditentukan. Sudah ketemu. Inilah ujung penantian pendakian di hari pertama (29/05/2021).

Aku sampai alpa mengecek waktu dan mencatatnya dalam aplikasi pencatat di gawai kecilku. Saking lelahnya, karena fokusku ingin segera membeber dan mendirikan tenda.

Anggap saja sudah mendekati pukul sembilan malam. Kuingat-ingat saja, karena waktu berhenti di seonggok pohon besar sebelum Lembah Kidang 2, itu saja sudah nyaris pukul 20.30. Waktu aku, Aiman, dan Indra mengekor Satya dalam diam. Mengharap iba kepada Jun dan Lidia agar segera menemukan tempat berkemah.

Seluruh tenda, kecuali milik Bartian (kapasitas 1 orang), dibawa oleh kloter terdepan. Aku mengeluarkan tenda dome berkapasitas empat orang dari ransel. Begitu pun Aiman dan Jun yang bersiap membangun tenda yang sama-sama muat dua orang. Satu tenda dipinjam dari Cecep, kawan pendaki yang batal ikut—dialah kepala dapur sesungguhnya—lalu satu tenda lagi disewa dari tempat rental dekat rumah Jun di Gresik.

Tenda berwarna hijau dari Cecep tersebut akan diisi Satya dan Lidia. Kemudian tenda rental akan diisi si senior-junior, Jun dan Aiman. Dan tendaku, akan diisi oleh Indra, Eko, dan Aliko. Adapun Bartian akan memakai tendanya sendiri, yang memang hanya muat satu orang saja.

Kami berpacu dengan waktu. Hanya tersisa beberapa jam saja sebelum tengah malam. Kami berusaha menyiapkan segalanya, khususnya menu makan malam. Kami saling berbagi tugas memasak. Jun dan Lidia sudah mengisi air dalam jeriken portabel 10 liter. Harapannya makanan dan persediaan minum sudah siap ketika tiga orang terakhir, yaitu Bartian, Eko, dan Aliko tiba di tempat camp. Sementara Totok dan si Gipong tentu saja sudah membawa bekal dan peralatan sendiri.

Di antara keheningan sabana dan cemara-cemara gunung Lembah Kidang, kami masih menyibukkan diri. Sejak terakhir diisi sedikit air dan camilan setibanya di Pondokan puluhan menit lalu, perut sudah meronta minta diisi lagi. Aku jadi teringat makan malam yang terlambat kala di Ranu Kumbolo, sembilan tahun silam.

Read More

Senyawa Alas Lali Jiwo: Tanjakan Asu Bukanlah Akhir (3)

Seingatku, kami sudah berjalan sekitar 30 menit dari Pondokan. Jalan teramat pelan. Lutut gemetar. Perut keroncongan. Ditambah angin malam yang bisa-bisanya tahu celah sempit di balik pakaian untuk membuat tubuh menggigil. Desing hawa malam bercampur keringat adalah salah satu mutualisme gunung yang menguji kami dan memicu pertanyaan, “Kenapa tak kunjung sampai?”

Jun dan Lidia melesat di depan. Aku memang meminta Jun berjalan dahulu, agar ia mencari dan memastikan tempat berkemah di Lembah Kidang 2. Sebuah area dekat dengan sumber air dan lebih nyaman dibandingkan Lembah Kidang 1. Sementara di urutan ketiga adalah Satya, diikuti Aiman, aku, dan Indra.

Sampai di suatu pohon pinus besar di sisi kiri jalur, Satya berhenti. Ia taruh lengan kanan ke pohon itu untuk menopang kepalanya. Kami bertiga di belakangnya ikut mengerem langkah. Napas kami tersengal-sengal.

“Jun, berapa jauh lagi? Kita sudah 30 menit lebih ini jalan belum sampai-sampai!” Satya berseru.

Sayup-sayup kudengar Jun menjawab bahwa lokasi camp sudah sangat dekat. Beberapa menit lagi. Kemudian tak ada sahutan lagi. Satya tetap berdiri menyandarkan kepalanya pada pohon. Aiman terduduk di atas semak-semak. Aku dan Indra mengikutinya. Kami berempat sejenak terjala keheningan.

Aku mulai menata napas. Aku harus mengakui perkiraanku meleset, tapi aku hanya bisa terdiam. Aku juga teramat lelah sambil menahan efek suhu rendah menggerayangi bagian kakiku yang terbuka. Dari lutut hingga betis. Sambil berharap kami ada cukup tenaga untuk kembali berjalan ke tempat camp, yang kata Jun tinggal sedikit lagi.

Malam itu memang rasanya campur aduk. Lapar, dingin, dan lelah berbaur menjadi satu. Berpadu menjadi kombinasi serius dan menyebabkan kami tidak fokus berjalan. Aiman sudah merasakannya bahkan saat baru berjalan sepelemparan batu dari Pos 3 tadi.

Read More
Senyawa Alas Lali Jiwo Bagian Kedua

Senyawa Alas Lali Jiwo: Taklimat-Taklimat yang Perlu Dicatat (2)

Baru saja sepelemparan batu dari Pos 3 Pondokan, tiba-tiba, Bruk!

“Aduh! Lututku!” teriak Aiman. Kejadiannya begitu cepat. Aiman terperosok ke sebuah parit kecil di samping jalur pendakian. Ia jatuh dengan posisinya rebah bersandar ransel. Kaki kiri terangkat lurus, sementara kaki kanan terlipat.

Kami semua kaget. Kami jelas mendengar Aiman mengerang sambil memegang lututnya. Aku dan Indra berusaha lekas mengangkatnya.

“Sebentar, sebentar!” sergahnya dengan napas terengah-engah. “Lututku gapapa, tapi sebentar. Pelan-pelan.”

Syukurlah. Aku sempat ketar-ketir kalau lukanya serius. Ia perlu waktu sebentar mengatur tenaga untuk bisa berdiri lagi. Beberapa menit kemudian setelah siap bangun, Indra menopang ransel sedangkan aku menarik kedua tangannya.

Jalur yang kami pilih, meskipun pendek, memang lebih terjal dan sempit. Ada jalur yang lebih bersahabat di belakang surau kecil yang dibangun penambang. Namun kami pilih yang paling dekat digapai.

Setelah Aiman mampu berdiri dan siap melangkah kembali, kuminta Jun melanjutkan perjalanan. Di satu sisi aku tak tega melihat kondisi Aiman. Tapi di sisi lain aku dengan kurang ajarnya tertawa—dalam hati tentu saja—dengan nasib tak enak yang menimpanya.

Setidaknya kalau aku hitung-hitung, jatuhnya Aiman di Pondokan adalah kesialan ketiga yang dialami di hari pertama pendakian kami.

Read More
Senyawa Alas Lali Jiwo Bagian Pertama

Senyawa Alas Lali Jiwo: Sebuah Pengantar (1)

Perkiraanku meleset. Jarak dari Pos 3 Pondokan menuju Lembah Kidang, tempat kami akan berkemah, menjadi dua kali lipat dari semestinya.

Jalan setapak yang tipis dan dirungkup semak-semak setinggi perut mendadak seperti kurang bersahabat. Tanah yang seharusnya enak dipijak, tiba-tiba terasa mengeras dan menyakitkan sendi-sendi lutut seperti makadam abadi sepanjang Pos 1 Perizinan Tretes hingga Pondokan. Belum lagi batu-batu atau akar pohon yang (kuanggap) seenaknya mencuat di atas permukaan jalur. Tak terhitung kaki terantuk cukup keras. Untung saja tidak sampai njlungup.

“Sial!” desisku sambil berjalan gontai. Astagfirullah…

Sosok yang khatam jalur Tretes seperti Totok dan Gipong saja, menggeleng heran. “Perasaanku dari Pondokan ke Lembah Kidang itu dekat dan datar. Kok, semalam rasanya malah banyak nanjak-nya,” katanya mengikik saat keesokan pagi di depan tenda.

Aku juga berpikir seperti itu. Sampai-sampai Satya, srikandi serba bisa dari Sibolga, kesal kepadaku. Walau sebetulnya aku berniat bilang bahwa waktu tempuh 15 menit itu kalau pas hari terang. Bila jalan kaki ketika sudah malam tentu akan lebih lama. Tapi kuurungkan niat memberi penjelasan. Kutakut malah membuatnya kesal.

Padahal jalur Tretes memang sudah menyebalkan dari awal. Kalau saja aku baru pertama kali mendaki lewat situ, ingin kulempar tas ransel ke tanah. Tangan kanan mengusap muka, tangan kiri berkacak pinggang lalu mengumpat, “Duh! Jalur macem opo iki!”

Astagfirullah…

Read More
Buku Semesta Renjana karya Elisabeth Murni

SEMESTA RENJANA: Belajar dari Keluarga Kecil Pencinta Alam

Judul Buku: Semesta Renjana
Penulis: Elisabeth Murni
Penerbit: Laksana (Yogyakarta)
Tahun Terbit: 2020, Cetakan Pertama
Tebal Buku: 192 halaman (14×21 cm)
ISBN: 978-602-407-782-2
Kategori: Parenting

*

Elisabeth Murni harus tahu ini: saya adalah orang yang sangat antusias ketika ia akan menerbitkan buku terbarunya. Tepat di hari yang sama ia menulis peluncuran buku di blog Ransel Hitam (ranselhitam.com), saya langsung menghubunginya dan memesan buku lewat WhatsApp.

Mengapa saya harus antusias? Barangkali ada satu jawaban. Sasha—panggilan akrabnya—adalah orang yang digambarkan persis seperti slogan di blognya: dream, journey, dan discover. Bersama keluarga kecilnya, ia adalah orang yang percaya pada kekuatan mimpi. Kemudian mewujudkannya dengan berjalan dan bertualang, serta menemukan banyak hal baru, yang seringkali tiada disangka-sangka. Bahkan di suatu tempat yang tak jauh dari rumah.

Semesta Renjana adalah salah satu bukti dan puncak kekuatan mimpi itu.

Read More
SELESA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan

“SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan”, Sebuah Upaya Menjemput Angan

Kamis pagi, 11 Maret 2021, bertepatan hari libur nasional Isra Mikraj, saya meluncurkan buku solo pertama saya: SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan. Saya membuka prapesan (Periode I) buku terbitan Sulur Pustaka tersebut selama dua pekan hingga 25 Maret 2021.

Secara keseluruhan, SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan merupakan buku kedua saya setelah To Ado Re: A Memorable Adventure to the Land of Exotic Beauty, sebuah proyek antologi yang dikerjakan bersama sejumlah travel blogger lainnya pada 2018 lalu.

Read More
Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Ditahbiskan sebagai yang terbaik di bidang teknologi dalam ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 seperti menjadi puncak pencapaian I Gede Merta Yoga Pratama. Namun ketika dijumpai di kantornya, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Badung (24/12/2020), mimik wajah dan nada bicara pria kelahiran Gobleg, Buleleng, 23 September 1996 itu memberi kesan tentang rasa tak ingin berpuas diri.

“Kami harus terus berimprovisasi. Itu tantangan kami,” tegasnya.

Dari balik masker, mata Yoga–sapaan akrabnya–nyalang memandang saya. Ia kembali membuka labirin memori. Mundur lima tahun ke belakang. Menguak lika-liku perjuangan demi niat mulia: membuat nelayan tradisional lebih sejahtera.

Read More

Candu Ayam Panggang Gandu

Dwi (kiri), anak kedua Suryani, dibantu pegawai di sebelahnya menyiapkan dan memilah ayam-ayam yang akan dipanggang ketiga kalinya sebelum disajikan kepada pelanggan. Sejak kecil ia membantu usaha ayam panggang ibunya di rumah yang juga menjadi warung makan bernama Depot Ayam Panggang Miroso Bu Hj. Suryani, Desa Gandu, Kecamatan Karangrejo, Magetan.

“Ibu mulai merintis usaha sejak 1988,” kata Dwi.

Awalnya Hj. Suryani (58 tahun) berjualan aneka masakan berbahan baku ayam seperti garang asem, ayam bumbu rujak, dan ayam panggang. Keliling dari desa ke desa dengan sepeda onthel. Delapan tahun kemudian, ia memberanikan diri membuka usaha kuliner ayam panggang secara menetap di rumah peninggalan neneknya.

Read More