Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno

Sebuah pesan baru masuk di fitur direct message akun Instagram saya. Sekitar dua minggu lalu. Namanya tak asing. Lebih-lebih foto profil berbingkai bundar menampakkan wajah dengan jelas.

Sosok familiar yang membawa ingatan saya bernostalgia. Melambung kira-kira selama kurun waktu tujuh tahun ke belakang. Seorang perempuan yang sudah menganggap saya sebagai anak kandungnya.

Begitu pun sebaliknya. Tatiek Koerniawati, S.P., M.P., dosen jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), sudah seperti ibu saya sendiri. Dari yang dianggap biasa saja, menjadi istimewa sampai akhir kuliah.

Bukan spesial karena IPK cumlaude, bukan. Melainkan studi sarjana saya yang akhirnya tuntas benar-benar tepat pada waktunya. Memenuhi 14 kolom stempel semester di bagian belakang kartu tanda mahasiswa. Karena inilah saya menjadi salah satu mahasiswa bimbingan beliau yang paling diingat.

Tidak terhitung Bu Tatiek, baik lewat SMS maupun WhatsApp, begitu keras—bahkan nyaris jemu—mengingatkan progres tugas akhir saya. Tak terkecuali media sosial. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika mengunggah foto pemandangan puncak gunung di Facebook. Salah satu komentar yang muncul adalah dari beliau yang berbunyi, “Jangan cuma gunung saja yang didaki, skripsimu juga.”

Read More
Stasiun Pasar Senen Jakarta

Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang

“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim,
sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab,
maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan);

“Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan.
Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya,
karena lezatnya kehidupan baru terasa,
setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha;

Read More

Maumere

Frans Maumere

Di suatu malam, saya hendak balik ke Malang. Naik bus patas dari terminal Purabaya, Sidoarjo. Tempat duduk sudah hampir penuh. Saya dapat kursi paling belakang.

Sesaat setelah duduk, tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh seseorang di samping kanan. Raut wajahnya khas Indonesia timur. Perempuan berpakaian serba hitam tertidur di sebelahnya. Agak lirih dia bertanya, “Mas, ke Malang biasanya berapa lama?”

Saya menjawab, “Dua jam, Pak, kalau lancar.” Dia mengangguk. Kemudian kami tak saling ngobrol saat bus berangkat. Mereka berdua lebih banyak memejamkan mata.

Read More

Momen senja kala yang keemasan di sisi selatan

Senja Kala

Kapan terakhir kali kita menyempatkan diri sejenak, menyaksikan langit senja yang kemerahan atau keemasan?

Sore itu, dua sahabat bertandang ke kos saya di tepian barat Tunggulwulung, yang lagi mendung.

Saya tengah menulis di laptop kecil saat itu. Menghadap dua jendela besar yang separuhnya tertutup tirai biru laut. Menghadap mendung ke arah barat. Tak ada ekspektasi apa-apa tentang senja kala yang bikin terkesima.

Lalu terdengar suara derap kaki mendekat. Saya membukakan pintu kamar yang terletak di lantai dua ini. “Assalamualaikum, halo Pakde gaes! Lama tak jumpa,” sapa Oki, sambil menenteng sebuah tenda dome kuning dan matras aluminium foil. Diikuti di belakangnya, Mustofa. Keduanya seangkatan, tapi tiga tahun di bawah saya di fakultas yang sama.

Saya menjawab salam keduanya. Mempersilakan masuk. “Bagaimana Malang selatan?” tanya saya sambil terkekeh.

Kedua wajah mereka yang sudah kuyu langsung semakin kuyu. Keduanya kompak mendengus. “Macet!” Saya tertawa.

Read More

Refleksi Pegunungan Putri Tidur berlatar senja di suatu pedesaan di pinggiran kota Malang

Ketika Gunung Dirindukan

Saya pikir, tak perlu menunggu menjadi sepasang kekasih untuk merasakan rindu. Karenanya rindu itu bersifat universal. Dapat berlaku untuk apa saja. Termasuk rindu pada ketinggian (gunung).

Menuntaskan rindu pada gunung, berarti membicarakan kenangan-kenangan pendakian sebelumnya. Suka atau duka, tetap berujung rindu.

Read More

Pak Pono di kejauhan. Sedang mencari posisi yang sinyalnya stabil untuk menelepon kawannya.

Air Terjun Gua Kelelawar (Coban Goa Lowo) Malang

Kami sedang dalam perjalanan kembali ke tempat parkir atas. Menapaki jalan berlapis cor dan tanah yang berselang-seling. Hanya selebar dua sepeda motor berjajar dan agak licin. Menanjak, berliku, dan menguras tenaga. Pak Pono berjalan paling depan, diikuti oleh Eko dan saya.

Di tengah napas memburu, tebersit sebuah ide dalam pikiran. “Bagaimana kalau coban yang tadi, dinamakan Coban Goa Lowo, Pak? Air Terjun Gua Kelelawar?” Saya mengusulkan.

Langkah kami bertiga langsung terhenti. Kami saling berpandangan. Dengan tetap memanggul kayu batangan di bahu kanan, Pak Pono mengangguk lalu bertanya balik kepada saya, “Ngunu ae (begitu saja) ya, Mas?”

Read More

Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga

Izinkan saya bernyanyi,

Ingatkanku semua, wahai sahabat; kita untuk selamanya, kita percaya;  kita tebarkan arah dan tak pernah lelah; ingatkanku semua, wahai sahabat…

Bersama Muchlis saat Bersih-bersih Kali Brantas bersama Radar Malang (9 Maret 2013)

Bersama Muchlis saat Bersih-bersih Kali Brantas bersama Radar Malang dan Gamananta (9 Maret 2013)

Penggalan lagu Sahabat milik Peterpan tiba-tiba terngiang saat memeluk erat tubuhnya yang kurus. Rasanya tangan ini begitu ingin mencengkeram lebih dalam jaket hitam yang menyelimuti tubuhnya. Rasa haru yang tertahan sejak berangkat dari rumahnya di Gresik nyata-nyata hendak membuncah, beriring air mata yang nyaris keluar. Kami saja yang “hanya” teman dan sahabat sangat terharu melepas keberangkatannya ke Jakarta, apalagi orangtuanya, terutama sang ibundanya yang lugu. Bapak dan pakdenya nan bersahaja nampak tegar, serupa dengan adik perempuannya, Rara. Riuh lobi stasiun Pasar Turi sore itu seperti jadi saksi pertemuan ini. Berulang kali saya menepuk pundak sang ibu, menghiburnya sedikit demi menguatkan hatinya. Saya bicara dalam bahasa Jawa krama yang intinya “Yang penting doa dan restu bapak ibu buat kesuksesan Muchlis. Insya Allah barokah”.

Sudah pukul 16.30, Fitrah dan saya membantu mengangkat tas carrier 60 liternya untuk dibawa Muchlis. Sebuah “kulkas” kehidupan yang akan menemaninya selama di Jakarta nanti, selain bodypack dan daypack-nya. Melihat carrier kesayangannya itu, saya jadi teringat masa-masa silam penuh perjuangan saat awal membangun sebuah “keluarga” baru: Gamananta.

Read More