Hari Kemenangan

Saya, Emmy (istri), dan Najih (adik) baru saja tiba di Stasiun Surabaya Gubeng, pada Senin dini hari lalu (24/3), setelah perjalanan empat jam dari Yogyakarta. Kami mudik ke rumah orang tua saya di perbatasan Sidoarjo–Surabaya. Supaya hemat waktu karena ingin segera sahur di rumah, kami memilih naik taksi Bluebird.

Seorang bapak bertubuh jangkung—taksiran saya usianya sudah kepala lima—dengan kemeja batik lengan pendek dan celana panjang biru khas Bluebird menyongsong kami. Tampaknya ia adalah sopir yang sedang menunggu jatah untuk berangkat. Dan inilah garis takdirnya, seperti hari-hari biasanya.

Belum sempat saya meminta, si bapak sudah berinisiatif menawarkan jasanya dengan ramah. “Taksi Bluebird?” Saya mengangguk. “Monggo saya bantu bawakan.” Barang kami banyak, ada tiga koper, tiga ransel, sejumlah totebag. “Tidak apa-apa, Mas. Sudah biasa.”

‘Mobil dinas’ yang ia bawa berada di antrean paling pinggir dekat pintu keluar penumpang kereta. Pintu bagasi dibuka, sempat membentur tiang rambu parkir, saya khawatir kalau ada jejak lecet sedikit. “Ndak apa-apa Mas, ini mobil perang,” candanya. 

Sesuai tertera di identitas sopir, namanya Sigit Wahyu Handoko. Asli Delanggu, Klaten—terkenal sentra beras—tapi lama berdomisili di Karangasem, Laweyan, Surakarta.

“Tapi saya sudah 38 tahun merantau, Mas. (Pertama merantau) di Kediri 11 tahun, lalu Malang, dan Surabaya (sampai sekarang),” kenang Sigit, “dulu pertama kerja saya jadi sopir truk.”

“Lebih berat jadi sopir truk, ya, Pak (daripada jadi sopir taksi)?” Emmy menyahut, yang lekas ditimpali Sigit, “Ya, sama-sama berat, Mbak, he-he-he.”

Mobil MPV berkelir frost blue itu membelah jalanan Surabaya yang lengang. Setidaknya perlu 30 menit dari stasiun ke rumah bapak ibu. Masih cukup waktu untuk sahur di rumah. Nyaris sama lengangnya dengan rangkaian kereta Sancaka yang kami naiki tadi. Stasiun Yogyakarta juga tidak ramai-ramai amat. Adik saya saja baru pesan kereta tiga hari sebelum keberangkatan.

“Sepi juga, ya, Mas? Saya juga masih heran ini, kok musim mudik lebaran tahun ini lebih sepi dibanding tahun lalu,” ujar Sigit. Dua musim mudik sebelumnya bahkan ia tidak sempat pulang ke rumah sama sekali saking perputaran “narik”-nya setiap hari sangat kencang karena banyak sekali penumpang.

“Mungkin karena situasi ekonomi sedang tidak menentu, ya, Pak?” timpal saya.

“Nah, itu dia, bisa jadi, Mas,” jawabnya. “Tapi, ya, disyukuri saja. Masih ada waktu sampai lebaran, mudah-mudahan laris (penumpang).”

Ia lanjut cerita. Beberapa hari lalu ada penumpang dari Jakarta. Katanya satu kereta cuma ada dia seorang, sementara kereta lainnya masih lumayan, hampir penuh. “Baru nambah penumpang satu lagi di Purwokerto. Jadi, sampai Surabaya bertahan dua orang saja,” tuturnya.

Di ruas jalan antara Jembatan Jagir Wonokromo sampai Pasar Waru, saya melihat banyak pejuang subuh, menjemput rezeki di sepertiga malam terakhir sebelum fajar. Pedagang sayur dengan motor yang dipenuhi plastik-plastik bahan dapur, pasar tradisional yang mulai riuh, hingga tukang becak yang masih mengayuh di tengah udara malam.

Di saat banyak yang terlelap, sedang berbincang dengan Tuhan lewat tahajud, masih banyak di luar sana yang berikhtiar demi rezeki di hari itu.

Taksi masuk gang rumah. Sigit melambatkan laju mobil melewati jalan kampung. Saya bertanya lagi, memastikan, “Habis ini kembali lagi ke stasiun, Pak?”

“Iya, Mas. Tinggal (siaga) di mobil sampai nanti jadwal setor jam 12 siang. Habis itu istirahat. Jam 4 sore berangkat lagi.”

“Dapat berapa, Pak, dari hasil setoran buat dibawa pulang ke keluarga?”

“Wah, ya, ndak mesti, Mas. Kadang 40-50 ribu (rupiah) per hari itu sudah bagus.”

“Dapat THR, Pak?”

“Wah, ya tidak, Mas. Kami kan mitra, bukan karyawan. Paling nanti cari THR sendiri, hehe,” Sigit tampak legowo soal ini. Biasanya ia dan sesama kolega sopir akan memaksimalkan pelayanan dengan harapan dapat tip lebih. “Ya, itu tadi, Mas. Mudah-mudahan sampai lebaran laris, buat nambah-nambah pemasukan.”

Kami berhenti persis di depan pagar rumah. Sigit menyilakan saya membayar via QRIS dengan total argo Rp90.820 ditambah retribusi parkir stasiun Rp6.000.

“Terima kasih, ya, Mas, Mbak. Saya pamit dulu.”

Dari luar mobil Sigit tampak menyelesaikan pesanan via aplikasi yang terpasang di head unit mobil. Tak berselang lama ia segera menginjak kopling dan memindah persneling ke gigi  satu, lalu melaju keluar kampung, kembali ke stasiun dan menanti rezeki datang lagi.

Hari Kemenangan
Sigit Wahyu Handoko, sopir taksi Bluebird Surabaya. Foto: Rifqy Faiza Rahman

* * *

Kemarin saya salat Idulfitri di Masjid Al-Akbar, Surabaya bersama istri, ibu, dan adik. Sementara bapak saya dapat tugas berkhotbah di kelurahan lain. 

Gaung takbir membahana di masjid nasional yang megah itu. Satu per satu jamaah memenuhi saf. Ada yang datang sendirian, ada yang bersama keluarga; tidak sedikit memakai busana terbaik untuk menyambut hari yang fitri, merayakan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar pada tahun kedua Hijriah. Salat Id berlangsung khidmat, dipimpin K.H. Abdul Hamid Abdullah, imam besar Masjid Nasional Al-Akbar. 

Saat khotbah oleh kepala Kanwil Kemenag Jatim berlangsung, pikiran saya malah teringat Sigit. Sopir Bluebird Surabaya yang sudah dua edisi Idulfitri terakhir tidak pulang ke rumahnya sendiri. Ia siaga sesuai tugasnya di antrean taksi Stasiun Gubeng, sejak tengah malam sampai siang, setiap hari. Baginya, kemenangan hari raya lebih bermakna tatkala ia bisa membawa nafkah pulang untuk anak dan istrinya. Untuk itulah, ia memilih tetap bekerja di hari raya.

Maka mari berterima kasih dan merayakan kiprah-kiprah tersembunyi pada kening yang berkeringat dan tangan-tangan yang mengepal erat untuk menjemput kemenangan hari ini. Untuk siapa pun yang mengepel lantai masjid-masjid yang hari ini penuh jemaah, mencuci karpet masjid dan membuatnya wangi agar nyaman saat sujud; untuk yang menata dan menjaga tempat parkir di sekitar masjid.

Untuk yang masih bekerja di terminal, di stasiun, di bandara, mengantar penumpang bekerja atau pulang ke kampung halamannya; untuk yang masih menyapu jalanan kota dan membersihkannya dari pecahan-pecahan mercon kertas yang diatasnamakan tradisi tanpa sempat dibersihkan, menyiram taman perkotaan, mengangkut sampah harian; untuk yang masih menyeret karung beras demi mengais rezeki di sudut-sudut gang.

Lalu, kemenangan seperti apa yang kita rayakan? Sebab, jika seolah tidak ada yang berubah dari kita hari ini, maka kita lupakan saja makna Ramadan dan Idulfitri itu, dan berharap bisa berjumpa dengannya di tahun mendatang. Apa pun, selamat merayakan kemenangan atas hal-hal baik dan panjang umur itu.

Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir batin.

2 pemikiran pada “Hari Kemenangan

  1. seperti biasa, tulisan Rifqy selalu menarik untuk dibaca meski berasal dari cerita-cerita sederhana. naik taksi blue bird tuh emang enak, supirnya selalu responsif dan sangat membantu. sangat bangga menjadi salah satu pemegang sahamnya meskipun cuma 1 lot *eh.

    bener sih, mudik tahun ini rasanya nggak terlalu rame. waktu mudik kemarin, sempet lewat transjawa dan melihat transjawa dari kereta juga lancar banget. mungkin sempat ada berita kemacetan tapi sepertinya cuma 1 hari setelah itu lancar. ngomong-ngomong soal mudik, dulu pas mudik dari jogja ke babat aku juga belinya h-3 sih. santai karena menurutku bukan jalur mudik.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Aduh, Gallant! Sori banget baru cek komentar, hahaha.

    Terima kasih, ya. Wah, meskipun cuma 1 lot ya tetap pemegang saham tho wkwkwkwk.

    Nah, iya. Mudah-mudahan ke depan mudik bisa jadi lahan rezeki buat orang-orang yang merelakan waktunya untuk tidak mudik.

    Suka

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.