Pada tanggal 2 Oktober 1884, dari rumah orang tuanya di Nuenen, Belanda, untuk kesekian kalinya Vincent van Gogh menulis sepucuk surat—ia menulis lebih dari 600 pucuk surat sepanjang 1883-1885—kepada Theodorus “Theo” van Gogh, sang adik yang seorang pedagang seni (art dealer) sukses. Selain mengucap terima kasih atas bantuan finansial Theo, saudara kandung yang sangat mendukung karier, finansial, dan kesehatan jiwanya, Vincent juga bercerita banyak soal-soal lainnya: hubungan dengan kedua orang tuanya, hal-hal seputar kritik dan kemarahannya terhadap situasi perdesaan, sosial, dan politik di Eropa (terutama Prancis dan Belanda) semasa itu.
Di antara larik-larik surat berbahasa Belanda itu (walau kadang-kadang juga fasih berbahasa Prancis maupun Inggris), ia juga membahas dua karakter fiksi dalam novel The Ladies’ Paradise karya Emile Zola. Novel ini berjudul asli Au Bonheur des Dames yang terbit tahun 1833, lalu diterjemahkan Frank Belmont pada 1883.
Dalam novel itu, ada dialog terkenal yang diucapkan karakter Octave Mouret kepada Paul Vallagnosc. Salah satu kalimat penutupnya berbunyi, “I prefer to die of passion than to die of boredom”—Aku lebih memilih mati karena gairah daripada mati karena kebosanan.
Lanjutkan membaca “9 Tahun Coffeetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar”














