Kopi Pucu'e Kendal dan Curug Lawe Secepit

Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)

Belasan tahun lalu, saya berjumpa dengan Mbah Rumini. Seorang nenek yang menjual mainan tradisional anak-anak dan suvenir kerajinan tangan di teras Museum Kereta Karaton, Yogyakarta.

Aksinya menarik perhatian saya. Saya mendekatinya tatkala ia sedang memutar otok-otok bambu yang mengeluarkan bunyi. Hanya selang beberapa detik, kemudian beralih memainkan suling bambu, gasing, dan lainnya. Barang-barang yang dijual rata-rata hasil kerajinan tetangganya, sedangkan sebagian dibuat sendiri.

Saya akhirnya membeli sebuah ontong-ontong. Jenis mainan bunyi-bunyian yang biasa disebut drum goyang. Harganya sangat murah, hanya lima ribu rupiah.

“Hasilnya buat nambah sangu putu-putuku, Mas,” jawab Mbah Rumini ketika saya tanya alasannya berjualan.

Di usia senjanya, Mbah Rumini masih mampu berpikir kreatif dan berkarya. Selagi sehat, perempuan berjilbab dan berkacamata itu tidak ingin merepotkan orang lain. Hal ini diakui salah satu cucunya, yang berteman dengan saya di Facebook beberapa saat setelah mengunggah fotonya di sana.

Saya sempat berpikir bahwa kreativitas kadang muncul di tengah keterbatasan. Namun, kiprah Mbah Rumini adalah antitesis itu. Daya kreatifnya muncul karena ia memang ingin. Menempuh jalan unik tersebut secara sengaja, demi memberikan kasih sayangnya pada sang cucu. Barangkali sang nenek telah menemukan renjananya sendiri di usia yang tak lagi muda.

Situasi yang hampir mirip saya temukan pada diri Wahyudi. Seorang warga dari Dusun Gunungsari, Desa Ngesrepbalong, Kendal. Salah satu dusun di lereng utara Gunung Ungaran. Local champion yang menjadi sorotan utama di Ecotourism Master Class Batch V, Semarang. Ia mewakili segenap penggawa dusun, kedai Kopi Pucu’e Kendal, dan Curug Lawe Secepit yang menjadi kawasan binaan Universitas Negeri Semarang.

Wahyudi (tengah) menjelaskan cerita lokal yang berkembang seputar keberadaan Curug Lawe Secepit

Angan-angan dan upaya Wahyudi menjadikan tempat tinggalnya lebih berdaya dengan ekowisata, menyentil sisi haru kami. Layaknya bedil yang meletup, tutur kata dan pengalaman hidupnya menggelorakan semangat.

Renjananya tidak sebatas pada kopi robusta atau arabica yang dijual di kedai. Ia juga memiliki interpretasi dan pemahaman yang mendalam terhadap potensi wisata di kampungnya. Pak Nurdin Razak, pembicara utama Ecotourism Master Class Batch V pun mengakui, modal Gunungsari sebagai kawasan ekowisata sejatinya sudah bagus. Tinggal mengasah Wahyudi, memperbanyak Wahyudi-Wahyudi lainnya, serta memoles sejumlah aspek untuk mendukung prinsip-prinsip ekowisata.

Termasuk keberadaan Curug Lawe Secepit. Debit air cukup deras, sehingga alirannya jatuh menghunjam kencang bebatuan di bawahnya. Lalu mengalir, meliuk, membentuk kolam kecil ke arah hilir.

“Ini adalah salah satu tempat terbaik untuk eco-healing,” kata Pak Nurdin.

Tak hanya itu. Bu Eta juga menambahkan, hutan-hutan di sekitar Curug Lawe masih menjadi habitat terbaik untuk sejumlah satwa dilindungi. Di antaranya adalah elang Jawa. Lokasi ini bisa jadi tempat pengamatan yang mengesankan bagi penggemar birdwatching.

Beragam ide dan konsep mengalun liar di pikiran kami. Mencoba menemukan formula yang tepat untuk mengelola kawasan Curug Lawe Secepit agar lebih bernilai ekowisata. Mulai dari hal-hal sederhana, seperti meminimalisasi penggunaan plastik dan makanan-minuman kemasan lainnya. Penggunaan bahan-bahan alami seperti daun pisang untuk wadah jajanan-jajanan khas ndeso akan lebih berarti.

Penerapan aturan-aturan yang ketat secara tidak langsung akan menjadi batas antara pengelola dan pengunjung. Kontribusi maupun tanggung jawab lingkungan dimulai dari diri sendiri. Perasaan menjaga dan memiliki suatu tempat harus menjadi jiwa bagi masing-masing pihak. Tujuannya tak lain agar suatu tempat tersebut bisa tetap bernilai ekonomi secara berkelanjutan, tanpa merusak lingkungan.

Saya sedikit memberi contoh pengelolaan wisatawan kawasan wisata alam Pantai Tiga Warna, Pantai Gatra, dan Pantai Clungup di bawah naungan Clungup Marine Conservation (CMC), Malang Selatan. Menceritakan metode-metode untuk pengecekan potensi sampah anorganik, penerapan denda maksimal bagi pelanggar, hingga rencana-rencana konservasi mangrove maupun terumbu karang.

Meskipun belum banyak, tetapi sudah ada beberapa contoh terbaik dan inspiratif yang bisa dijadikan motivasi. Setiap tempat memiliki karakternya sendiri. Nilai-nilai kearifan lokal dapat menjadi tameng yang diintegrasikan ke dalam konsep ekowisata di Gunungsari.

Kunci terpenting adalah komitmen bersama satu sama lain. Wahyudi tidak mungkin berkiprah sendirian. Virus ekowisata harus meluas dan ditularkan pada warga lainnya. Pendampingan dari instansi-instansi yang berkaitan tetap dilakukan, hingga suatu saat nanti Wahyudi dan kawan-kawan mandiri sepenuhnya.

Curug Lawe Secepit berdebit cukup deras saat musim hujan (kiri). Capung terbang di sekitar kolam-kolam kecil menandakan indikator bersihnya air (kanan).

Saya bisa membayangkan menjadi pelancong yang sengaja datang ke Gunungsari. Dalam sehari, dipandu Wahyudi, saya akan menyusuri jalan setapak menuju Curug Lawe Secepit. Sembari berhenti sesaat untuk mengamati satwa-satwa di sekitar rimbanya.

Di salah satu kolam jernih dekat curug, saya mencoba berendam. Membiarkan dinginnya air membasuh tubuh. Membuka lubang hidung lebar-lebar agar menghirup udara segar. Membersihkan saluran pernapasan yang mungkin masih tertinggal jejak polusi perkotaan. “Ritual” alam lalu dipungkasi dengan menyantap singkong dan kacang rebus, serta menyeruput kopi robusta panas racikan barista Pucu’e Kendal.

Kopi yang dibawa Wahyudi ketika kelas ruang saja sudah sedap, apalagi disesap di alam terbuka dengan pemandangan memanjakan mata. Sebuah kenikmatan yang tidak layak untuk didustakan.

Kenikmatan sederhana, namun menyusup jauh ke relung hati.

(selesai)


(Foto sampul: Kedai Kopi Pucu’e Kendal, Gunungsari, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, yang juga menjadi kawasan binaan Universitas Negeri Semarang)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.