Kemerdekaan 17 November

“Aku ingin kaya, Mas” kata istri saya di hari-hari awal setelah resmi menjadi suami-istri. Saya mengamini, karena saya juga ingin.

Kami pun meletakkan cita-cita kaya ke daftar teratas dalam rancangan masa depan. Komponen-komponen aksi segera ditetapkan, termasuk target dan rencana cadangan.

Saat itu saya masih bekerja sebagai tenaga honorer di salah satu instansi pemerintahan provinsi. Pola kerja kantoran seperti pada umumnya. Sisi positif hingga negatif pasti ada. Namun walaupun hanya bertahan selama dua tahun, saya tetap menyerap banyak ilmu dan pelajaran dari lingkungan birokrasi.

Ketika pandemi mengganas sepanjang 2021, saya berusaha melakukan segala hal kreatif sejak kontrak kerja tidak diperpanjang. Saya kembali fokus mengembangkan passion. Di antaranya menulis dan menerbitkan buku. Saya juga sempat merintis usaha reseller perlengkapan outdoor, tetapi hanya bertahan sebentar.

Sementara istri saya sempat menjadi dosen kontrak di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Tanpa memandang honor, durasi kerja dan pengalamannya lumayan. Ia memperoleh banyak sudut pandang baru tentang budaya didik di kampus tersebut.

Di sisi lain, istri saya masih menjalankan bisnis berbasis sosial dan pendidikan yang dikerjakan sejak kuliah. Bahkan sampai sekarang. Ia menggelar kelas bahasa Inggris, uji-baca dan menerjemahkan jurnal penelitian, hingga mengikuti acara-acara kepemudaan internasional.

Suatu hari, bertepatan dengan pernikahan adik ipar jelang akhir triwulan kedua 2022, kami berdua sama-sama ngobrol dan merenung. Kondisi sedang pasang surut, namun kami harus segera membuat lompatan besar. Saya mengetuk palu, “Kita pindah ke Magelang.”

Hal ini bermula ketika saya pulang dari Semarang pertengahan Januari lalu. Usai mengisi kelas ekowisata bersama Indonesia Ecotourism Institute di UNNES. Tiba-tiba muncul ide besar ketika memasuki wilayah Magelang. Saya membayangkan Candi Borobudur, desa-desa sekitar, dan lima gunung yang mengelilinginya.

Ada sesuatu yang bisa dikerjakan di sini, batin saya waktu itu. Sekilas seperti spontan, tetapi saya punya keyakinan yang kuat.

Sesekali, saya mengajak istri (dan adik-adik) mendaki gunung. Seperti saat ke Gunung Prau lewat jalur Wates, Temanggung ini. Bukan puncak yang kami kejar, melainkan kebersamaan. Selain rekreasi, juga agar lebih dekat dengan alam, serta mensyukuri dan merenungkan pilihan hidup yang sedang ditempuh.

Saya mulai dengan membentuk badan usaha sendiri. Sebagai wujud keseriusan saya mendalami ecotourism dan ingin memiliki spesialisasi di bidang tersebut. Selain itu tetap mengasah kemampuan di dunia kepenulisan.

Bagaimana respons istri? Tentu saja dia sangat senang kembali ke kampung halaman. Namun lebih dari itu, istri memiliki harapan serupa. Ia bisa menata ulang rencana bisnisnya dan mencari potensi jaringan baru. Keputusan besar diikuti dengan tekad dan semangat besar pula.

Setelah tiga tahun, saya menyadari bahwa 17 November tidak lagi menjadi perayaan tunggal. Hari ini bukan hanya untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami, melainkan juga memperingati kemerdekaan atas passion kami. Bersepakat untuk bertanggung jawab dengan renjana jalan hidup yang telah digenggam. Baik itu urusan pekerjaan, rencana bisnis, maupun mimpi-mimpi lainnya.

Tujuh belas November adalah momen pengingat agar saling mendukung komitmen atas kehendak yang telah diputuskan. Saling bekerja sama dan melengkapi untuk mendorong proses bertumbuh.

Kami belum bisa dibilang sukses dan (mungkin) masih harus memberi pembuktian. Tetapi kami percaya bahwa merdeka atas pilihan hidup merupakan salah satu kunci kebahagiaan.

Kami berusaha meletakkan porsi seadil-adilnya pada setiap hal. Entah yang bersifat prinsip (keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan hal-hal dasar), maupun sesuatu di luar itu. Bagi kami, merdeka dan berbahagia tidak sekadar menjadi hak setiap orang, tetapi juga kewajiban.

Bahkan saya merasa bahwa wajib juga untuk kaya. Namun tidak hanya kaya materi, kami juga harus kaya hati. Menjadi kaya dalam hal apa pun, harus mampu memberi arti dan manfaat tidak hanya untuk sesama, tetapi juga kepada makhluk hidup. Bagi saya, menjadi dewasa dengan berbagi dan menumbuhkan respek adalah di atas segalanya.

Magelang, 17 November 2022

Dari kami yang masih tidak berhenti bermimpi,
Rifqy & Emmy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: