Senyawa Alas Lali Jiwo: Arjuno, yang Kesekian Kalinya (10)

Untuk pendakian ke Ogal-Agil lewat jalur Tretes, aku biasa membagi rute Lembah Kidang—Puncak Arjuno menjadi tiga tahapan.

Pertama, dari area camp Lembah Kidang hingga Watu Gede. Selepas tempat berkemah, ada satu tanjakan cukup panjang yang cocok buat pemanasan. Tanjakan tersebut akan melandai dan bertemu dengan sabana lain di Lembah Kidang. Kemudian berganti jalan setapak di antara padang rumput dan batu-batu berserakan. Vegetasi berganti tumbuhan semak berduri dan berujung di tanah datar dengan batu besar (Watu Gede) menjadi tengara.

Kedua, dari Watu Gede hingga batas vegetasi cemara-cantigi. Tahap ini berupa tanjakan terjal nan panjang di tengah Alas Lali Jiwo. Melewati pertigaan ke arah Cangar dan berakhir setelah batas hutan cemara gunung yang homogen. Ada beberapa jalur di sini dan akan bertemu di satu titik yang sama. Etape inilah yang terberat dari pendakian ke puncak Arjuno.

Ketiga, dari batas vegetasi hutan menuju puncak. Tahap ini sudah relatif terbuka dan banyak ditumbuhi cantigi gunung. Melewati tugu perbatasan kabupaten Pasuruan-Malang, Pasar Dieng, dan sampai akhirnya tiba di puncak Ogal-Agil (3.339 mdpl). Di etape ketiga ini, biasanya fisik mulai melemah. Pasalnya usai menanjak hingga Pasar Dieng, masih ada satu bukit kecil yang dilewati sebelum puncak.

BACA TULISAN SEBELUMNYA:
Senyawa Alas Lali Jiwo: Melawan Diri Sendiri (9)

Gambaran rute pendakian dari camp Lembah Kidang ke puncak tertinggi Arjuno. Untuk menuju Ogal-Agil yang sejatinya sudah tampak di depan mata, kami harus memutari punggungan terjal Alas Lali Jiwo.

Pagi selepas fajar itu, baik aku dan Indra maupun Eko bersama Satya dan Bartian, masih ada di tahapan kedua. Dalam jarak yang berbeda. Aku masih terlelap selagi Indra menuntaskan hajat, sedangkan mereka bertiga sudah jauh di depan kami.

Aku agak lupa berapa lama mataku terpejam. Mungkin sekitar 15-20 menit. Yang jelas, persis setelah kuterbangun Indra pun balik dari peturasan.

Dingin berangsur hangat. Kini kusiap meningkatkan batasanku sendiri. Kantuk sudah hilang seiring fisik yang telah pulih. Kami berdua berdiri tegak di jalur pendakian. Kembali memulai selangkah demi selangkah ke puncak. Menyusul kawan-kawan.

*

Ada untungnya berjalan ketika hari sudah terang. Trek menjadi lebih jelas dan angin tidak sekencang subuh tadi. Gejala masuk anginku juga berangsur hilang. Meskipun momen matahari terbit di puncak terlewatkan, bagiku tak jadi soal.

Rupanya tiga orang itu tidak terlalu jauh. Satya berujar bahwa mereka juga memilih menunggu kami berdua. Kami akhirnya bertemu di jalan setapak datar sebelum kembali menanjak. Tak lama lagi batas hutan Alas Lali Jiwo habis dan berganti vegetasi.

Usai ujung tanjakan terakhir tahapan kedua ini, ada dua jalur pendakian yang bisa dipilih. Aku menyebutnya jalur atas dan bawah. Keduanya sama-sama enak dan relatif landai. Jalur bawah akan bertemu jalur atas setelah melewati kerimbunan cantigi gunung.

Pemandangan lebih terbuka. Kami bisa melihat Gunung Welirang dari arah sebaliknya. Tampak asap belerang mengepul di puncaknya. Lalu di sisi barat ada pegunungan Anjasmoro dengan puncaknya yang runcing. Mengedarkan pandangan lebih jauh lagi, kami bisa melihat Wilis dan Lawu dalam satu garis yang sama.

Pemandangan terbuka dari batas vegetasi cemara gunung. Kami melihat Gunung Welirang, Pegunungan Anjasmoro, Wilis, dan Lawu.

Setelah berjalan bersama-sama, kami kembali terbagi dalam dua kelompok. Di pertemuan jalur atas-bawah dekat pepohonan manisrejo, aku, Bartian, dan Indra memutuskan istirahat agak lama. Kami sepakat berjalan santai saja. Banyak memotret. Sementara Eko dan Satya melanjutkan pendakian ke puncak.

Seperti kubilang tadi. Di tahapan ketiga inilah biasanya fisik terkuras usai melahap tanjakan terjal Alas Lali Jiwo. Maka dari tiga pilihan jalur menanjak yang ada di depan mata, kami pilih paling kanan. Lebih bersahabat daripada kiri dan tengah yang terlalu terjal dan sempit.

Tanjakan tersebut bertemu di Pasar Dieng. Sebuah tempat datar dan luas. Ketinggiannya hampir sama dengan puncak Arjuno. Terdapat beberapa tugu makam atau petilasan untuk mengenang orang-orang yang wafat di gunung ini.

Kami bisa saja mendirikan tenda di sini. Jarak ke puncak sangat dekat. Kami akan dapat momen matahari terbit dan tenggelam dari tempat yang sama. Namun, tantangannya terlalu banyak. Tidak ada sumber air, angin kencang, rawan badai, dan perjalanan membawa beban penuh ke Pasar Dieng sangat berat.

Panorama Gunung Kawi (kiri) dan Gunung Semeru (kanan) yang kupotret setelah berjalan beberapa meter dari Pasar Dieng

Sekitar pukul 7.30, kami bertiga baru tiba di Pasar Dieng. Istirahat lagi beberapa menit. Minum seteguk air mineral dan menikmati pemandangan. Termasuk puncak Ogal-Agil yang sudah sekilas tampak dekat. Kami “hanya” tinggal menuruni Pasar Dieng ini dengan kondisi trek yang cukup terjal di antara batu-batu beragam ukuran.

Selanjutnya, mendaki satu bukit kecil dengan gua yang cukup muat untuk 3-4 orang di sisi kiri jalur. Persis sebelum puncak, merupakan sebuah pertemuan jalur dari arah Purwosari dan Lawang. Tidak ada petunjuk khusus yang menandai persimpangan ini. Yang penting fokus mengingat tanda-tanda alam agar tidak salah pilih jalur pulang.

Terutama saat kabut tebal atau badai. Kondisi yang juga berbahaya jika berjalan di Alas Lali Jiwo. Tak sedikit pendaki salah pilih jalur turun. Harusnya kembali ke Lembah Kidang, tapi tanpa sadar belok ke arah Cangar. Atau sebaliknya.

Petunjuk sederhana di persimpangan jalur Tretes dan Cangar menuju puncak Arjuno. Kufoto saat turun ke Lembah Kidang.

*

15 Maret 2013. Pukul 07.45. Jalur Tretes.

4 April 2013. Pukul 11.50. Jalur Purwosari.

22 Desember 2013. Pukul 06.45. Jalur Tretes.

19 April 2014. Pukul 05.00. Jalur Tretes.

4 September 2014. Pukul 06.15. Jalur Tretes.

4 April 2015. Pukul 08.00. Jalur Tretes.

25 Agustus 2019. Pukul 08.00. Jalur Lawang.

31 Mei 2021. Pukul 08.00. Jalur Tretes. Lebih lambat setengah jam dibanding Eko dan Satya.

Data di atas bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri. Aku hanya ingin menunjukkan betapa aku mencintai gunung ini. Aku mendapatkan ketenangannya, kedamaiannya, dan pelajaran berharga darinya.

Selalu ada perasaan haru dan cerita berbeda di setiap kesempatan tersebut. Berdiri di atas batu-batu jumbo yang saling menyangga, dengan bendera merah putih di antaranya. Aku serasa berada di singgasana tertinggi dalam sebuah istana kerajaan.

Melebihi Semeru sekalipun. Sungguh.

Setibanya di puncak, aku menjabat erat tangan Bartian, Indra, Satya, dan Eko. Mengucapkan selamat. Serta rasa syukur, telah membawa teman-teman ke gunung magis ini.

Kami di puncak Ogal-Agil. — Foto oleh Satya Winnie (Blog – Instagram)

Sebelum kami foto bersama, aku memilih rehat sejenak dan duduk bersandar batu-batu terbawah. Menghadap ke arah Gunung Kawi dan berlindung dari sengatan matahari.

Aku hanya ingin lekas minum secukupnya. Membuka tas. Menyiapkan bekal sarapan nasi dan rendang.

Selagi sibuk mengupas buah, kudengar drone milik Satya meraung. Melayang beberapa meter di atas kami. Aku mengalami perasaan serupa saat di Welirang kemarin.

Untuk yang kesekian kalinya, aku mendapatkan penegasan yang sama. Kami hanyalah serpihan debu di antara semesta Arjuno dan Alas Lali Jiwo-nya.

Mendadak tebersit gejolak di batinku. Kemauan untuk bergegas pulang sebelum gelap, seketika dilenyapkan angin yang bertiup. Tiba-tiba saja malas membayangkan jalur makadam durjana itu.

(Bersambung)

5 comments

  1. Ping-balik: Senyawa Alas Lali Jiwo: Melawan Diri Sendiri (9) | Papan Pelangi
  2. Ping-balik: Senyawa Alas Lali Jiwo: Pondok Ikonis itu Sudah Lama Hilang (11—habis) | Papan Pelangi
  3. BaRTZap · September 28

    Aku salut oleh detail datamu Qy, bukan hanya tanggal, tapi jamnya pun kau catat. Luar biasaaaaa hahaha.

    Bahkan, sekarang saja aku mulai lupa. Kemarin kita mendaki dari tanggal berapa ke berapa 😅

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · September 30

      Hahaha, soalnya penting buat ngukur bagi pembaca yang mungkin berniat mendaki ke gunung yang sama 🙂

      Disukai oleh 1 orang

  4. Ping-balik: Senyawa Alas Lali Jiwo: Pamit (11—habis) | Papan Pelangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.