9 Tahun Coffeetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar

Pada tanggal 2 Oktober 1884, dari rumah orang tuanya di Nuenen, Belanda, untuk kesekian kalinya Vincent van Gogh menulis sepucuk surat—ia menulis lebih dari 600 pucuk surat sepanjang 1883-1885—kepada Theodorus “Theo” van Gogh, sang adik yang seorang pedagang seni (art dealer) sukses. Selain mengucap terima kasih atas bantuan finansial Theo, saudara kandung yang sangat mendukung karier, finansial, dan kesehatan jiwanya, Vincent juga bercerita banyak soal-soal lainnya: hubungan dengan kedua orang tuanya, hal-hal seputar kritik dan kemarahannya terhadap situasi perdesaan, sosial, dan politik di Eropa (terutama Prancis dan Belanda) semasa itu.

Di antara larik-larik surat berbahasa Belanda itu (walau kadang-kadang juga fasih berbahasa Prancis maupun Inggris), ia juga membahas dua karakter fiksi dalam novel The Ladies’ Paradise karya Emile Zola. Novel ini berjudul asli Au Bonheur des Dames yang terbit tahun 1833, lalu diterjemahkan Frank Belmont pada 1883.

Dalam novel itu, ada dialog terkenal yang diucapkan karakter Octave Mouret kepada Paul Vallagnosc. Salah satu kalimat penutupnya berbunyi, “I prefer to die of passion than to die of boredom”—Aku lebih memilih mati karena gairah daripada mati karena kebosanan.

Terlepas dari persoalan kejiwaan yang dideritanya, dengan gairah (passion) yang ia miliki, pelukis beraliran Neo-Impressionisme ini mengubah sejarah seni modern dunia. Gambaran yang realistis, pemilihan warna yang kontras dan berani, serta goresan yang dramatis menginspirasi seniman-seniman sezaman dan setelahnya lebih berani mengekspresikan batin dan emosinya ke dalam lukisan.

Gaya lukisan Vincent van Gogh itu lahir dari perubahan besar dalam hidupnya tatkala singgah di Borinage tahun 1879, sebuah wilayah pertambangan batu bara di selatan Brussels, ibu kota Belgia. Bahasa Prancis yang buruk serta kepribadiannya yang kikuk dan pendiam membuatnya gagal menjadi penginjil bagi para pekerja tambang di Borinage. Di titik terendahnya, Theo mendorong sang kakak untuk menjadi seniman dan mulai menggambar, menempatkan diri untuk lebih peduli kepada kelas pekerja yang miskin lewat lukisan-lukisan bertema alam hingga rumah sederhana pekerja tambang.

Sisanya adalah sejarah. Sejarah bisa dibentuk lewat gairah atau renjana yang mampu mengubah perjalanan hidup seseorang. Renjana yang tidak muncul begitu saja, tetapi terlahir bak pisau tajam yang habis diasah. Seperti itulah yang saya lihat saat perayaan ulang tahun ke-9 di Coffeetography Coffee & Roastery, Mertoyudan, Magelang (9/8/2025).

Di balik kekhidmatan dan kemeriahan acara tasyakuran usaha kedai kopi keluarga ini, tersimpan kepingan kisah Istifari Husna Rekinagara, manajer Coffeetography Magelang, menemukan jalan untuk bersahabat dengan renjana baru, yang sebelumnya tak pernah terpikirkan seumur hidupnya.

9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
Isti memberi pidato singkat sebelum sesi potong tumpeng dalam acara perayaan usia ke-9 Kedai Coffeetography Magelang. Sebuah ‘milestone’ yang mungkin tidak pernah terbayangkan olehnya. Foto: Rifqy Faiza Rahman

* * *

Selain Magelang, cabang lain Coffeetography ada di Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, yang dikelola oleh Chaesary Husna Rekinagara, kakak Isti. Berbeda dengan kedai Jogja yang berbentuk joglo khas Jawa, Coffeetography Magelang hanya menempati dua slot dalam bangunan ruko dua lantai di beranda kompleks perumahan Riviera, Kalisari, Mertoyudan. Sebuah kedai kopi yang berdampingan dengan roastery sekaligus studio musik.

Secara fasad, kedai cabang Magelang mungkin tidaklah estetik bagi sebagian orang, atau menurut istilah Arief Yahya, Menteri Pariwisata era Jokowi, instagramable. Sementara di Jogja bahkan Magelang, kalau kita mengetik kata kunci tersebut di mesin peramban, niscaya peta Google Maps akan penuh sesak dengan daftar kedai kopi estetik dan instagramable. Tidak ada yang salah dengan itu, tetapi Isti menyadari, jalan bisnis Coffeetography adalah specialty coffee. Nilai lebihnya terletak pada budaya ngopi sebagai wadah edukasi, sekaligus perpanjangan tangan petani-petani kopi lokal berkualitas seantero Magelang.

Ada masanya Coffeetography sempat ‘limbung’ karena arah bisnis yang kurang tegas dan jelas. Ini adalah masa-masa di saat hati dan fokus Isti belum sepenuhnya untuk Coffeetography. Ada pekerjaan-pekerjaan konsultan yang tak kalah penting dijalani, terutama medio 2021-2023. Para pelanggan setia pun bertanya-tanya, ke mana Coffeetography yang dulu? Yang sejak berdiri telah menancapkan diri sebagai salah satu oase baru industri kopi di Magelang?

“Sebagai seorang manajer kedai, aku memang merasa arahnya (Coffeetography) nggak jelas. Karena satu, aku nggak passionate di kopi. Dua, nyambi kerja. Tiga, aku nggak ngerti bisnis,” tuturnya, “Terus aku juga nggak paham value Coffeetography itu sendiri. Jadi, ya, sudah (ambyar).”

Tapi dukungan keluarga dan orang tercinta rupanya memang jadi senjata terampuh untuk menguatkan mental dan menata ulang tujuan hidupnya. Studi tahun 2014 oleh Joshua Jackson dan Brittany Solomon dari Departemen Ilmu Psikologi dan Otak Washington University in St. Louis, mengungkap fakta bahwa orang-orang yang menikah dengan pasangan yang tepat akan membantu meningkatkan kualitas hidup dan rumah tangga yang dibangun, bahkan yang tak kalah penting, kepuasan dan kenikmatan dalam melakukan pekerjaan maupun bisnis yang dijalankan. Joshua, asisten profesor psikologi di Fakultas Seni & Sains kampus tersebut, juga bilang kalau karakter dan kepribadian pasangan sangat memengaruhi satu sama lain.

Maka, bisa dibilang, menikah dengan Muhammad Bima Luphdika pada semester kedua tahun 2022 semacam menjadi titik balik pertama bagi Isti. Bima bukan sekadar pasangan hidup, tetapi juga partner bisnis. Ia memiliki teman untuk bicara dan berunding, menilai baik-buruk langkah-langkah yang akan ditempuh di hari-hari berikutnya. Perlu hampir 1,5 tahun agar Coffeetography kembali ke akar, menggamit pelanggan setianya untuk kembali singgah dan duduk lebih lama.

“Mulai awal Januari 2024, identitas Coffeetography mulai kembali, arah ‘kapalnya’ sudah benar,” ungkap Isti. Dari yang sempat ‘krisis identitas’ karena dinamika bisnis pada umumnya, menjadi terlahir kembali, melanjutkan rutinitas seperti uji cita rasa kopi (cupping) dari biji-biji kopi yang dibawa petani lokal, yang juga menjadi bagian dari edukasi kopi itu sendiri sesuai visi awal Coffeetography.

Isti mengatakan, “Setidaknya aku bisa bikin Coffeetography didatangi karena kopinya, bukan karena aku, bukan karena siapa baristanya, bukan karena tempatnya yang instagramable, bukan itu. Orang-orang datang karena (memang) kopinya enak.”

Sepertinya, begitulah poin utamanya. Menjadi diri sendiri, berkarya dengan jujur, dan tidak terlalu latah untuk ikut arus.

  • 9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
  • 9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar

* * *

Di tahun kesembilan, Isti, Bima, dan Coffeetography menunjukkan betapa renjana dan cara-cara untuk memanifestasikan wujudnya menjadi nyata, terbukti bisa diperjuangkan dan bisa diterima khalayak.

Dalam acara tasyakuran di serambi kedai, mereka merilis Pancaterra, sebuah produk ‘flagship’ berupa koleksi biji kopi dari lima lereng gunung dan proses pascapanen berbeda di Magelang: Pegunungan Menoreh (honey), Gunung Sumbing (natural anaerob), Gunung Telomoyo (full wash), Gunung Merbabu (natural anaerob), dan Gunung Merapi (honey anaerob). Saat prosesi potong lima buah tumpeng—simbolis lima gunung yang mengelilingi Magelang—petani dari masing-masing daerah (atau yang mewakili) dihadirkan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam budi daya kopi.

Kalau boleh saya bilang, sebagai produk unggulan, Pancaterra adalah versi ‘upgrade’ dari kemasan flat bottom yang biasa dijual sampai sekarang. Lima origin (asal) kopi yang bisa diseduh dua kali (single portion), masing-masing seberat 24 gram, dikemas dalam bungkusan kubus lipat (foldable box) yang unik. Boks tersebut ketika dibuka akan seperti membaca zine berisi karakter rasa kopi dan sekelumit cerita di balik kehadiran biji-biji tanaman dari famili Rubiaceae—yang menurut sejarah ditemukan bangsa Etiopia ribuan tahun silam. Tak lupa tertera tiga komitmen yang menyertai: local, traceable source, sustainably grown. Desain dan ilustrasi kemasan Pancaterra yang segar ini dibuat oleh Kurni.

“Aku ngotot pengin ngerayain ulang tahun (Coffeetography) ke-9. Aku nggak mau kalau nggak ngapa-ngapain, tapi nggak mau juga (merayakan) ulang tahun dengan lomba-lomba. Aku pengin melakukan sesuatu yang lebih meaningful begitu,” ucap Isti mengulang pernyataannya kepada Bima. Jika sebelumnya pernah membuat film pendek ANTARASA, kali ini ia ingin sesuatu yang beda dan benar-benar baru. “Tahun lalu kita sudah ngabis-ngabisin duit. Tahun ini kita maunya bikin duit.”

Di tengah-tengah pencarian, tiba-tiba muncul ‘bohlam menyala’ di atas kepala Bima. Saat itu ia bilang, “Kan ada lereng gunung ini, lereng gunung itu, dan lereng gunung lainnya. Ya, sudah kita kumpulkan saja kopi satu-satu dari lima lereng gunung di Magelang.”

Dan lahirlah Pancaterra. Sebuah nama sekaligus konsep baru. “Panca itu lima, Terra (dalam bahasa Latin) berarti tanah atau bumi. Filosofinya lima kopi dari lima gunung atau pegunungan yang mengelilingi Magelang,” jelas Bima.

  • 9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
  • 9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar

Meskipun Isti dan Bima mengaku ide Pancaterra muncul secara tiba-tiba di kepala mereka, sesungguhnya menurut saya manifestasi memiliki cara kerjanya sendiri. Tidak sesederhana kita memanifestasikan mobil-mobil mewah impian, lalu cling! muncul begitu saja di depan mata. Tidak sesimpel itu, karena kita bukan penyihir atau nabi. Ada kolaborasi peran pikiran bawah sadar, strategi mengatur persepsi, afirmasi, dan tindakan-tindakan tepat secara nyata untuk sampai ke tujuan, yang kelak kita sadari ternyata lebih optimal sebagai “kebutuhan”, bukan sekadar “keinginan”. Bahkan, adakalanya ngotot (dalam arti positif) juga penting, merepresentasikan sebuah kegigihan atau usaha untuk tidak pernah menyerah.

Terri Kozlowski, seorang praktisi dan instruktur kesehatan mental dan spiritual asal Amerika Serikat, mengungkapkan kegigihan ide berpengaruh pada penguatan passion. “Kegigihan berarti memiliki visi yang penuh semangat ketika kita menyerah pada suara-suara negatif, baik dari luar maupun dalam diri kita, yang menghalangi kita untuk mencapai tujuan kita. Kegigihan adalah tentang kemampuan untuk terus maju dengan mimpi dan keinginan yang kita miliki.”

Kegigihan Isti pulalah yang akhirnya mampu merayu seorang Eko Purnomowidi, untuk bersedia datang ke Magelang. Pendiri kolektif Klasik Beans dan aktivis konservasi di kawasan Gunung Puntang, Jawa Barat, itu menjadi pembicara kunci saat acara tasyakuran dan peluncuran Pancaterra.

* * *

9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
Eko Purnomowidi (kanan) didampingi Bima saat mengisi acara perayaan. Ia memberi banyak pencerahan tentang jati diri Magelang dan kopi-kopi yang perlu dirawat selaras dengan mengkonservasi alam. Foto: Rifqy Faiza Rahman

Lagi-lagi, kehadiran ‘bintang tamu’ seperti Eko Purnomowidi, menurut saya, juga bukan peristiwa yang tiba-tiba. Pun cara komunikasi yang terjalin antara Isti, Bima, dan kru Coffeetography dengan salah satu tokoh penting industri kopi Nusantara itu. Mereka ‘mengisi’ ruang antara manifestasi dan tujuan dengan melakukan perjalanan ke World of Coffee 2025 (WOC), pertengahan Mei 2025.

Festival kopi dunia itu berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Tanah Abang, Jakarta Pusat. Festival ini bersejarah, karena pertama kali digelar di salah satu negara produsen kopi terbesar dunia (Indonesia peringkat keempat setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia). Jakarta menjadi kota pertama di Asia yang jadi tuan rumah. Sebelumnya, WOC lebih sering dihelat di negara-negara konsumen kopi.

Di antara stan-stan para pegiat kopi, instalasi Klasik Beans besutan Eko yang tampil beda—memakai bambu alam, sangat nyeni dan mencolok—memikat hati para penggawa Coffeetography. Komunikasi lebih lanjut terjalin jarak jauh, sampai akhirnya Eko ikut ngariung, duduk beralaskan tikar yang sama dengan keluarga, kolega, pelanggan loyal kedai maupun tamu-tamu undangan di acara tasyakuran sore itu.

Di sisi lain, latar belakang, kiprah, dan dedikasi Eko di dunia kopi juga memenuhi ‘kriteria’ nilai-nilai yang sedang diusung Coffeetography. Sejak 2009, ia menggandeng petani kopi setempat untuk berkomitmen pada budi daya kopi secara berkelanjutan, organik, berkualitas, berorientasi konservasi, dan berbasis kearifan lokal. Menganut sistem agroforestri, Klasik Beans juga menanam banyak varietas pohon endemik dan pohon buah untuk menjaga kelestarian hutan.

Saya baru pertama ketemu saat itu, ketika saya menyengaja duduk di sampingnya di awal acara. Sosoknya mudah dikenal, hangat, dan dalam pandangan saya, ada jiwa ekosufisme di dalam dirinya. Semacam kesadaran ekologis yang menjadi fundamental di setiap keputusan-keputusan bertindak sehari-harinya. Untuk pergi ke Magelang saja, Eko mengaku sempat bimbang memutuskan moda transportasi yang akan dinaiki.

“Naik mobil sendiri lebih praktis, sih, tapi nanti saya bingung menghitung berapa jumlah pohon yang harus saya tanam untuk menebus emisi dan jejak karbon yang dihasilkan selama perjalanan,” renungnya. Fleksibilitas yang didapatkan dari penggunaan kendaraan pribadi rupanya menyebabkan variabel perhitungan emisi karbon lebih banyak. Ia akhirnya memilih kereta api ke Yogyakarta, yang jarak dan durasinya relatif pasti, lalu lanjut perjalanan darat ke Magelang.

Prinsip sadar ekologis itu yang Eko coba tularkan kepada para hadirin. Lewat tiga lembar kertas HVS putih, Eko menunjukkan tiga peta sederhana yang ia gambar begitu rapi dan cukup presisi. Ia baru membuatnya hari itu juga, beberapa saat sebelum acara mulai. Tiga peta ini menggambarkan pandangannya terhadap sebaran kopi lokal berdasarkan indikasi geografis dan tata ruang alam Magelang yang semestinya.

9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
Interpretasi Eko terhadap filosofi kopi dan tata ruang alam Magelang, serta Pancaterra berdasarkan indikasi geografis yang mencakup jalur sungai, gunung, dan lingkungan yang membentuk peradaban Magelang saat ini. Foto: Rifqy Faiza Rahman

“Leluhur kita mampu memberi warisan konsep zonasi hutan: ruang sosial, kebun, hutan tutupan, hutan larangan, dan puncak gunung,” terangnya. Meski masih bertahan di beberapa daerah yang dikelola masyarakat adat dengan tradisi yang kental, seperti sebagian Pulau Jawa dan Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua, konsep zonasi alam telah banyak ditinggalkan. Modernitas dan kebutuhan ekonomi menuntut tingkat produktivitas tinggi tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, padahal ketahanan produksi juga penting. Ia mengingatkan agar tidak main-main dengan alam, “Bukan kita yang menjaga bumi, tetapi bumi yang menjaga kita.”

Oleh karena itu, menurut Eko, kita perlu punya kesadaran berbagi ruang dengan makhluk hidup lainnya. Kesadaran ekologis itu, alih-alih memberi pupuk kimia sintetis, di antaranya ‘memberi peluang hidup’ pada tanaman-tanaman pendamping di sekitar kopi. Terutama pohon-pohon endemik yang tidak hanya menjadi naungan, tetapi juga menghasilkan nutrisi alami yang dibutuhkan kopi—tiga unsur hara makro, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K).

Penjelasan Eko membawa kita, terutama orang-orang Magelang, membaca lebih jauh tentang tempat tinggalnya sendiri. Gunung apa saja yang membentuk wilayah Kota dan Kabupaten Magelang, sungai apa saja yang bertemu di satu titik (kawasan Borobudur), dan ke mana saja aliran air itu berasal dan mengalir. Dan kopi, termasuk penanaman dan penamaannya (origin), semestinya mengikuti indikasi geografis, bukan administratif.

Eko kemudian mengajak para pelaku dan pegiat kopi di Magelang lebih passionate (bergairah) dalam memahami ruang dan waktu yang tumbuh membentuk kota ini. “Jadi kalau kita belajar ruang, memahami ruang, namanya memahami jati diri (salira) kita yang tinggal di sini.”

Bagi Eko, kopi lebih dari sekadar tumbuhan yang diolah menjadi minuman. Kopi juga menjadi senjata konservasi dan medium advokasi untuk merespons (atau melawan) setiap upaya-upaya serakah yang ingin merusak alam. “Tidak mungkin bisa membuat kopi yang enak tanpa (usaha) mengkonservasi alam,” tegasnya.

Perilisan Pancaterra tampaknya menjembatani sebuah pesan untuk mempertajam nilai-nilai konservasi, keberlanjutan, dan kepedulian pada potensi lokal. Pancaterra serupa nutrisi tambahan yang memperkuat fondasi Coffeetography. Ada misi dan nilai lokalitas yang ingin dijaga. Di hari kedua perayaan (10/8/2025), sesi potluck, menyeduh kopi, dan tur kolaboratif bersama Go4Tour ke kebun kopi milik Ismoyo di lereng Pegunungan Menoreh, tepatnya Dusun Kerug Batur, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, melengkapi ikhtiar Coffeetography untuk selalu yakin kepada salira-nya.

Kegiatan tur kebun di hari kedua perayaan. Isti menanam bibit pohon gayam sebagai peneduh sekaligus mengkonservasi mata air (kiri), serta kegiatan makan dan minum kopi bersama di area kebun kopi milik Ismoyo. Foto: Rifqy Faiza Rahman

* * *

Bagi sebagian orang, sembilan tahun mungkin waktu yang terbilang masih pendek. Tapi bagi Isti, sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Angka-angka yang bertumbuh bahkan sejak tahun pertama, yang bisa jadi tak ia sangka-sangka masih bertahan sampai sekarang, menyentuh tahun ke-9 jelas sebuah pencapaian yang sangat berarti.

Saya tentu tidak memiliki kapasitas menilai alasan-alasan teknis maupun strategi bisnis yang membuat Coffeetography bertahan sampai sekarang. Namun, jika saya boleh menyebut satu hal, walaupun ini mungkin lebih bersifat asumsi dan spiritual, ialah kepercayaan pada keberkahan; yang diharapkan dalam doa-doa yang diembuskan pada lima tumpeng sore itu. Nada bergetar yang keluar dari mulutnya di pengujung acara adalah petunjuk terang bahwa ia tidak sedang mengada-ada.

Mungkin keberkahan itulah yang menghimpun tangan-tangan terampil dan membawa Coffeetography menyentuh hari tulisan ini tayang, hari ke-3.468, dan masih akan berjalan sampai entah kapan. Meminjam pernyataan Arif, barista dan pemilik kedai slow bar Callme Coffee Roaster Magelang, kunci dari lestarinya kopi Magelang adalah apresiasi dan kolaborasi.

Senada, Eko pun menekankan pentingnya belajar prinsip dasar dari pohon kopi sebelum terjun ke industri. Kopi tidak bisa tumbuh sendirian. Ia butuh air dan nutrisi alami agar kelak bisa dinikmati. Kopi Nusantara tidak sekadar bicara gaya hidup, tetapi juga merawat ekosistem yang harus harmonis antara manusia dengan alam. “Begitu pun pengetahuan, kesadaran alam, hingga hulu-hilir kopi pun perlu kolaborasi, bukan bersaing,” Eko mengingatkan.

9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
Foto bersama usai prosesi potong tumpeng. Dari kanan: Chaesary (kakak kandung Isti dan manajer Coffeetography Jogja), Bima, Isti, dan dua petani kopi lokal Magelang, yaitu Rinto (Gunung Sumbing, Kaliangkrik) dan Lukman (Pegunungan Menoreh, Borobudur). Petani dari tiga lereng gunung lainnya, Poni dan Slamet (Merapi), Handoko (Merbabu), dan Yasyin (Telomoyo) berhalangan hadir. Foto: Rifqy Faiza Rahman

Kiprah Isti dan Coffeetography sebenarnya membuktikan satu hal penting, bahwa menjadi ahli dan spesialis itu tidak selalu karena bakat alam atau bakat dari lahir. Peribahasa ‘alah bisa karena biasa’ tak akan pernah usang sebagai pedoman hidup. Ia lahir dari ketekunan, proses panjang, latihan tiada henti, dan yang tak kalah krusial: dukungan orang-orang terdekat. Orang-orang di dalam keluarga yang hangat dan selalu percaya akan selalu ada kemudahan di balik setiap kesulitan. Pun orang-orang yang bernapas di antara buah-buah kopi yang ranum di lereng-lereng gunung Magelang, yang tak perlu lagi khawatir masa depan mereka akan seperti apa.

Saat tulisan ini terbit, itu berarti sudah lewat lebih dari lima bulan sejak acara perayaan. Sangat terlambat untuk disebut sebagai sebuah laporan kegiatan, tapi kesibukan pekerjaan kadang-kadang ampuh sebagai dalih. Namun, semoga Isti memaafkan saya. Seperti halnya saya yang memaklumi perubahan jalan hidup dari seorang sarjana teknik geologi yang mulanya tidak suka ngopi, lalu menerima mandat orang tua untuk mengurus kedai kopi. Dari yang dunianya hanya sebatas senang memasak dan membuat kue, lalu memasuki semesta yang mengandalkan kepekaan palet rasa dalam lidah, indra penciuman yang tajam, dan tentu saja manajemen usaha di tengah industri kopi yang amat ketat dan rumit.

Ia sendiri tidak percaya akan melalui jalan hidup seperti ini. Tapi di waktu-waktu mendatang, titel CQI Q-Arabica Grader dan SCA CVA Cuppers akan lebih familiar kita lihat di belakang namanya, daripada gelar akademik yang telah ia raih di ‘kehidupan sebelumnya’. Diakui atau tidak, lisensi internasional tersebut akan membuat kita percaya pada kapabilitasnya menguji biji-biji kopi specialty arabika yang berkualitas, berkarakter, dan terdistribusi dengan baik dari hulu ke hilir. Bahkan ia pun tampaknya akan mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan awam, “Kopi apa yang aman untuk lambung saya?”

Pada akhirnya, dunianya pun bagian dari dunia ayahnya, yang meletakkan dasar bisnis kopi berbasis nilai dan spesialisasi unik, yang kemudian diterjemahkan menjadi Coffeetography. Dalam dimensi waktu sang ayah, kopi yang sebelumnya sempat jadi momok karena kerap bikin sakit perut, lambat laun menjadi sahabat setelah mengerti racikan kopi yang enak dan aman di lambung. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Jika ada yang menilainya sebagai sebuah privilese, selama tujuannya baik dan berguna, justru akan memberi dampak yang jauh lebih besar.

9 Tahun Coffetography Magelang: Pancaterra dan Ikhtiar-Ikhtiar Kembali ke Akar
Isti dan Bima ikut menonton video dokumenter Pancaterra di akhir acara. Perjalanan membersamai amanat alam dan harapan petani lokal adalah perjalanan panjang tanpa kenal garis finis. Semoga keduanya masih betah menempa Coffeetography melaju lebih jauh dari yang telah dicapai saat ini. Foto: Rifqy Faiza Rahman

Isti mungkin tidak—atau belum (?)—mengikuti jejak ayahnya sebagai akademisi, tetapi menjemput dunia baru yang telah disediakan untuknya. Dunia yang mungkin tiada pernah disangka akan menjadi renjana di dalam hidupnya. Dan Bima, tugas besarnya hanya satu, memastikan jalur dan arah Isti agar senantiasa ingat kepada akar, kepada apa dan bagaimana pun tujuan hidup yang sudah diperjuangkan sejauh ini. Kalau kata Siddharta Gautama, “Your purpose in life is to find your purpose and give your whole heart and soul to it—Tujuan hidupmu adalah menemukan tujuanmu dan mencurahkan seluruh hati dan jiwamu untuk itu.”

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Coffeetography. Selamat melanjutkan perjalanan memuliakan kopi-kopi Magelang dan Nusantara, yang semoga tidak akan mengenal kata jera, hanya sesekali reda tatkala letih dan ujian hidup mendera seperti biasanya.

Jika harus menutup catatan panjang ini dengan sedikit dramatis, saya memilih untuk memberi dua pertanyaan kepada Coffeetography. Apa yang akan dilakukan di perayaan tepat satu dekade nanti? Adakah Pancaterra-Pancaterra berikutnya? (*)

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.