Wisatawan berdesakan di sunrise point, gardu pandang Pananjakan 1 Cemoro Lawang, Probolinggo. Di sini adalah salah satu spot terbaik menyaksikan sunrise Gunung Bromo dan lautan pasirnya dari atas bukit.

Perjalanan: Ekspektasi dan Realita

Wisatawan berdesakan di sunrise point, gardu pandang Pananjakan 1 Cemoro Lawang, Probolinggo. Di sini adalah salah satu spot terbaik menyaksikan sunrise Gunung Bromo dan lautan pasirnya dari atas bukit.

Saya tercenung cukup lama membaca artikel yang ditulis Kanika Saxena di Travel Triangle. Berulang kali menggerakkan scroll mouse naik-turun.

Artikel yang diterbitkan 15 Februari 2016 lalu ini berisikan tentang ekspektasi dan realita dalam traveling. Ia menampilkan 16 foto lokasi wisata terkenal dunia. Mulai dari Tembok Besar China hingga Stonehege. Foto-fotonya mungkin sudah ramai di berbagai jejaring media sosial. Sebagian malah dikemas menjadi meme yang lucu sekaligus menggetarkan. Membandingkan harapan (ekspektasi) dan kenyataan (realita).

Kemudian saya tersenyum membaca dua komentar dari pengguna Facebook di bawah artikel tersebut.

Lanjutkan membaca “Perjalanan: Ekspektasi dan Realita”
Akbar berjalan di atas pasir putih Pantai Sendiki Malang

Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri

Garis pantainya cukup panjang. Namun tak sepanjang Pulau Merah di Banyuwangi. Air laut bergradasi warna biru gelap dan tosca semakin berombak. Hendak pasang. Tak bosan menerjang pesisir yang berpasir putih. Padahal langit biru di angkasa tenang-tenang saja. Seperti Pulau Sempu di sisi barat yang diam dan tegar.

Lanjutkan membaca “Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri”

Plawangan Sembalun (2.639 mdpl), gigiran punggungan yang datar memanjang. Tempat camp terakhir sebelum puncak Gunung Rinjani.

Halimun Terselak di Plawangan Sembalun

Plawangan Sembalun (2.639 mdpl), gigiran punggungan yang datar memanjang. Tempat camp terakhir sebelum puncak Gunung Rinjani.
Plawangan Sembalun (2.369 mdpl), gigiran punggungan yang datar memanjang. Tempat camp terakhir sebelum puncak Gunung Rinjani.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih sedikit. Sudah 4 jam perjalanan dari Bawak Nao, desa tempat kami memulai trekking. Kami tiba di sebuah pos ekstra berupa gazebo sederhana beratap seng yang serba hijau. Pos peristirahatan di antara Pos II Tengengean dan mendekati Pos III Padabalong.

Lanjutkan membaca “Halimun Terselak di Plawangan Sembalun”
Sunrise dari tepi Kaldera Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo. Tampak Gunung Semeru di kejauhan.

Ayo, ke Taman Nasional Sekarang Juga!

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyebut bahwa saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat beranjangsana ke Labuan Bajo, dan khususnya Taman Nasional Komodo. Walau cuma trekking melihat Komodo, tanpa menyelami bawah lautnya. Walau saya hanya sampai di “pintu”-nya Nusa Tenggara Timur saja. Begitulah impresi pertama tentang Indonesia bagian timur.

Lanjutkan membaca “Ayo, ke Taman Nasional Sekarang Juga!”

Lutfi di kejauhan tampak berjalan meninggalkan kawasan puncak Welirang

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)


Alarm ponsel berdering pukul 2.00 dinihari. Hari ketiga pendakian kami, 5 April 2013, sudah terlewat dua jam. Harusnya kami terbangun saat alarm pertama berdering, pukul 00.30 dinihari. Harusnya pukul 2.00 ini kami sudah berjalan ke puncak Welirang. Harusnya rencana perjalanannya seperti itu.

Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)”
Lutfi (kiri) dan Dani sedang beristirahat dalam perjalanan ke puncak di seonggok pohon cemara gunung yang tumbang, di kawasan Alas Lali Jiwo.

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)


Rombongan pendaki gabungan asal Jakarta, Bandung, Manado itu sedang asyik bercanda di tengah istirahatnya. Sebagian berdiri, sebagian duduk di atas tanah berundak dengan kemiringan sedang. Di dalam rimba rapat Alas Lali Jiwo nan teduh. Tak jauh di bawah patok perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Kami bersua dan saling menyapa rombongan pendaki yang seluruhnya laki-laki itu. Baru saja 10 menit berjalan dari Pasar Dieng. Setelah turun dari puncak Ogal-Agil.

Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)”
Dani berjalan di antara batu-batu besar yang tercoreng vandalisme di Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)


Waktu menunjukkan pukul 16.40 WIB. Puncak Candi Sepilar, tempat mistis dengan sembilan arca yang mengawal arca para Pandawa moksa pun sudah jauh terlewati. Sudah hampir empat jam kami berjalan dari Mangkutoromo. Tapi tak jua menemukan Jawa Dwipa -yang seharusnya hanya berjarak 1,5 jam menurut rencana perjalanan-, apalagi tempat camp yang kami inginkan sesuai rencana awal. Tempat datar yang terletak sedikit di atas pertigaan jalur Purwosari-Lawang. Tapi bahkan kami pun belum sampai pada pertigaan jalur tersebut.

Sepertinya kami salah mengambil jalur. Kami sempat ragu dengan percabangan setelah Candi Sepilar. Kami memilih jalur ke kanan yang langsung menanjak daripada ke kiri yang agak menurun lalu menanjak kembali.

Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)”
Pak Pono di kejauhan. Sedang mencari posisi yang sinyalnya stabil untuk menelepon kawannya.

Air Terjun Gua Kelelawar (Coban Goa Lowo) Malang

Kami sedang dalam perjalanan kembali ke tempat parkir atas. Menapaki jalan berlapis cor dan tanah yang berselang-seling. Hanya selebar dua sepeda motor berjajar dan agak licin. Menanjak, berliku, dan menguras tenaga. Pak Pono berjalan paling depan, diikuti oleh Eko dan saya.

Di tengah napas memburu, tebersit sebuah ide dalam pikiran. “Bagaimana kalau coban yang tadi, dinamakan Coban Goa Lowo, Pak? Air Terjun Gua Kelelawar?” Saya mengusulkan.

Langkah kami bertiga langsung terhenti. Kami saling berpandangan. Dengan tetap memanggul kayu batangan di bahu kanan, Pak Pono mengangguk lalu bertanya balik kepada saya, “Ngunu ae (begitu saja) ya, Mas?”

Lanjutkan membaca “Air Terjun Gua Kelelawar (Coban Goa Lowo) Malang”

Asa Dari Tepi Kaldera

Masih tiga jam lagi menuju tengah malam.

Lampu dekat dan lampu jauh motor bergantian dihidupkan. Menyesuaikan kontur jalan beraspal penuh lubang yang tertutup abu. Lampu dekat untuk jalan datar. Lampu jauh untuk jalan menanjak. Keberadaan helm pun menjadi dilema. Kaca ditutup, pandangan menjadi kurang jelas. Kaca dibuka, abu yang mengandung silika tak segan mengganggu pandangan dan pernapasan. Solusinya pun sederhana. Melajukan motor perlahan, percaya diri pada intuisi. Dan juga sistem buka-tutup pada kaca helm pun berlaku.

Lanjutkan membaca “Asa Dari Tepi Kaldera”
Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Teman Saya di Belakang

Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru
Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Tomi membuka tas ransel yang ia bawa. Mengeluarkan sejumlah biskuit, roti tawar, dan sebotol air mineral 1,5 liter. Saya, bersama Mustofa dan Figur yang sedang asyik memotret, segera menghampirinya. Ikut merapat, sudah waktunya sarapan. Di atas tanah berbatu dan berdebu, di tengah embusan angin puncak yang cukup kencang dan dingin, kami menikmati sarapan ringan ini dengan nikmat.

Di tengah sarapan, dari arah jalur pendakian, tiba-tiba mendekat sekelompok pendaki. Empat orang laki-laki, seorang perempuan. Hanya tas selempang dan kamera yang melekat di antara tubuh mereka. Langkah mereka agak gontai. Seorang di antaranya mendekati kami.

“Permisi, Mas,” Sapa perempuan bermata sipit dengan pakaian serba hitam dan bersepatu gunung warna cokelat.

“Ya, Mbak?” Jawab kami berempat serempak.

Lanjutkan membaca “Teman Saya di Belakang”