Peserta parade dari Kabupaten Kudus

#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)

Saya pikir sedang ada pertemuan lintas agama. Ada ulama berpakaian serba putih, mewakili umat Islam. Ada pendeta, bhiksu, bhiksuni, resi, brahmana, lalu disusul di belakangnya orang desa berkebaya. Ternyata bukan. Konsep demikian mengusung semangat pluralisme. Mengingatkan saya tentang sejarah salah satu anggota dewan Wali Songo, Sunan Kudus. Bagaimana dulu ia memikat pribumi setempat terhadap agama Islam. Dakwahnya santun, halus, tanpa memberangus kebudayaan setempat yang saat itu mayoritas beragama Hindu.

Terjadi akulturasi budaya, yang bukti sejarahnya bisa kita lihat di arsitektur menara Masjid Kudus. Perpaduan budaya Hindu, Buddha, Cina, Persia dan Islam.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)”

Sudut salat satu family room dalam area Pondok Wisata, Umbul Sidomukti

#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)

Tampak dari luar sejumlah kamar berukuran besar berderet, bertingkat dengan berbagai macam corak. Jendelanya berdimensi lebar, memanjakan penghuni kamar untuk leluasa melihat pemandangan di luar. Isi kamarnya pastilah lapang, diisi antara 4-8 orang dalam berbagai varian bergantung kapasitas. Khusus untuk keluarga, baik kecil maupun besar.

Saya sendiri belum berkeluarga. Jadi kalaulah hari itu harus menginap, saya memilih tidur di dalam tenda saja di camping ground yang disediakan. Melihat Gunung Ungaran yang berperawakan lebar dan nampak dekat, saya jadi rindu berkelana di alam bebas. Tidur beralas matras dan berselimut sleeping bag. 

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)”

Seberkas cahaya pagi di langit Kota Lama

#VisitJateng: Kota Semarang Membuka Hari (1)

Saya baru selesai salat Subuh di masjid Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Semarang. Suasana di jalan raya depan rumah sakit ini masih tetap seperti tadi. Dua puluh menit lalu, saat saya baru turun dari bus patas di seberang jalan masuk menuju Terminal Terboyo. Masih tetap berseliweran truk-truk ekspedisi, bus keluar-masuk terminal, taksi-taksi terparkir di bahu jalan, dan udara Subuh yang cukup sejuk. Jarum arloji kompak menunjukkan angka yang bertafsir pukul lima tepat.

Seorang tukang ojek berusia paruh baya menghampiriku. Belum sempat ia membuka tawaran, saya keburu menyebut tujuan saya. “Simpang Lima ya, Pak. Mau sarapan dan mandi di sekitar sana”. Saya memboncengnya, lalu ia memutar haluan dan langsung menggeber gas. Melaju ke arah kota dengan kecepatan tetap, kisaran 40 km/jam. Santai sekali.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Kota Semarang Membuka Hari (1)”

Teman seperjalanan sedang asyik berswafoto

(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul

Saya menuruni tebing sebentar, menghampiri ketiga rekan perjalanan saya, yang masih asyik berfoto ria. “Eh, kalian nggak ke atas kah? Ke Coban Papat?” Ketiganya menoleh. Eko, menyahut pertanyaan saya, “Awakmu wes merono ta?” Saya mengangguk, tadi sudah menyempatkan pergi terlebih dahulu ke Coban Papat sendiri.

Lanjutkan membaca “(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul”

Pembukaan acara buka puasa bersama oleh HRD Coordinator dan GM Secretary Hotel Horison Ultima Malang

Buka Puasa Bersama di Hotel Horison Ultima Malang

Sore itu, Selasa, 30 Juni 2015. Sekitar 45 menit sebelum kumandang azan Magrib mengudara. Saya sudah meluncur dengan sepeda motor kesayangan menuju Hotel Horison Ultima Malang. Langit sedang mendung namun tak turun hujan. Angin sore sudah cukup dingin berembus di Kota Malang.

Saya tiba sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Sore itu saya hadir memenuhi undangan buka puasa bersama. Sekaligus mencicipi menu kuliner Ramadan khas Hotel Horison Ultima Malang. Di Malabar Restaurant, sudah menunggu beberapa tamu undangan serupa. Kebanyakan dari media cetak dan radio.

Lanjutkan membaca “Buka Puasa Bersama di Hotel Horison Ultima Malang”

Sisi luar Istana Tamalate

Saya Juga Orang Jawa

Saya melangkah keluar dari kompleks Istana Tamalate (Balla Lompoa). Berjalan dengan langkah agak tergesa di luar sisi sayap kanan istana. Tak ada niat dikejar waktu, tetapi panasnya siang di kota Gowa membuat tetesan keringat tak sepadan dengan jarak tempuh saya berjalan.

Kembali bertemu jalan raya tempat pete-pete (sejenis angkutan kota) yang saya tumpangi saat berangkat melintas. Lalu berbelok ke kiri, ke arah kota Makassar. Berjalan cepat di atas trotoar yang keras. Suara klakson bertalu-talu, tak peduli kendaraan apakah itu. Pete-pete merah pun dengan percaya diri membunyikan klakson dan musik sama lantangnya. Ada “panggung” berjalan, pikir saya.

Lanjutkan membaca “Saya Juga Orang Jawa”

Sunset di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi

10 Tempat Pilihan Saya Untuk Menyaksikan Sunset Dari Tepi Laut

Sebenarnya saya harus jujur, pengalaman dan perjalanan berburu senja dari tepi laut masih kurang. Jadi, mengumpulkan sepuluh tempat terkait tidaklah mudah. Jelas terbatas, karena semua lokasi dan foto yang ada merupakan pengalaman saya pribadi. Terbatas pada beberapa tempat yang pernah dikunjungi.

Tetapi, selanjutnya harus saya syukuri ketika akhirnya didapat sepuluh tempat yang melengkapi daftar yang dibuat. Sepuluh tempat ini bukanlah pilihan mutlak. Yang patut diingat adalah datanglah pada saat yang tepat. Pada saat semesta mendukung.

Dan inilah “10 Tempat Pilihan Saya Untuk Menyaksikan Sunset Dari Tepi Laut”. Tentu, masih di Indonesia.

Lanjutkan membaca “10 Tempat Pilihan Saya Untuk Menyaksikan Sunset Dari Tepi Laut”
Lautan awan puncak Mahameru

Sriwijaya Inflight Magazine Edisi Juni 2015: Selamat Pagi, Mahameru!

Tak bisa dipungkiri, Gunung Semeru dengan puncaknya yang bernama Mahameru merupakan gunung  idaman bagi mayoritas pendaki Indonesia. Statusnya sebagai tanah tertinggi di Pulau Jawa menjadikannya ramai dikunjungi para pendaki demi kebanggaan individu maupun golongan. Dalam pendakian untuk yang keempat kalinya ini, saya membawa misi lebih dari sekadar gengsi. Menyaksikan matahari terbit dari Mahameru untuk yang pertama kalinya adalah hadiah terindah yang tak akan pernah saya lupakan.

Lanjutkan membaca “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi Juni 2015: Selamat Pagi, Mahameru!”

Stasiun Pasar Senen, Jakarta

#BloggerWalking: Kepulangan (Bagian 10-Selesai)

Selasa pagi. Barang-barang saya sudah terkemas satu-persatu. Mengisi ruang kosong yang masih tersisa di dalam tas ransel. Seperti biasa, repacking adalah ritual yang selalu berjalan lambat. Apalagi waktu keberangkatan kereta masih cukup lama.

Tetapi, ini Jakarta. Jarak tak selalu berkorelasi dengan waktu tempuh. Ini ibukota negara. Padat merayap dan macet adalah sarapan sehari-hari. Saya memutuskan berangkat lebih awal persis setelah salat Duhur. Biarlah menunggu agak lama di stasiun nanti. Menikmati suasana sekitar stasiun, itulah dalih saya.

Lanjutkan membaca “#BloggerWalking: Kepulangan (Bagian 10-Selesai)”

#BloggerWalking: Pertemuan Senin Antara Serpong-Jakarta (Bagian 9)

Mas Ari, saya sudah di depan BSD Plaza. Begitu isi SMS-nya. Yang saya ketik dan kirimkan seturun dari angkutan kota berwarna biru langit. Kemudian, saya melipir ke sayap kanan plaza. Duduk manis menunggu Mas Ari menjemput di depan pagar menjulang kantor GraPARI Telkomsel BSD (Bumi Seprong Damai) City. Ya, ini adalah yang disebut kota di dalam kota. Di mana belasan mal berdiri menutupi resapan air. Ini memang masih di provinsi Banten, namun nuansa khas Jakarta begitu kentara. Sisi Banten Lama yang terik, kumuh dan berantakan; langsung berubah drastis dengan sisi Banten di tempat saya duduk menunggu.

Hampir 15 menit kemudian, datanglah Mas Ari dengan motor matiknya. Kami putar balik, lalu melaju dengan kecepatan sedang ke Pondok Aren. Kediaman Mas Ari dan keluarga kecilnya.

Lanjutkan membaca “#BloggerWalking: Pertemuan Senin Antara Serpong-Jakarta (Bagian 9)”

Langit biru pelipur lara di Banten Lama

#BloggerWalking: Banten Lama Yang (lama-lama) Semakin Merana (Bagian 8)

Sungguh bisa dibilang saya sama sekali nyaris tidak terkesima. Apalagi terkesan. Mungkin lebih patut dibilang terpana dan terperangah. Namun, terpana dan terperangah yang malah berujung empati. Saya terkejut. Saya tak akan panjang lebar bertutur, demikianlah ini apa yang terlihat.

Hanya langit biru yang menghibur.

“Langitnya lagi bagus, Om,” kata saya kepada Om Tio. Bersama Abyan, kami bertiga menyusuri Banten Lama dengan perasan keringat. Cerah, namun terik.

Lanjutkan membaca “#BloggerWalking: Banten Lama Yang (lama-lama) Semakin Merana (Bagian 8)”

Senyum Abyan, putra kedua Mbak Noe, saat dipotret

#BloggerWalking: Di Pulau Merak Kecil, Kami Memandang Senja (Bagian 7)

Bis dengan warna kebesaran dominan kuning dan merah kami naiki agak tergesa. Bis berpendingin udara tersebut nyaris penuh. Beruntung, saya, Mbak Noe dan kedua anaknya (Daffa-Abyan) mendapatkan tempat duduk. Setidaknya, kami mendapatkan “angin” segar yang kontras dengan hawa di luar bis yang sangat terik. Menyengat.

Lalu di mana Om Tio dan Muchlis? Mereka berdua kembali ke rumah Mbak Noe, mengambil bekal piknik. Jadi, mereka akan menunggang motor bebek kesayangan Om Tio ke Merak. Setibanya di sebuah warung dekat Polsek Pulomerak, saya kaget ketika Mbak Noe menyampaikan pesan dari Om Tio.

“Di rumah hujan.”

Lanjutkan membaca “#BloggerWalking: Di Pulau Merak Kecil, Kami Memandang Senja (Bagian 7)”

Rumah Dunia Gol A Gong

#BloggerWalking: Tertampar Malu di Rumah Dunia dan Gong Library (Bagian 6)

“Mbak, kami sudah naik bus dari Kampung Rambutan.” Begitu isi pesan Whatsapp saya ke Mbak Noe. Setelah itu, saya dan Muchlis bergantian merem-melek karena ngantuk. Pendingin udara bus Primajasa ini sukses membawa kami melayang ke alam mimpi. Walau hanya sesaat.

Saya sendiri, terbangun dari lelap sejenak hanya karena dua hal. Pertama, karena harus membalas pesan masuk ke gawai yang mendesak, membutuhkan jawaban. Kedua, karena terheran-heran dengan kondisi di mana bus berhenti di tepi lajur kiri (bahu) jalan tol, menurunkan penumpang di sana. Lalu penumpang tersebut terus berjalan menjauhi tol dan menaiki “tangga darurat” melewati pagar berduri untuk sampai di kampung. Para tukang ojek bersiap menawarkan jasa untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan yang sebenarnya.

Lanjutkan membaca “#BloggerWalking: Tertampar Malu di Rumah Dunia dan Gong Library (Bagian 6)”