Pembukaan acara buka puasa bersama oleh HRD Coordinator dan GM Secretary Hotel Horison Ultima Malang

Buka Puasa Bersama di Hotel Horison Ultima Malang

Sore itu, Selasa, 30 Juni 2015. Sekitar 45 menit sebelum kumandang azan Magrib mengudara. Saya sudah meluncur dengan sepeda motor kesayangan menuju Hotel Horison Ultima Malang. Langit sedang mendung namun tak turun hujan. Angin sore sudah cukup dingin berembus di Kota Malang.

Saya tiba sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Sore itu saya hadir memenuhi undangan buka puasa bersama. Sekaligus mencicipi menu kuliner Ramadan khas Hotel Horison Ultima Malang. Di Malabar Restaurant, sudah menunggu beberapa tamu undangan serupa. Kebanyakan dari media cetak dan radio.

Lanjutkan membaca “Buka Puasa Bersama di Hotel Horison Ultima Malang”

Sunset di Pantai Pulau Merah, Banyuwangi

10 Tempat Pilihan Saya Untuk Menyaksikan Sunset Dari Tepi Laut

Sebenarnya saya harus jujur, pengalaman dan perjalanan berburu senja dari tepi laut masih kurang. Jadi, mengumpulkan sepuluh tempat terkait tidaklah mudah. Jelas terbatas, karena semua lokasi dan foto yang ada merupakan pengalaman saya pribadi. Terbatas pada beberapa tempat yang pernah dikunjungi.

Tetapi, selanjutnya harus saya syukuri ketika akhirnya didapat sepuluh tempat yang melengkapi daftar yang dibuat. Sepuluh tempat ini bukanlah pilihan mutlak. Yang patut diingat adalah datanglah pada saat yang tepat. Pada saat semesta mendukung.

Dan inilah “10 Tempat Pilihan Saya Untuk Menyaksikan Sunset Dari Tepi Laut”. Tentu, masih di Indonesia.

Lanjutkan membaca “10 Tempat Pilihan Saya Untuk Menyaksikan Sunset Dari Tepi Laut”
Nasi Goreng Kimcil (kanan) dan Black Burger Go-Song (kiri), menu baru andalan Hotel Horison Ultima Malang

Launching “Nasi Goreng Kimcil dan Black Burger Go-Song” Hotel Horison Ultima Malang

Saya baru saja tiba di Kota Malang Rabu, 25 Maret 2015. Setelah seharian duduk manis dalam kursi gerbong KA Majapahit dari Stasiun Pasar Senen Jakarta. Keesokan harinya, saya bersama Mas Kurniawan (perwakilan dari tim redaksi JAVANICA-majalah elektronik komunitas Gamananta) menghadiri undangan dari Hotel Horison Ultima Malang. Siang itu, hotel bintang empat tersebut meluncurkan dua menu kuliner andalan baru mereka: Nasi Goreng Kimcil dan Black Burger Go-Song.

Lanjutkan membaca “Launching “Nasi Goreng Kimcil dan Black Burger Go-Song” Hotel Horison Ultima Malang”

Seberkas cahaya pagi di langit Kota Lama

Kota Lama, Tentang Geliat Pagi dan Semar Jawi

Ini hari kedua gelaran TravelNBlog 3 di Kota Semarang.

Alarm ponsel berdering kencang, cukup sekali bunyi langsung membuat terbangun. Awalnya bangun agak gontai, karena kantuk dan gatal-gatal akibat gigitan nyamuk masih terasa. Ketika keluar kamar, saya tergesa menuju kamar mandi dan membilas tubuh secepat mungkin. Berkemas dengan terburu-buru, dan agak berlarian menuju resepsionis untuk menyerahkan kunci dan mengambil kartu identitas.

Seberkas langit jingga yang terlihat saat berjalan dari kasur ke kamar mandi, adalah alasan mengapa saya check out lebih awal.

Lanjutkan membaca “Kota Lama, Tentang Geliat Pagi dan Semar Jawi”

Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 55: Waterfalls

Alhamdulillah, periode Turnamen Foto Perjalanan (TFP) Ronde 55 bertema “Waterfalls” sudah usai. Dimulai dari 6 Februari dan berakhir pada 14 Februari 2015.

 

Saya bersyukur cukup banyak peserta yang ikut berpartisipasi. Sekaligus cukup kewalahan juga untuk mengunggah foto ke galeri TFP. Selama periode tersebut, terkumpul total 24 foto bertema “Waterfalls” dari 24 blogger yang keren-keren. Saat pertengahan periode, saya sudah menduga bakal kesulitan menentukan pemenangnya.

Bagi saya, seluruh peserta sudah sangat berhasil menerjemahkan tema “Waterfalls” ke dalam bingkai foto. Dengan sudut pandang yang berbeda-beda pula. Namun, karena tongkat estafet TFP harus tetap berjalan, maka saya harus mengumumkan pemenangnya. Berdasarkan pengetahuan dangkal tentang teori dasar dan komposisi fotografi yang saya jadikan pedoman untuk menilai foto, maka dengan ini saya putuskan bahwa pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 55 bertema “Waterfalls” adalah:

Lanjutkan membaca “Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 55: Waterfalls”

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 55: Waterfalls

SUBMISI TURNAMEN FOTO PERJALANAN RONDE 55 TEMA “WATERFALLS”
TELAH DITUTUP!

Pemenang dapat dilihat DI SINI

===============================================================================

Alhamdulillah. Tidak menyangka ketika Mas Rinaldi Maulana mendapuk saya tuan rumah Turnamen Foto Perjalanan (TFP) Ronde 55 ini, setelah sebelumnya ikut menjadi peserta pada Turnamen Foto Perjalanan Ronde 54 bertema “Kabut“. Foto saya berjudul “Berburu Ikan Dalam Kabut Rinjani” ditahbiskan sebagai pemenang yang diumumkan dalam artikel berikut. Padahal foto-foto bertema kabut kiriman blogger lainnya juga keren-keren. Silakan simak dan siap ngiler ketika melihat galeri foto pada ronde sebelumnya. Terima kasih ya, Mas!

Ngomong-ngomong, ternyata cukup menguras tenaga dan pikiran untuk menentukan tema TFP Ronde 55 kali ini. Hampir sebagian besar tuan rumah sebelumnya sudah memiliki tema yang berbagai macam. Saya sampai menggerakkan scroll mouse naik-turun berulang kali untuk memastikan tema apa yang kira-kira belum dipakai.

Air Terjun Tiu Kelep, Senaru, Lombok Utara

Dan, setelah berpikir masak-masak, pikiran mengerucut tertuju pada satu tema yang bagi saya cukup menarik. Tentu dengan pertimbangan agar memudahkan peserta mengirimkan foto yang sesuai tema dan supaya banyak yang ikut serta meramaikan TFP Ronde 55 ini. Tema apakah itu?

Lanjutkan membaca “Turnamen Foto Perjalanan Ronde 55: Waterfalls”

Danau Sentani, Jayapura (Sumber: Indonesia.Travel)

Saya Mau Pergi Dulu ke Bumi Cenderawasih!

Sekitar dua jam yang lalu, di tengah kantuk yang mendera, jemari saya asyik menggeser lini masa twitter. Gesekan jempol terhenti di kicauan milik akun travel blogger DebbZie Leksono. Ia membalas twit dari akun couple traveler kondang Adam dan Susan (Pergi Dulu), yang tengah menggelar kuis berhadiah kamera Canon Powershot SX400 IS. Tanpa pikir panjang, segera saya retweet dan meluncur ke link yang ditampilkan.

Lalu, apa alasan saya menulis artikel ini?

Lanjutkan membaca “Saya Mau Pergi Dulu ke Bumi Cenderawasih!”

Tampilan Blog Jalan Pendaki

Teruntuk Jalan Pendaki, Sebuah Apresiasi

Apa yang ada di pikiran Anda tentang makna definitif seorang pendaki gunung?

Keren? Kekar? Kebal badai? Rupawan? Berambut gondrong? Sabar? Perhatian? Dewasa? Atau apa?

Maka ketika dulu (saya lupa kapan persisnya) pertama kali tiba di halaman blog Jalan Pendaki, definisi-definisi yang tersebut di atas luruh. Terlebih, ketika seorang Acen Trisusanto (sang pendaki), memproklamirkan diri sebagai seorang pendaki yang:

“Gue ini pendaki gunung tapi takut segala jenis reptil mulai dari ular, kadal, kadal yang kayak ular, ular yang mirip kadal, dan kura-kura. Bukan takut sih, geli aja. Bhay!”

Lanjutkan membaca “Teruntuk Jalan Pendaki, Sebuah Apresiasi”

Kisah cinta antar lawan jenis di Sade adalah yang paling pertama dijelaskan oleh sang guide

Ada Pesan Lestari Di Sade

Rasanya cukup lelah setelah menikmati Pantai Batu Payung dan Tanjung Aan. Terlebih, makan siang yang mengenyangkan membuat tubuh rasanya ingin segera menemukan lelap. Namun Pak Husni, sang guide, mengingatkan masih ada satu tempat lagi yang dikunjungi sebelum menuju bandara.

Tempat itu adalah Sade, sebuah dusun di Desa Rembitan. Masih dalam kawasan Lombok Tengah yang rupanya menaungi banyak tempat bagai manikam di Pulau Lombok. Sebuah pemukiman di mana adat Sasak sebagai penduduk asli Pulau Lombok masih dijunjung tinggi. Lanjutkan membaca “Ada Pesan Lestari Di Sade”

Pantai Batu Payung

Mega, Langit Biru, dan Sang Saka

Langit pagi ini tidaklah menggembirakan. Selat Lombok seperti bernuansa mistis. Kabut putih cukup tebal, sampai-sampai Gunung Agung hanya menampakkan bagian puncaknya. Namun, hal itu tidak mengurangi lahapnya sarapan terakhir di Hotel Jayakarta, di tepi laut Senggigi. Saya, bersama teman-teman blogger dan fotografer larut dalam percakapan yang sempat terselip.

“Mending kulineran taliwang lagi saja,” celetuk Barry Kusuma. Agak masuk akal idenya, melihat cuaca terkini.

“Belum tentu juga, Om. Siapa tahu di pantai nanti bisa cerah,” ujar saya mencoba menghibur diri.

 

Alam tak mudah ditebak. Terkadang menggembirakan, terkadang suram. Sepertinya kami semua satu pikiran, berharap agar cuaca bersahabat di Batu Payung nanti. Hanya saja, sementara saya masih berandai-andai seperti apa rupa Batu Payung itu. Saya berusaha mengerem ekspektasi.

Lanjutkan membaca “Mega, Langit Biru, dan Sang Saka”