Pantai Teluk Hijau dan Pantai Pulau Merah Banyuwangi

[Cerita Foto] Banyuwangi, dari Hijau ke Merah

Apa yang saya lakukan dalam kurun dua hari satu malam di Banyuwangi? Tak banyak, tetapi Tuhan mempertemukan dengan Romy Erzal. Rekan sesama pejalan asli Banyuwangi itu membantu mewujudkan keinginan saya. Dia berkenan dan sanggup menyediakan waktu untuk tujuan yang akan saya sentuh tanahnya dalam kurun waktu tersebut.

Lanjutkan membaca “[Cerita Foto] Banyuwangi, dari Hijau ke Merah”
Sunrise puncak mahameru gunung semeru

Roman Pagi dari Puncak-Puncak Tertinggi

Pada saatnya, saya termasuk sekelompok orang yang rela menahan kantuk, dingin, dan bersusah payah demi matahari terbit dari puncak gunung. Meninggalkan kehangatan tidur untuk sebuah pengalaman, yang saya harus jujur, tidak akan terlupakan seumur hidup.

Bahkan rela jauh dari kenyamanan rumah. Memasuki zona bahaya yang tak terprediksi.

Sementara situasi terkini yang telah mengglobal, memaksa kita untuk menahan diri dari hasrat bertualang. Menjelajah alam. Mencumbu rimba. Saya ingin berbagi sedikit visual, tentang apa yang saya lihat kala pagi dari puncak-puncak gunung tertinggi.

Ini bukan hanya untuk yang rindu mendaki, tapi juga teman-teman yang ingin merasakan pengalaman pertamanya.

Lanjutkan membaca “Roman Pagi dari Puncak-Puncak Tertinggi”
Jam tangan kayu "Maccasi Craft" Banyuwangi

Jam Tangan Kayu dari Banyuwangi

Perempatan Wornorekso (patung kebo) ke timur sedikit. Depan sekolahan TK.

Saya membaca pesan yang dikirim Akbar Andi (31 tahun) melalui Whatsapp. Saya menyorongkannya ke Alan, teman narablog asal Jakarta yang bekerja dan sudah mukim cukup lama di Banyuwangi. Saya menginap dua malam di rumahnya.

“Oh, aku tahu perempatan itu,” Ia menanggapi.

Kami mengecek aplikasi peta di gawai. Pagi itu juga kami bermotor ke rumah lelaki perajin limbah kayu tersebut.

Lanjutkan membaca “Jam Tangan Kayu dari Banyuwangi”

Kendil-kendil ikan pindang yang siap dibakar

Pindang Bawean

Sehari sebelum libur Iduladha dua tahun lalu (31/8/2017), Jun mengajak saya, Inggit, Imama, dan Ucup ke Dedawang. Sebuah dusun di pesisir barat laut Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Di sana bermukim nelayan dan pusat produksi pindang khas daerah berjuluk Pulau Putri tersebut.

Perjalanan ke dusun di tepi pantai itu hanya sekitar 10 menit dari rumah Jun. Kami menyusuri jalan kampung. Membelah bentang alam yang beragam. Mulai dari sawah hingga berujung lautan.

Lanjutkan membaca “Pindang Bawean”

Bukit Tanjung Kajuwulu Maumere Flores

Sore yang Dijanjikan di Kajuwulu

Mulanya yang terlihat adalah hamparan laut di pantai utara Flores. Di atasnya menjulang bukit-bukit yang sebagian masih kuning dan kering. Kemarau belum berlalu. Termasuk tanah bertugu salib yang kami pijak sore itu.

Kemudian hawa terik dan kering berangsur menghangat dan sejuk. Mbak Nur, dokter gigi lulusan Jogja yang rumahnya saya singgahi, benar-benar membuktikan bahwa rayuannya tidak sekadar bualan.

Lanjutkan membaca “Sore yang Dijanjikan di Kajuwulu”

Stasiun Pasar Senen Jakarta

Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang

“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim,
sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab,
maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan);

“Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan.
Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya,
karena lezatnya kehidupan baru terasa,
setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha;

Lanjutkan membaca “Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang”

Pendakian Gunung Sumbing Jalur Butuh Kaliangkrik Magelang

Bersanding Angin Sumbing

Pendakian Gunung Sumbing Jalur Butuh Kaliangkrik Magelang
Pendakian Gunung Sumbing Jalur Butuh Kaliangkrik Magelang

Tak hanya kami. Beberapa pendaki juga bergegas keluar rumah. Berebut tempat di halaman yang jadi tempat parkir motor. Semuanya serempak mengabadikan momen emas tersebut. Langit memerah dengan latar gulungan awan dan siluet Merbabu-Merapi di timur.

Beberapa waktu lalu saya, Eko, dan Aliko melihat Gunung Sumbing dari puncak Merbabu. Kali ini, ditambah Rendra, kami berempat akan melakukan hal sebaliknya.

Lanjutkan membaca “Bersanding Angin Sumbing”

OCD Beach Cafe & Hostel Kupang

Saya menempati kamar di lantai dua rumah berarsitektur sasando. Strukturnya dari tiga jenis bambu berbeda: Bambu betung untuk tiang, bambu hutan untuk atap, dan bambu biasa untuk hiasan.

Butuh biaya 30 juta untuk membangun utuh rumah sasando bertingkat. lebih mahal dari dua rumah bambu satu lantai di Sebelahnya. Uang segitu sama dengan modal memermak satu mobil angkutan kota di Kupang, yang penuh aksesori dan full music.

Lanjutkan membaca “OCD Beach Cafe & Hostel Kupang”

Danau Segara Anak, Gunung Rinjani

Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi

Danau Segara Anak, Gunung Rinjani
Danau Segara Anak, Gunung Rinjani

Saya berdiri di bawah atap Pos III, menghadap dan menatap nanar Bukit Penyesalan. Begitu pun keempat rekan setim.

Kami sudah melahap separuh perjalanan dari Desa Bawak Nao, titik awal pendakian.

Lanjutkan membaca “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi”
Pasukan Paji Nyili-Nyili di Sonine Salaka, Kadato Kie, dalam upacara puncak Festival Hari Jadi Tidore ke-909 tahun 2017

Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)

Malam itu (11/4/2017) pukul 21.30 WIT, kami berkesempatan menyaksikan persiapan pelepasan Paji Nyili-Nyili tak jauh dari Pelabuhan Rum. Kami baru saja bersilaturahmi ke kediaman nenek Aminah Sabtu. Seorang nenek pejuang. Penjahit bendera merah putih yang pertama kali berkibar di Tidore pada 1946 silam.

Di lokasi pelepasan, telah bersiap para pasukan Paji Nyili-Nyili. Pakaiannya serba hitam. Orang-orang itu dari wilayah Mareku. Saya menumpang perahunya saat Parade Juanga. Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. H. Ali Ibrahim.

Lampu-lampu permukiman yang akan dilintasi Paji Nyili-Nyili hampir seluruhnya dipadamkan. Digantikan sementara oleh obor kecil sederhana yang dipasang di muka rumah-rumah warga. Membuat suasana temaram. Kontras dengan kota tetangga, Ternate, yang gemerlap di kaki Gunung Gamalama.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)”