Senja di langit Kepanjen

Dengan Matarmaja, Saya Kembali Ke Jakarta

Saya memandang ke luar jendela kusam itu. Tak butuh waktu lama untuk terpesona dengan langit di luar sana. Saya beranjak dari duduk sembari membawa kamera.

Rasa penasaran dan keinginan untuk memotret, membuat saya terpaksa membuka pintu gerbong. Setelah memastikan tidak ada orang yang lewat, saya membuka dan segera mengabadikan senja. Goyangan begitu terasa karena kereta berjalan cukup cepat. Memaksa saya menancapkan kaki lebih kuat dan bersandar pada daun pintu.

Percayalah, agak gemetar rasanya memotret di tepi pintu gerbang. Tetapi keingintahuan manusia kadang selalu menjadi pemenang, mengalahkan rasa takut atau was-was. Bicara soal was-was, saya jadi teringat saat tiba di stasiun sore tadi.

Lanjutkan membaca “Dengan Matarmaja, Saya Kembali Ke Jakarta”

Sudut Sepi di Bee Jay Bakau Resort Probolinggo

Bee Jay Bakau Resort ProbolinggoNama yang panjang tersebut mulanya saya dengar bukan begitu.

Tapi lewat singkatan.

BJBR. Singkatan itu jelas awalnya masih asing di telinga saya. Selama ini, yang familiar atau populer sebagai tempat wisata di Probolinggo antara lain: Gunung Bromo, air terjun Madakaripura, rafting Pekalen, Gili Ketapang, Gunung Argopuro, Pantai Bentar, Ranu Segaran, atau Ranu Agung.

Bagaimana BJBR itu? Lanjutkan membaca “Sudut Sepi di Bee Jay Bakau Resort Probolinggo”

Matahari terbit di langit Ranu Kumbolo yang keemasan

Wajah-Wajah Pagi di Ranu Kumbolo

Saya tak mengindahkan apapun yang dilakukan tubuh dalam lelap, setelah semalam mengabadikan gemerlapnya gemintang di langit Ranu Kumbolo. Telanjur dimanjakan hangatnya balutan sleeping bag berbahan dracon dan polar. Belum lagi kupluk dan jaket gunung yang ikut menghangatkan. Bergitulah nikmatnya melalui malam bersama dunia mimpi. Oh tunggu, bahkan saya yakin tidak bermimpi apa-apa.

Tahu-tahu sudah Subuh. Saya tahu saat itu sudah Subuh, karena langit gelap mulai pudar dan teman setim tuntas menunaikan salat dua rakaat.

Lanjutkan membaca “Wajah-Wajah Pagi di Ranu Kumbolo”

Hotel Horison Ultima Malang

[Ulasan] Hotel Horison Ultima Malang

Sejujurnya, saya bukanlah seorang hotel hunter. Sebagai seorang mahasiswa yang terbiasa tidur seadanya kala bepergian, tidur di hotel berbintang tentu menjadi pengalaman lebih. Namun, ketika kotak masuk akun twitter saya berisi pesan dari admin Indonesia.Travel, tentang hadiah voucher hotel sebesar Rp 100.000 dari PegiPegi, saya terdiam sesaat. Mungkin inilah saatnya mencoba pengalaman baru.

Dan bila boleh dibilang kebetulan, uang tabungan yang ada cukup untuk melakukan pemesanan dengan minimum transaksi yang ditentukan. Pikir saya, untuk membeli pengalaman, mengapa tidak?

Maka jadilah, setelah melakoni proses memilih, saya menjatuhkan pilihan pada Hotel Horison Ultima Malang. Dan ulasan yang menjadi debut ini, adalah sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas segala pelayanan dan kesempatan. Saya mohon pemakluman jika kiranya ulasan ini terkesan panjang. Jikalau ada kritik subyektif, semata merupakan dukungan agar lebih berkembang. Mari disimak pengalaman saya menginap semalam di Horison Ultima Malang berikut.

Lanjutkan membaca “[Ulasan] Hotel Horison Ultima Malang”

Candi Singhasari, Malang

Candi Singhasari: Mengenang Sisa Kejayaan Kertanagara

Dalam prasasti Mula Malurung yang ditulis tahun 1255, disebutkan bahwa pada 1254, Wisnuwardhana mengangkat anaknya, Kertanagara sebagai yuwaraja (putra mahkota). Dan seolah sudah mengetahui kapan kematian menjemputnya (Wisnuwardhana wafat tahun 1270 dan didharmakan di Candi Jago, Tumpang), singgasana maharaja diberikan kepada Kertanagara pada tahun 1268. Perlahan-lahan, di bawah kendalinya, Kerajaan Singhasari mencapai puncak kejayaan.

Ada satu kisah singkat yang paling saya ingat tentang raja keempat Singhasari tersebut. Sebuah kisah yang menggambarkan Kertanagara sebagai raja yang berwibawa dan gagah berani.

Lanjutkan membaca “Candi Singhasari: Mengenang Sisa Kejayaan Kertanagara”

Candi Kidal, Tumpang

Candi Kidal: Bukti Bakti Untuk Anusapati

Samar-samar, ramalan Lohgawae yang berujung pada kisah culas Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi Ken Dedes yang jelita terbayang. Terngiang di tengah konsentrasi mengendalikan kemudi motor. Sejarah Singhasari yang dulu sering dibaca saat di bangku SMP, semakin terkenang kuat ketika memasuki Kecamatan Tumpang.

Lalu, sepanjang 7,5 kilometer dari pusat kecamatan, ada keraguan tentang rute yang ditempuh. Petunjuk yang ada di pertigaan tugu kecamatan masih belum banyak membantu. Penjelasan dari seorang tukang tambal ban akhirnya menuntun arah menuju Candi Kidal. Ternyata petunjuknya cukup mudah, temukan balai desa Kidal, maka tak jauh dari sana Candi Kidal berada.

Lanjutkan membaca “Candi Kidal: Bukti Bakti Untuk Anusapati”

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai-pantai Populer di Barat Kota Pacitan

Sebenarnya agak bingung dan rancu jika harus mengucapkan kata “terbaik”. Bukan berarti pantai-pantai lain di tempat kelahiran mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak indah dan tidak lebih baik. Kata “terbaik” di sini bersifat subjektif. Murni berdasarkan pendapat dan pengalaman saya pribadi. Dan, untuk saat ini saya berikan ulasan kelima pantai yang berada di sebelah barat kota Pacitan tersebut. Sisanya, kelak saat saya kembali mendapatkan kesempatan bertualang lebih jauh.

Bisa dibilang, judul di atas belum selesai (belum titik). Tetapi, jika ditambahkan beberapa kata lagi dirasa terlalu panjang. Karena, yang saya maksud: berikut ini adalah ulasan singkat tentang lima pantai terbaik di barat kota Pacitan, yang layak untuk sekadar menghabiskan akhir pekan, mendirikan tenda (camp), atau bahkan berburu matahari terbit (sunrise) dan tenggelam (sunset).

 

Pantai Klayar Pacitan

Kelima pantai pilihan saya ini bukanlah tolok ukur mutlak bagi yang ingin berlibur ke Pacitan. Tetapi, kelima pantai ini kerap memberikan kesan mendalam bagi tamu-tamunya. Bagi saya, ada yang istimewa dengan kelima pantai tersebut.

Cara terbaik untuk mengunjunginya adalah dengan bersepeda motor. Transportasi beroda dua ini merupakan pilihan paling efisien, efektif, dan hemat sampai saat ini. Dikarenakan keterbatasan transportasi publik di Kabupaten Pacitan. Sudah siap? Mari kita mulai menyusuri dari sebelah barat kota Pacitan.

Lanjutkan membaca “Pantai-pantai Populer di Barat Kota Pacitan”

Tenda kami di Telaga Dringo

Telaga Dringo: Sunyi, Jawaban Yang Dicari

Maaf. Pantat saya terasa menipis. Bahasa gaulnya “tepos”. Perjalanan dari Yogyakarta hingga benar-benar berhenti di tempat ini sungguh tak singkat. Dan kebetulan lebih sering berposisi sebagai yang dibonceng. Memanggul carrier 75+10 liter yang menarik-narik tubuh, ketika motor menapak tanjakan itu rasanya melelahkan.

Akhirnya. Tak menyangka sebenarnya kami berdua sampai di tempat ini. Saya dan Uki merasa beruntung menginjakkan kaki di sini, sebelum hujan turun terlampau deras. Walau memang, saat mendirikan tenda kami agak tergesa karena rintik gerimis semakin deras. Tetapi, setelah tenda berdiri kokoh, gerimis mulai perlahan mereda.

 

Di dalam tenda, kami berdua mengungkit kembali perjuangan perjalanan dari Yogya. Dan masuk di kabupaten yang menaungi tempat cantik ini, kami beruntung bertemu orang-orang yang ramah. Mereka yang dengan murah senyum menunjukkan arah tempat yang akan kami tuju.

“Dringo? Dringo?” tanya seorang petani yang baru pulang dari ladang.

Petani itu mengucapkan kata Dringo dengan lafal “o” yang berbunyi seperti pada kata “ijo”. Entah, saya kadung akrab melafalkan dengan bunyi “o” seperti pada “buto”. Dan akhirnya, saya malah nyaman dengan pelafalan Bapak petani tadi. Sudahlah.

Inggih, Pak, Telogo Dringo, pripun arahipun?” (1)

Lanjutkan membaca “Telaga Dringo: Sunyi, Jawaban Yang Dicari”

Jalur pendakian antara Shelter II Kokopan dan Shelter III Pondokan

SRIWIJAYA Inflight Magazine November 2014: Berjuang Menyambut Pagi

Banyak pendaki bangga berdiri di puncak Mahameru, tanah tertinggi di Pulau Jawa. Hanya sedikit di antara mereka yang berani mendaki hingga puncak Arjuno.

Bersama dua kawan saya, Rendra dan Dodik, kami menunggang sepeda motor menuju Tretes. Suhu udara bulan April itu tidak terlalu dingin. Dengan langkah yang perlahan tapi stabil, jalur aspal yang berganti jalan cor terjal kami lalui hingga tiba di Shelter I atau Pet Bocor. Dari pos yang memiliki sumber air ini, bulan terlihat berpendar bulat dan bintang bertebaran. Cuaca malam itu sangat cerah sesuai harapan kami.

Pendakian ke puncak Arjuno yang sesungguhnya dimulai ketika kami melewati sebuah pos jaga dan portal sebagai tanda memasuki kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R. Soerjo. Jalan cor berubah total menjadi makadam di mana trek didominasi batu-batu berukuran sedang. Trek makadam berbatu itu menanjak dan berputar-putar seakan mencoba menguji kesabaran. Sesekali kami berhenti untuk mengatur napas dan menyeka keringat.

Lanjutkan membaca “SRIWIJAYA Inflight Magazine November 2014: Berjuang Menyambut Pagi”

Istana Pakualaman Yogyakarta

Sugeng Enjing, Pakualaman

Suara riuh di dalam warnet kembali membangunkan tidur saya. Rupanya sudah Subuh. Sebelum hari beranjak semakin terang, saya segera membangunkan Uki. Rekan perjalanan kelahiran Kudus itu benar-benar terlelap. Matanya masih sayu tanda enggan meninggalkan mimpi.

Diikuti Uki, saya menyeret kaki menuju Masjid Besar Pakualaman. Bukan, bukan untuk pindah tempat tidur. Tetapi untuk menunaikan salat Subuh. Air wudunya menyegarkan. Salat pun terasa teduh. Terpenting, saya bisa salat tepat waktu.

Lanjutkan membaca “Sugeng Enjing, Pakualaman”

Kisah cinta antar lawan jenis di Sade adalah yang paling pertama dijelaskan oleh sang guide

Ada Pesan Lestari Di Sade

Rasanya cukup lelah setelah menikmati Pantai Batu Payung dan Tanjung Aan. Terlebih, makan siang yang mengenyangkan membuat tubuh rasanya ingin segera menemukan lelap. Namun Pak Husni, sang guide, mengingatkan masih ada satu tempat lagi yang dikunjungi sebelum menuju bandara.

Tempat itu adalah Sade, sebuah dusun di Desa Rembitan. Masih dalam kawasan Lombok Tengah yang rupanya menaungi banyak tempat bagai manikam di Pulau Lombok. Sebuah pemukiman di mana adat Sasak sebagai penduduk asli Pulau Lombok masih dijunjung tinggi. Lanjutkan membaca “Ada Pesan Lestari Di Sade”

Pantai Batu Payung

Mega, Langit Biru, dan Sang Saka

Langit pagi ini tidaklah menggembirakan. Selat Lombok seperti bernuansa mistis. Kabut putih cukup tebal, sampai-sampai Gunung Agung hanya menampakkan bagian puncaknya. Namun, hal itu tidak mengurangi lahapnya sarapan terakhir di Hotel Jayakarta, di tepi laut Senggigi. Saya, bersama teman-teman blogger dan fotografer larut dalam percakapan yang sempat terselip.

“Mending kulineran taliwang lagi saja,” celetuk Barry Kusuma. Agak masuk akal idenya, melihat cuaca terkini.

“Belum tentu juga, Om. Siapa tahu di pantai nanti bisa cerah,” ujar saya mencoba menghibur diri.

 

Alam tak mudah ditebak. Terkadang menggembirakan, terkadang suram. Sepertinya kami semua satu pikiran, berharap agar cuaca bersahabat di Batu Payung nanti. Hanya saja, sementara saya masih berandai-andai seperti apa rupa Batu Payung itu. Saya berusaha mengerem ekspektasi.

Lanjutkan membaca “Mega, Langit Biru, dan Sang Saka”

Monumen Jenderal Sudirman

Duhai Jenderal Besar, Kami Merindukanmu

Saya lupa hari apa saat itu.

Pembimbing lapang saya (Kasi Pangan di dinas) sedang kunjungan lapang ke kecamatan-kecamatan. Saya mohon izin untuk keliling ke arah Kecamatan Arjosari dan Nawangan, sekitar 45 km dari kota Pacitan. Selain melihat kondisi dan sistem pertanian di sana, saya penasaran dengan sebuah monumen yang terletak di atas bukit. Sebuah monumen yang benar-benar menggambarkan betapa terhormatnya pribadi yang tertancap kokoh, menjulang tinggi.

Lanjutkan membaca “Duhai Jenderal Besar, Kami Merindukanmu”