Sebelumnya, saya mohon maaf, nyuwun pangapunten jika tulisan ini terkesan acak dan kacau. Jika boleh bergurau, saya menulis dari emosi yang terdalam. Maklum, ini termasuk isu yang sensitif. Saya hanya ingin berbagi dan mengajak njenengan untuk turut berbagi. Semoga cukup mewakili. Pembaca yang budiman, tahukah rasanya bagaimana tersentil itu? Atau jika dalam bahasa Jawa “dijawil”. Dicolek pada bagian tubuh dan membuat njenengan kaget, geli hingga bergeliat. Saya pernah merasakannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kini akan diceritakan rasanya tersentil. Padahal saya belum melakukan apa-apa. Hanya pernah sempat berhasrat saja lalu menguap. Lalu memilih untuk dibiarkan terpendam dan hilang selamanya.
Mungkin sebagian dari njenengan ada yang sudah pernah membaca artikel yang ditulis apik dan menggugah dari dua sahabat blogger dengan judul-judul berikut: Lebih Baik Jangan Ke Pulau Sempu yang ditulis Mas Wisnu Yuwandono dan Selamat! Anda Telah Berhasil “Merusak” Pulau Sempu yang ditulis oleh Mas Pradikta Dwi Anthony. Tulisan mereka mendapat beragam komentar. Biasa, pro dan kontra. Wujud dari kebebasan berpendapat. Monggo silakan njenengan baca dulu barangkali penasaran dan silakan tinggalkan komentar atas tulisan mereka. Sudah membaca? Mari jika berkenan saya ajak menyimak apa yang hendak saya utarakan. Sama seperti mereka. Sederhana saja, anggap saja sebagai buah pemikiran orang sipil yang berusaha untuk peduli. Meskipun belum terlihat aksi nyata, tapi saya mencoba berusaha beraksi lewat kata-kata.
Lanjutkan membaca “#SaveSempuMLG: Pulau Sempu, Apa Kini Maumu?”