Candi Kidal, Tumpang

Candi Kidal: Bukti Bakti Untuk Anusapati

Samar-samar, ramalan Lohgawae yang berujung pada kisah culas Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi Ken Dedes yang jelita terbayang. Terngiang di tengah konsentrasi mengendalikan kemudi motor. Sejarah Singhasari yang dulu sering dibaca saat di bangku SMP, semakin terkenang kuat ketika memasuki Kecamatan Tumpang.

Lalu, sepanjang 7,5 kilometer dari pusat kecamatan, ada keraguan tentang rute yang ditempuh. Petunjuk yang ada di pertigaan tugu kecamatan masih belum banyak membantu. Penjelasan dari seorang tukang tambal ban akhirnya menuntun arah menuju Candi Kidal. Ternyata petunjuknya cukup mudah, temukan balai desa Kidal, maka tak jauh dari sana Candi Kidal berada.

Lanjutkan membaca “Candi Kidal: Bukti Bakti Untuk Anusapati”

Danau Sentani, Jayapura (Sumber: Indonesia.Travel)

Saya Mau Pergi Dulu ke Bumi Cenderawasih!

Sekitar dua jam yang lalu, di tengah kantuk yang mendera, jemari saya asyik menggeser lini masa twitter. Gesekan jempol terhenti di kicauan milik akun travel blogger DebbZie Leksono. Ia membalas twit dari akun couple traveler kondang Adam dan Susan (Pergi Dulu), yang tengah menggelar kuis berhadiah kamera Canon Powershot SX400 IS. Tanpa pikir panjang, segera saya retweet dan meluncur ke link yang ditampilkan.

Lalu, apa alasan saya menulis artikel ini?

Lanjutkan membaca “Saya Mau Pergi Dulu ke Bumi Cenderawasih!”

Tampilan Blog Jalan Pendaki

Teruntuk Jalan Pendaki, Sebuah Apresiasi

Apa yang ada di pikiran Anda tentang makna definitif seorang pendaki gunung?

Keren? Kekar? Kebal badai? Rupawan? Berambut gondrong? Sabar? Perhatian? Dewasa? Atau apa?

Maka ketika dulu (saya lupa kapan persisnya) pertama kali tiba di halaman blog Jalan Pendaki, definisi-definisi yang tersebut di atas luruh. Terlebih, ketika seorang Acen Trisusanto (sang pendaki), memproklamirkan diri sebagai seorang pendaki yang:

“Gue ini pendaki gunung tapi takut segala jenis reptil mulai dari ular, kadal, kadal yang kayak ular, ular yang mirip kadal, dan kura-kura. Bukan takut sih, geli aja. Bhay!”

Lanjutkan membaca “Teruntuk Jalan Pendaki, Sebuah Apresiasi”

Pantai Klayar, Pacitan

Pantai-pantai Populer di Barat Kota Pacitan

Sebenarnya agak bingung dan rancu jika harus mengucapkan kata “terbaik”. Bukan berarti pantai-pantai lain di tempat kelahiran mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak indah dan tidak lebih baik. Kata “terbaik” di sini bersifat subjektif. Murni berdasarkan pendapat dan pengalaman saya pribadi. Dan, untuk saat ini saya berikan ulasan kelima pantai yang berada di sebelah barat kota Pacitan tersebut. Sisanya, kelak saat saya kembali mendapatkan kesempatan bertualang lebih jauh.

Bisa dibilang, judul di atas belum selesai (belum titik). Tetapi, jika ditambahkan beberapa kata lagi dirasa terlalu panjang. Karena, yang saya maksud: berikut ini adalah ulasan singkat tentang lima pantai terbaik di barat kota Pacitan, yang layak untuk sekadar menghabiskan akhir pekan, mendirikan tenda (camp), atau bahkan berburu matahari terbit (sunrise) dan tenggelam (sunset).

 

Pantai Klayar Pacitan

Kelima pantai pilihan saya ini bukanlah tolok ukur mutlak bagi yang ingin berlibur ke Pacitan. Tetapi, kelima pantai ini kerap memberikan kesan mendalam bagi tamu-tamunya. Bagi saya, ada yang istimewa dengan kelima pantai tersebut.

Cara terbaik untuk mengunjunginya adalah dengan bersepeda motor. Transportasi beroda dua ini merupakan pilihan paling efisien, efektif, dan hemat sampai saat ini. Dikarenakan keterbatasan transportasi publik di Kabupaten Pacitan. Sudah siap? Mari kita mulai menyusuri dari sebelah barat kota Pacitan.

Lanjutkan membaca “Pantai-pantai Populer di Barat Kota Pacitan”

Tenda kami di Telaga Dringo

Telaga Dringo: Sunyi, Jawaban Yang Dicari

Maaf. Pantat saya terasa menipis. Bahasa gaulnya “tepos”. Perjalanan dari Yogyakarta hingga benar-benar berhenti di tempat ini sungguh tak singkat. Dan kebetulan lebih sering berposisi sebagai yang dibonceng. Memanggul carrier 75+10 liter yang menarik-narik tubuh, ketika motor menapak tanjakan itu rasanya melelahkan.

Akhirnya. Tak menyangka sebenarnya kami berdua sampai di tempat ini. Saya dan Uki merasa beruntung menginjakkan kaki di sini, sebelum hujan turun terlampau deras. Walau memang, saat mendirikan tenda kami agak tergesa karena rintik gerimis semakin deras. Tetapi, setelah tenda berdiri kokoh, gerimis mulai perlahan mereda.

 

Di dalam tenda, kami berdua mengungkit kembali perjuangan perjalanan dari Yogya. Dan masuk di kabupaten yang menaungi tempat cantik ini, kami beruntung bertemu orang-orang yang ramah. Mereka yang dengan murah senyum menunjukkan arah tempat yang akan kami tuju.

“Dringo? Dringo?” tanya seorang petani yang baru pulang dari ladang.

Petani itu mengucapkan kata Dringo dengan lafal “o” yang berbunyi seperti pada kata “ijo”. Entah, saya kadung akrab melafalkan dengan bunyi “o” seperti pada “buto”. Dan akhirnya, saya malah nyaman dengan pelafalan Bapak petani tadi. Sudahlah.

Inggih, Pak, Telogo Dringo, pripun arahipun?” (1)

Lanjutkan membaca “Telaga Dringo: Sunyi, Jawaban Yang Dicari”

Arief Yahya dan Abdullah Azwar Anas, dua putra kebanggaan Banyuwangi (Sumber: banyuwangikab.go.id)

Di Tangan Arief Yahya, Saya Memilih Percaya

Sebentar, saya memejamkan mata dan menarik napas dalam terlebih dahulu. Hmm…

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu ‘alaikum, sugeng siang,

Kelendhi, Byapak, riko wis madhyang? Nek Isun wis tuwuk madhyang, ambekno Isun karipan. (*)

Ndhiko, Bapak Menteri. Njenengan jangan tertawa, ya. Kosakata bahasa Osing saya masih dangkal. Sehingga kadang-kadang saya masih belajar menambah perbendaharaan bahasa Osing dengan teman-teman yang asli Banyuwangi. Juga mendengarkan tembang dangdut Banyuwangian.

Sebelumnya, terimalah permohonan maaf saya jika surat ini tanpa amplop. Ya, pikir saya supaya tidak berkesan salam tempel atau ngasih “titipan” yang bisa dicurigai pimpinan KPK. Jadi, mohon dimaklumi jika tulisannya agak lecek. Bahasa halusnya “kusut”. Mohon diterima dan dibaca dengan lapang dada.

Sebenarnya akan menghabiskan puluhan ribu karakter kata dan berlembar-lembar halaman jika mengupas tentang pariwisata Indonesia dan seisinya. Maka bolehlah jika nanti saya menyelipkan sedikit pengalaman saat bertualang. Karena, saya juga seorang pejalan dan mencintai negeri ini. Nah, makanya saya menulis surat ini.

Lanjutkan membaca “Di Tangan Arief Yahya, Saya Memilih Percaya”

Jalur pendakian antara Shelter II Kokopan dan Shelter III Pondokan

SRIWIJAYA Inflight Magazine November 2014: Berjuang Menyambut Pagi

Banyak pendaki bangga berdiri di puncak Mahameru, tanah tertinggi di Pulau Jawa. Hanya sedikit di antara mereka yang berani mendaki hingga puncak Arjuno.

Bersama dua kawan saya, Rendra dan Dodik, kami menunggang sepeda motor menuju Tretes. Suhu udara bulan April itu tidak terlalu dingin. Dengan langkah yang perlahan tapi stabil, jalur aspal yang berganti jalan cor terjal kami lalui hingga tiba di Shelter I atau Pet Bocor. Dari pos yang memiliki sumber air ini, bulan terlihat berpendar bulat dan bintang bertebaran. Cuaca malam itu sangat cerah sesuai harapan kami.

Pendakian ke puncak Arjuno yang sesungguhnya dimulai ketika kami melewati sebuah pos jaga dan portal sebagai tanda memasuki kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R. Soerjo. Jalan cor berubah total menjadi makadam di mana trek didominasi batu-batu berukuran sedang. Trek makadam berbatu itu menanjak dan berputar-putar seakan mencoba menguji kesabaran. Sesekali kami berhenti untuk mengatur napas dan menyeka keringat.

Lanjutkan membaca “SRIWIJAYA Inflight Magazine November 2014: Berjuang Menyambut Pagi”

Istana Pakualaman Yogyakarta

Sugeng Enjing, Pakualaman

Suara riuh di dalam warnet kembali membangunkan tidur saya. Rupanya sudah Subuh. Sebelum hari beranjak semakin terang, saya segera membangunkan Uki. Rekan perjalanan kelahiran Kudus itu benar-benar terlelap. Matanya masih sayu tanda enggan meninggalkan mimpi.

Diikuti Uki, saya menyeret kaki menuju Masjid Besar Pakualaman. Bukan, bukan untuk pindah tempat tidur. Tetapi untuk menunaikan salat Subuh. Air wudunya menyegarkan. Salat pun terasa teduh. Terpenting, saya bisa salat tepat waktu.

Lanjutkan membaca “Sugeng Enjing, Pakualaman”

Kisah cinta antar lawan jenis di Sade adalah yang paling pertama dijelaskan oleh sang guide

Ada Pesan Lestari Di Sade

Rasanya cukup lelah setelah menikmati Pantai Batu Payung dan Tanjung Aan. Terlebih, makan siang yang mengenyangkan membuat tubuh rasanya ingin segera menemukan lelap. Namun Pak Husni, sang guide, mengingatkan masih ada satu tempat lagi yang dikunjungi sebelum menuju bandara.

Tempat itu adalah Sade, sebuah dusun di Desa Rembitan. Masih dalam kawasan Lombok Tengah yang rupanya menaungi banyak tempat bagai manikam di Pulau Lombok. Sebuah pemukiman di mana adat Sasak sebagai penduduk asli Pulau Lombok masih dijunjung tinggi. Lanjutkan membaca “Ada Pesan Lestari Di Sade”

Pantai Batu Payung

Mega, Langit Biru, dan Sang Saka

Langit pagi ini tidaklah menggembirakan. Selat Lombok seperti bernuansa mistis. Kabut putih cukup tebal, sampai-sampai Gunung Agung hanya menampakkan bagian puncaknya. Namun, hal itu tidak mengurangi lahapnya sarapan terakhir di Hotel Jayakarta, di tepi laut Senggigi. Saya, bersama teman-teman blogger dan fotografer larut dalam percakapan yang sempat terselip.

“Mending kulineran taliwang lagi saja,” celetuk Barry Kusuma. Agak masuk akal idenya, melihat cuaca terkini.

“Belum tentu juga, Om. Siapa tahu di pantai nanti bisa cerah,” ujar saya mencoba menghibur diri.

 

Alam tak mudah ditebak. Terkadang menggembirakan, terkadang suram. Sepertinya kami semua satu pikiran, berharap agar cuaca bersahabat di Batu Payung nanti. Hanya saja, sementara saya masih berandai-andai seperti apa rupa Batu Payung itu. Saya berusaha mengerem ekspektasi.

Lanjutkan membaca “Mega, Langit Biru, dan Sang Saka”

#SaveSempuMLG: Pulau Sempu, Apa Kini Maumu?

Sebelumnya, saya mohon maaf, nyuwun pangapunten jika tulisan ini terkesan acak dan kacau. Jika boleh bergurau, saya menulis dari emosi yang terdalam. Maklum, ini termasuk isu yang sensitif. Saya hanya ingin berbagi dan mengajak njenengan untuk turut berbagi. Semoga cukup mewakili. Pembaca yang budiman, tahukah rasanya bagaimana tersentil itu? Atau jika dalam bahasa Jawa “dijawil”. Dicolek pada bagian tubuh dan membuat njenengan kaget, geli hingga bergeliat. Saya pernah merasakannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kini akan diceritakan rasanya tersentil. Padahal saya belum melakukan apa-apa. Hanya pernah sempat berhasrat saja lalu menguap. Lalu memilih untuk dibiarkan terpendam dan hilang selamanya.

Mungkin sebagian dari njenengan ada yang sudah pernah membaca artikel yang ditulis apik dan menggugah dari dua sahabat blogger dengan judul-judul berikut: Lebih Baik Jangan Ke Pulau Sempu yang ditulis Mas Wisnu Yuwandono dan Selamat! Anda Telah Berhasil “Merusak” Pulau Sempu yang ditulis oleh Mas Pradikta Dwi Anthony. Tulisan mereka mendapat beragam komentar. Biasa, pro dan kontra. Wujud dari kebebasan berpendapat. Monggo silakan njenengan baca dulu barangkali penasaran dan silakan tinggalkan komentar atas tulisan mereka. Sudah membaca? Mari jika berkenan saya ajak menyimak apa yang hendak saya utarakan. Sama seperti mereka. Sederhana saja, anggap saja sebagai buah pemikiran orang sipil yang berusaha untuk peduli. Meskipun belum terlihat aksi nyata, tapi saya mencoba berusaha beraksi lewat kata-kata.
Lanjutkan membaca “#SaveSempuMLG: Pulau Sempu, Apa Kini Maumu?”

Monumen Jenderal Sudirman

Duhai Jenderal Besar, Kami Merindukanmu

Saya lupa hari apa saat itu.

Pembimbing lapang saya (Kasi Pangan di dinas) sedang kunjungan lapang ke kecamatan-kecamatan. Saya mohon izin untuk keliling ke arah Kecamatan Arjosari dan Nawangan, sekitar 45 km dari kota Pacitan. Selain melihat kondisi dan sistem pertanian di sana, saya penasaran dengan sebuah monumen yang terletak di atas bukit. Sebuah monumen yang benar-benar menggambarkan betapa terhormatnya pribadi yang tertancap kokoh, menjulang tinggi.

Lanjutkan membaca “Duhai Jenderal Besar, Kami Merindukanmu”

Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga

Foto bersama Muchlis saat aksi bersih-bersih Kali Brantas bersama Jawa Pos Radar Malang
Foto bersama Muchlis (pakai topi) saat aksi bersih-bersih Kali Brantas bersama Jawa Pos Radar Malang

Izinkan saya bernyanyi,

Ingatkanku semua, wahai sahabat; kita untuk selamanya, kita percaya;  kita tebarkan arah dan tak pernah lelah; ingatkanku semua, wahai sahabat…

Penggalan lagu Sahabat milik Peterpan tiba-tiba terngiang saat memeluk erat tubuhnya yang kurus. Rasanya tangan ini begitu ingin mencengkeram lebih dalam jaket hitam yang menyelimuti tubuhnya. Rasa haru yang tertahan sejak berangkat dari rumahnya di Gresik nyata-nyata hendak membuncah, beriring air mata yang nyaris keluar. Kami saja yang “hanya” teman dan sahabat sangat terharu melepas keberangkatannya ke Jakarta, apalagi orangtuanya, terutama sang ibundanya yang lugu. Bapak dan pakdenya nan bersahaja nampak tegar, serupa dengan adik perempuannya, Rara. Riuh lobi stasiun Pasar Turi sore itu seperti jadi saksi pertemuan ini. Berulang kali saya menepuk pundak sang ibu, menghiburnya sedikit demi menguatkan hatinya. Saya bicara dalam bahasa Jawa krama yang intinya “Yang penting doa dan restu bapak ibu buat kesuksesan Muchlis. Insya Allah barokah”.

Sudah pukul 16.30, Fitrah dan saya membantu mengangkat tas carrier 60 liternya untuk dibawa Muchlis. Sebuah “kulkas” kehidupan yang akan menemaninya selama di Jakarta nanti, selain bodypack dan daypack-nya. Melihat carrier kesayangannya itu, saya jadi teringat masa-masa silam penuh perjuangan saat awal membangun sebuah “keluarga” baru: Gamananta.

Lanjutkan membaca “Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga”