Tak terasa, setengah jam kemudian perahu merapat ke sebuah dermaga kayu sederhana. Sang nakhoda akan menunggu kami di sini. Setidaknya untuk sementara kami selamat dari ketakutan akan tenggelam saat ini.
Tak terasa, setengah jam kemudian perahu merapat ke sebuah dermaga kayu sederhana. Sang nakhoda akan menunggu kami di sini. Setidaknya untuk sementara kami selamat dari ketakutan akan tenggelam saat ini.
Tiba-tiba terdengar suara yang berderit. Atau bisa dibilang mencicit, seperti suara tikus. Segera kedua kelopak mata terbuka separuh. Setengah sadar.
Kemudian suara kondektur memekik hening. “Semen Bosowa! Semen Bosowa!” Rupanya cicitan tadi berasal dari suara rem bus yang diinjak pedalnya sampai pakem.
Sebuah pertanda berupa lahan padi di tubir anak sungai Kali Glidik menunjukkan bahwa trekking hampir mendekati akhir. Saya melihat arloji. Sudah pukul 09.40. Sudah 40 menit kami berjalan dari tempat parkir.
“Masih jauh, Mas?” tanya Rizky yang berjalan di belakang saya. Saya menggeleng, lalu menelunjuk pada sebuah jembatan bambu di depan kami. Memberi kode pada Rizky dan yang lain bahwa tujuan kami tidak jauh lagi. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh air yang kian jelas. “Kalian dengar suaranya?”

Melakukan pendakian ke Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah lewat jalur Bambangan itu, adalah persoalan bercampurnya rasa penasaran dan pemenuhan tantangan. Seperti apa sih rasanya mendaki gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru itu?
Perlahan tapi pasti, rasa penasaran akan pendakian Gunung Slamet tersebut mulai terpupus saat hari keberangkatan. Panjang dan lelahnya perjalanan dari Malang ke stasiun Surabaya Gubeng, lalu dilanjut dengan kereta api Logawa ke stasiun Purwokerto luruh seketika setibanya saya dan teman-teman setim di basecamp Bambangan. Kami disambut tuan rumah pemilik basecamp dengan suguhan makan malam nasi, mi goreng, kering tempe, telur mata sapi dan mendoan. Sangat mengenyangkan dan saya pun makan dengan kalap. “Sambutan” yang sangat hangat, bukti keramahan warga di kaki gunung.
Angin malam berembus menusuk, memasuki celah jendela dan langit basecamp. Sementara yang lain merasakan kehangatan lelap dalam sleeping bag, saya memilih tidur dengan berselimut sarung. Tak sabar untuk segera meniti jejak di hutan rimba Gunung Slamet esok pagi.
Lanjutkan membaca “Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Atap Tertinggi Jawa Tengah”
Saat itu, malam terakhir di tahun 2014. Ketika sebagian warga desa Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo, siap mengisi pergantian tahun dengan gegap gempita, tak demikian Sahroni. Pria tambun berkulit sawo matang itu memilih melakukan rutinitasnya. Yang lebih sunyi.
Selepas isya, dibukanya gerbang Candi Pari. Suara engsel pagar besi hijau sekilas terdengar menyayat. Mengiringi langkah kakinya. Dengan tenang, Sahroni memasuki bagian dalam candi.
Tulisan dan foto oleh:
Fissabil Adam
Foto sampul:
Suasana waduk Gondang, wisata andalan kota Lamongan
Sebagian orang bilang bahwa tempat yang tenang ialah tempat yang jauh dari keramaian. Memang benar seperti itu nyatanya.
Lanjutkan membaca “Merindukan Waduk Gondang, Simbol Ketenangan di Pedesaan”
Garis pantainya cukup panjang. Namun tak sepanjang Pulau Merah di Banyuwangi. Air laut bergradasi warna biru gelap dan tosca semakin berombak. Hendak pasang. Tak bosan menerjang pesisir yang berpasir putih. Padahal langit biru di angkasa tenang-tenang saja. Seperti Pulau Sempu di sisi barat yang diam dan tegar.
Lanjutkan membaca “Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri”

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih sedikit. Sudah 4 jam perjalanan dari Bawak Nao, desa tempat kami memulai trekking. Kami tiba di sebuah pos ekstra berupa gazebo sederhana beratap seng yang serba hijau. Pos peristirahatan di antara Pos II Tengengean dan mendekati Pos III Padabalong.
Lanjutkan membaca “Halimun Terselak di Plawangan Sembalun”

Alarm ponsel berdering pukul 2.00 dinihari. Hari ketiga pendakian kami, 5 April 2013, sudah terlewat dua jam. Harusnya kami terbangun saat alarm pertama berdering, pukul 00.30 dinihari. Harusnya pukul 2.00 ini kami sudah berjalan ke puncak Welirang. Harusnya rencana perjalanannya seperti itu.
Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)”

Rombongan pendaki gabungan asal Jakarta, Bandung, Manado itu sedang asyik bercanda di tengah istirahatnya. Sebagian berdiri, sebagian duduk di atas tanah berundak dengan kemiringan sedang. Di dalam rimba rapat Alas Lali Jiwo nan teduh. Tak jauh di bawah patok perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Kami bersua dan saling menyapa rombongan pendaki yang seluruhnya laki-laki itu. Baru saja 10 menit berjalan dari Pasar Dieng. Setelah turun dari puncak Ogal-Agil.
Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)”

Waktu menunjukkan pukul 16.40 WIB. Puncak Candi Sepilar, tempat mistis dengan sembilan arca yang mengawal arca para Pandawa moksa pun sudah jauh terlewati. Sudah hampir empat jam kami berjalan dari Mangkutoromo. Tapi tak jua menemukan Jawa Dwipa -yang seharusnya hanya berjarak 1,5 jam menurut rencana perjalanan-, apalagi tempat camp yang kami inginkan sesuai rencana awal. Tempat datar yang terletak sedikit di atas pertigaan jalur Purwosari-Lawang. Tapi bahkan kami pun belum sampai pada pertigaan jalur tersebut.
Sepertinya kami salah mengambil jalur. Kami sempat ragu dengan percabangan setelah Candi Sepilar. Kami memilih jalur ke kanan yang langsung menanjak daripada ke kiri yang agak menurun lalu menanjak kembali.
Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)”
Kami sedang dalam perjalanan kembali ke tempat parkir atas. Menapaki jalan berlapis cor dan tanah yang berselang-seling. Hanya selebar dua sepeda motor berjajar dan agak licin. Menanjak, berliku, dan menguras tenaga. Pak Pono berjalan paling depan, diikuti oleh Eko dan saya.
Di tengah napas memburu, tebersit sebuah ide dalam pikiran. “Bagaimana kalau coban yang tadi, dinamakan Coban Goa Lowo, Pak? Air Terjun Gua Kelelawar?” Saya mengusulkan.
Langkah kami bertiga langsung terhenti. Kami saling berpandangan. Dengan tetap memanggul kayu batangan di bahu kanan, Pak Pono mengangguk lalu bertanya balik kepada saya, “Ngunu ae (begitu saja) ya, Mas?”
Lanjutkan membaca “Air Terjun Gua Kelelawar (Coban Goa Lowo) Malang”
Masih tiga jam lagi menuju tengah malam.
Lampu dekat dan lampu jauh motor bergantian dihidupkan. Menyesuaikan kontur jalan beraspal penuh lubang yang tertutup abu. Lampu dekat untuk jalan datar. Lampu jauh untuk jalan menanjak. Keberadaan helm pun menjadi dilema. Kaca ditutup, pandangan menjadi kurang jelas. Kaca dibuka, abu yang mengandung silika tak segan mengganggu pandangan dan pernapasan. Solusinya pun sederhana. Melajukan motor perlahan, percaya diri pada intuisi. Dan juga sistem buka-tutup pada kaca helm pun berlaku.
Lanjutkan membaca “Asa Dari Tepi Kaldera”

Manusia hanyalah tamu di hutan dan gunung. Alam bebas yang segala gerak-geriknya di luar kuasa kita. Apalah kita, yang hanya pendatang, kadang mengusik kehidupan penghuni-penghuni terdahulu. Fauna, flora, gejala-gejala alam, bahkan hingga sesuatu yang tak kasat mata.
Seperti saat itu.
Lanjutkan membaca “Tamu Tak Diundang”

Tomi membuka tas ransel yang ia bawa. Mengeluarkan sejumlah biskuit, roti tawar, dan sebotol air mineral 1,5 liter. Saya, bersama Mustofa dan Figur yang sedang asyik memotret, segera menghampirinya. Ikut merapat, sudah waktunya sarapan. Di atas tanah berbatu dan berdebu, di tengah embusan angin puncak yang cukup kencang dan dingin, kami menikmati sarapan ringan ini dengan nikmat.
Di tengah sarapan, dari arah jalur pendakian, tiba-tiba mendekat sekelompok pendaki. Empat orang laki-laki, seorang perempuan. Hanya tas selempang dan kamera yang melekat di antara tubuh mereka. Langkah mereka agak gontai. Seorang di antaranya mendekati kami.
“Permisi, Mas,” Sapa perempuan bermata sipit dengan pakaian serba hitam dan bersepatu gunung warna cokelat.
“Ya, Mbak?” Jawab kami berempat serempak.
Lanjutkan membaca “Teman Saya di Belakang”