AIr terjun Kapas Biru

Kembali ke Kapas Biru

Sebuah pertanda berupa lahan padi di tubir anak sungai Kali Glidik menunjukkan bahwa trekking hampir mendekati akhir. Saya melihat arloji. Sudah pukul 09.40. Sudah 40 menit kami berjalan dari tempat parkir.

“Masih jauh, Mas?” tanya Rizky yang berjalan di belakang saya. Saya menggeleng, lalu menelunjuk pada sebuah jembatan bambu di depan kami. Memberi kode pada Rizky dan yang lain bahwa tujuan kami tidak jauh lagi. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh air yang kian jelas. “Kalian dengar suaranya?”

Lanjutkan membaca “Kembali ke Kapas Biru”

Warga dusun melintas di jalan kampung dengan latar belakang Gunung Slamet

Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Atap Tertinggi Jawa Tengah

Warga dusun melintas di jalan kampung dengan latar belakang Gunung Slamet

Melakukan pendakian ke Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah lewat jalur Bambangan itu, adalah persoalan bercampurnya rasa penasaran dan pemenuhan tantangan. Seperti apa sih rasanya mendaki gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru itu?

Perlahan tapi pasti, rasa penasaran akan pendakian Gunung Slamet tersebut mulai terpupus saat hari keberangkatan. Panjang dan lelahnya perjalanan dari Malang ke stasiun Surabaya Gubeng, lalu dilanjut dengan kereta api Logawa ke stasiun Purwokerto luruh seketika setibanya saya dan teman-teman setim di basecamp Bambangan. Kami disambut tuan rumah pemilik basecamp dengan suguhan makan malam nasi, mi goreng, kering tempe, telur mata sapi dan mendoan. Sangat mengenyangkan dan saya pun makan dengan kalap. “Sambutan” yang sangat hangat, bukti keramahan warga di kaki gunung.

Angin malam berembus menusuk, memasuki celah jendela dan langit basecamp. Sementara yang lain merasakan kehangatan lelap dalam sleeping bag, saya memilih tidur dengan berselimut sarung. Tak sabar untuk segera meniti jejak di hutan rimba Gunung Slamet esok pagi.

Lanjutkan membaca “Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Atap Tertinggi Jawa Tengah”
Candi Pari, terletak di tengah pemukiman yang cukup padat.

Candi Pari dan Sahroni

Saat itu, malam terakhir di tahun 2014. Ketika sebagian warga desa Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo, siap mengisi pergantian tahun dengan gegap gempita, tak demikian Sahroni. Pria tambun berkulit sawo matang itu memilih melakukan rutinitasnya. Yang lebih sunyi.

Selepas isya, dibukanya gerbang Candi Pari. Suara engsel pagar besi hijau sekilas terdengar menyayat. Mengiringi langkah kakinya. Dengan tenang, Sahroni memasuki bagian dalam candi.

Lanjutkan membaca “Candi Pari dan Sahroni”

Akbar berjalan di atas pasir putih Pantai Sendiki Malang

Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri

Garis pantainya cukup panjang. Namun tak sepanjang Pulau Merah di Banyuwangi. Air laut bergradasi warna biru gelap dan tosca semakin berombak. Hendak pasang. Tak bosan menerjang pesisir yang berpasir putih. Padahal langit biru di angkasa tenang-tenang saja. Seperti Pulau Sempu di sisi barat yang diam dan tegar.

Lanjutkan membaca “Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri”

Plawangan Sembalun (2.639 mdpl), gigiran punggungan yang datar memanjang. Tempat camp terakhir sebelum puncak Gunung Rinjani.

Halimun Terselak di Plawangan Sembalun

Plawangan Sembalun (2.639 mdpl), gigiran punggungan yang datar memanjang. Tempat camp terakhir sebelum puncak Gunung Rinjani.
Plawangan Sembalun (2.369 mdpl), gigiran punggungan yang datar memanjang. Tempat camp terakhir sebelum puncak Gunung Rinjani.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang lebih sedikit. Sudah 4 jam perjalanan dari Bawak Nao, desa tempat kami memulai trekking. Kami tiba di sebuah pos ekstra berupa gazebo sederhana beratap seng yang serba hijau. Pos peristirahatan di antara Pos II Tengengean dan mendekati Pos III Padabalong.

Lanjutkan membaca “Halimun Terselak di Plawangan Sembalun”
Lutfi di kejauhan tampak berjalan meninggalkan kawasan puncak Welirang

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)


Alarm ponsel berdering pukul 2.00 dinihari. Hari ketiga pendakian kami, 5 April 2013, sudah terlewat dua jam. Harusnya kami terbangun saat alarm pertama berdering, pukul 00.30 dinihari. Harusnya pukul 2.00 ini kami sudah berjalan ke puncak Welirang. Harusnya rencana perjalanannya seperti itu.

Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)”
Lutfi (kiri) dan Dani sedang beristirahat dalam perjalanan ke puncak di seonggok pohon cemara gunung yang tumbang, di kawasan Alas Lali Jiwo.

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)


Rombongan pendaki gabungan asal Jakarta, Bandung, Manado itu sedang asyik bercanda di tengah istirahatnya. Sebagian berdiri, sebagian duduk di atas tanah berundak dengan kemiringan sedang. Di dalam rimba rapat Alas Lali Jiwo nan teduh. Tak jauh di bawah patok perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Kami bersua dan saling menyapa rombongan pendaki yang seluruhnya laki-laki itu. Baru saja 10 menit berjalan dari Pasar Dieng. Setelah turun dari puncak Ogal-Agil.

Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)”
Dani berjalan di antara batu-batu besar yang tercoreng vandalisme di Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)


Waktu menunjukkan pukul 16.40 WIB. Puncak Candi Sepilar, tempat mistis dengan sembilan arca yang mengawal arca para Pandawa moksa pun sudah jauh terlewati. Sudah hampir empat jam kami berjalan dari Mangkutoromo. Tapi tak jua menemukan Jawa Dwipa -yang seharusnya hanya berjarak 1,5 jam menurut rencana perjalanan-, apalagi tempat camp yang kami inginkan sesuai rencana awal. Tempat datar yang terletak sedikit di atas pertigaan jalur Purwosari-Lawang. Tapi bahkan kami pun belum sampai pada pertigaan jalur tersebut.

Sepertinya kami salah mengambil jalur. Kami sempat ragu dengan percabangan setelah Candi Sepilar. Kami memilih jalur ke kanan yang langsung menanjak daripada ke kiri yang agak menurun lalu menanjak kembali.

Lanjutkan membaca “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)”
Pak Pono di kejauhan. Sedang mencari posisi yang sinyalnya stabil untuk menelepon kawannya.

Air Terjun Gua Kelelawar (Coban Goa Lowo) Malang

Kami sedang dalam perjalanan kembali ke tempat parkir atas. Menapaki jalan berlapis cor dan tanah yang berselang-seling. Hanya selebar dua sepeda motor berjajar dan agak licin. Menanjak, berliku, dan menguras tenaga. Pak Pono berjalan paling depan, diikuti oleh Eko dan saya.

Di tengah napas memburu, tebersit sebuah ide dalam pikiran. “Bagaimana kalau coban yang tadi, dinamakan Coban Goa Lowo, Pak? Air Terjun Gua Kelelawar?” Saya mengusulkan.

Langkah kami bertiga langsung terhenti. Kami saling berpandangan. Dengan tetap memanggul kayu batangan di bahu kanan, Pak Pono mengangguk lalu bertanya balik kepada saya, “Ngunu ae (begitu saja) ya, Mas?”

Lanjutkan membaca “Air Terjun Gua Kelelawar (Coban Goa Lowo) Malang”

Asa Dari Tepi Kaldera

Masih tiga jam lagi menuju tengah malam.

Lampu dekat dan lampu jauh motor bergantian dihidupkan. Menyesuaikan kontur jalan beraspal penuh lubang yang tertutup abu. Lampu dekat untuk jalan datar. Lampu jauh untuk jalan menanjak. Keberadaan helm pun menjadi dilema. Kaca ditutup, pandangan menjadi kurang jelas. Kaca dibuka, abu yang mengandung silika tak segan mengganggu pandangan dan pernapasan. Solusinya pun sederhana. Melajukan motor perlahan, percaya diri pada intuisi. Dan juga sistem buka-tutup pada kaca helm pun berlaku.

Lanjutkan membaca “Asa Dari Tepi Kaldera”
Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Teman Saya di Belakang

Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru
Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Tomi membuka tas ransel yang ia bawa. Mengeluarkan sejumlah biskuit, roti tawar, dan sebotol air mineral 1,5 liter. Saya, bersama Mustofa dan Figur yang sedang asyik memotret, segera menghampirinya. Ikut merapat, sudah waktunya sarapan. Di atas tanah berbatu dan berdebu, di tengah embusan angin puncak yang cukup kencang dan dingin, kami menikmati sarapan ringan ini dengan nikmat.

Di tengah sarapan, dari arah jalur pendakian, tiba-tiba mendekat sekelompok pendaki. Empat orang laki-laki, seorang perempuan. Hanya tas selempang dan kamera yang melekat di antara tubuh mereka. Langkah mereka agak gontai. Seorang di antaranya mendekati kami.

“Permisi, Mas,” Sapa perempuan bermata sipit dengan pakaian serba hitam dan bersepatu gunung warna cokelat.

“Ya, Mbak?” Jawab kami berempat serempak.

Lanjutkan membaca “Teman Saya di Belakang”