Akbar berjalan di atas pasir putih Pantai Sendiki Malang

Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri

Garis pantainya cukup panjang. Namun tak sepanjang Pulau Merah di Banyuwangi. Air laut bergradasi warna biru gelap dan tosca semakin berombak. Hendak pasang. Tak bosan menerjang pesisir yang berpasir putih. Padahal langit biru di angkasa tenang-tenang saja. Seperti Pulau Sempu di sisi barat yang diam dan tegar.

Lanjutkan membaca “Pantai Sendiki Malang Yang Kian Membuka Diri”

Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan

Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan

Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan

Rindu itu tidak mengenal jarak dan waktu. Rindu itu tak terkotakkan dalam satu definisi dan rupa.

Rindu bisa muncul di tengah-tengah, kala ulama besar Imam Asy Syafi’i menganjurkan manusia untuk merantau. Menempuh perjalanan menuju tempat perantauan, tak peduli seberapa jauh jaraknya. Menjadi asing sekaligus bernilai di tempat yang baru.

Namun, saya menjadi paham bahwa setiap orang berhak memaknai rindu bahkan dengan cara yang paling sederhana. Dalam perjalanan hidupnya, seseorang bisa merindu karena setitik alasan. Terlebih saat berada di perantauan.

Lanjutkan membaca “Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan”
Teman seperjalanan sedang asyik berswafoto

(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul

Saya menuruni tebing sebentar, menghampiri ketiga rekan perjalanan saya, yang masih asyik berfoto ria. “Eh, kalian nggak ke atas kah? Ke Coban Papat?” Ketiganya menoleh. Eko, menyahut pertanyaan saya, “Awakmu wes merono ta?” Saya mengangguk, tadi sudah menyempatkan pergi terlebih dahulu ke Coban Papat sendiri.

Lanjutkan membaca “(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul”

Candi Singhasari, Malang

Candi Singhasari: Mengenang Sisa Kejayaan Kertanagara

Dalam prasasti Mula Malurung yang ditulis tahun 1255, disebutkan bahwa pada 1254, Wisnuwardhana mengangkat anaknya, Kertanagara sebagai yuwaraja (putra mahkota). Dan seolah sudah mengetahui kapan kematian menjemputnya (Wisnuwardhana wafat tahun 1270 dan didharmakan di Candi Jago, Tumpang), singgasana maharaja diberikan kepada Kertanagara pada tahun 1268. Perlahan-lahan, di bawah kendalinya, Kerajaan Singhasari mencapai puncak kejayaan.

Ada satu kisah singkat yang paling saya ingat tentang raja keempat Singhasari tersebut. Sebuah kisah yang menggambarkan Kertanagara sebagai raja yang berwibawa dan gagah berani.

Lanjutkan membaca “Candi Singhasari: Mengenang Sisa Kejayaan Kertanagara”

Candi Kidal, Tumpang

Candi Kidal: Bukti Bakti Untuk Anusapati

Samar-samar, ramalan Lohgawae yang berujung pada kisah culas Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung demi Ken Dedes yang jelita terbayang. Terngiang di tengah konsentrasi mengendalikan kemudi motor. Sejarah Singhasari yang dulu sering dibaca saat di bangku SMP, semakin terkenang kuat ketika memasuki Kecamatan Tumpang.

Lalu, sepanjang 7,5 kilometer dari pusat kecamatan, ada keraguan tentang rute yang ditempuh. Petunjuk yang ada di pertigaan tugu kecamatan masih belum banyak membantu. Penjelasan dari seorang tukang tambal ban akhirnya menuntun arah menuju Candi Kidal. Ternyata petunjuknya cukup mudah, temukan balai desa Kidal, maka tak jauh dari sana Candi Kidal berada.

Lanjutkan membaca “Candi Kidal: Bukti Bakti Untuk Anusapati”