Hari Kemenangan

Hari Kemenangan

Saya, Emmy (istri), dan Najih (adik) baru saja tiba di Stasiun Surabaya Gubeng, pada Senin dini hari lalu (24/3), setelah perjalanan empat jam dari Yogyakarta. Kami mudik ke rumah orang tua saya di perbatasan Sidoarjo–Surabaya. Supaya hemat waktu karena ingin segera sahur di rumah, kami memilih naik taksi Bluebird.

Seorang bapak bertubuh jangkung—taksiran saya usianya sudah kepala lima—dengan kemeja batik lengan pendek dan celana panjang biru khas Bluebird menyongsong kami. Tampaknya ia adalah sopir yang sedang menunggu jatah untuk berangkat. Dan inilah garis takdirnya, seperti hari-hari biasanya.

Belum sempat saya meminta, si bapak sudah berinisiatif menawarkan jasanya dengan ramah. “Taksi Bluebird?” Saya mengangguk. “Monggo saya bantu bawakan.” Barang kami banyak, ada tiga koper, tiga ransel, sejumlah totebag. “Tidak apa-apa, Mas. Sudah biasa.”

Lanjutkan membaca “Hari Kemenangan”

Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga

Foto bersama Muchlis saat aksi bersih-bersih Kali Brantas bersama Jawa Pos Radar Malang
Foto bersama Muchlis (pakai topi) saat aksi bersih-bersih Kali Brantas bersama Jawa Pos Radar Malang

Izinkan saya bernyanyi,

Ingatkanku semua, wahai sahabat; kita untuk selamanya, kita percaya;  kita tebarkan arah dan tak pernah lelah; ingatkanku semua, wahai sahabat…

Penggalan lagu Sahabat milik Peterpan tiba-tiba terngiang saat memeluk erat tubuhnya yang kurus. Rasanya tangan ini begitu ingin mencengkeram lebih dalam jaket hitam yang menyelimuti tubuhnya. Rasa haru yang tertahan sejak berangkat dari rumahnya di Gresik nyata-nyata hendak membuncah, beriring air mata yang nyaris keluar. Kami saja yang “hanya” teman dan sahabat sangat terharu melepas keberangkatannya ke Jakarta, apalagi orangtuanya, terutama sang ibundanya yang lugu. Bapak dan pakdenya nan bersahaja nampak tegar, serupa dengan adik perempuannya, Rara. Riuh lobi stasiun Pasar Turi sore itu seperti jadi saksi pertemuan ini. Berulang kali saya menepuk pundak sang ibu, menghiburnya sedikit demi menguatkan hatinya. Saya bicara dalam bahasa Jawa krama yang intinya “Yang penting doa dan restu bapak ibu buat kesuksesan Muchlis. Insya Allah barokah”.

Sudah pukul 16.30, Fitrah dan saya membantu mengangkat tas carrier 60 liternya untuk dibawa Muchlis. Sebuah “kulkas” kehidupan yang akan menemaninya selama di Jakarta nanti, selain bodypack dan daypack-nya. Melihat carrier kesayangannya itu, saya jadi teringat masa-masa silam penuh perjuangan saat awal membangun sebuah “keluarga” baru: Gamananta.

Lanjutkan membaca “Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga”