Seorang pria Tengger berbalut sarung dan mengenakan peci menikmati panorama Bromo

Foto-Foto Puncak B29 Lumajang

Hari Buruh, tiga tahun lalu. Mengawali bulan Mei di tahun 2014, saya bersama tiga orang teman ‘mendadak’ bersepeda motor ke Bukit B29, Desa Argosari, Senduro, Lumajang. Saat itu, punggungan bukit yang termasuk bagian dari tebing kaldera Bromo itu belum lama dibuka untuk wisata.

Dalam pos ini, saya menampilkan foto-foto selama kami berkemah di sana. Foto-foto yang dapat menjadi alasan, bahwa kami ingin kembali ke sana lain waktu. Menikmati alam, menikmati suasana hangat dan ramah di antara masyarakat suku Tengger Argosari. Menikmati Bromo dari sisi timur.

Lanjutkan membaca “Foto-Foto Puncak B29 Lumajang”

Sunrise dari tepi Kaldera Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Probolinggo. Tampak Gunung Semeru di kejauhan.

Ayo, ke Taman Nasional Sekarang Juga!

Dalam tulisan sebelumnya, saya menyebut bahwa saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat beranjangsana ke Labuan Bajo, dan khususnya Taman Nasional Komodo. Walau cuma trekking melihat Komodo, tanpa menyelami bawah lautnya. Walau saya hanya sampai di “pintu”-nya Nusa Tenggara Timur saja. Begitulah impresi pertama tentang Indonesia bagian timur.

Lanjutkan membaca “Ayo, ke Taman Nasional Sekarang Juga!”

Asa Dari Tepi Kaldera

Masih tiga jam lagi menuju tengah malam.

Lampu dekat dan lampu jauh motor bergantian dihidupkan. Menyesuaikan kontur jalan beraspal penuh lubang yang tertutup abu. Lampu dekat untuk jalan datar. Lampu jauh untuk jalan menanjak. Keberadaan helm pun menjadi dilema. Kaca ditutup, pandangan menjadi kurang jelas. Kaca dibuka, abu yang mengandung silika tak segan mengganggu pandangan dan pernapasan. Solusinya pun sederhana. Melajukan motor perlahan, percaya diri pada intuisi. Dan juga sistem buka-tutup pada kaca helm pun berlaku.

Lanjutkan membaca “Asa Dari Tepi Kaldera”
Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Teman Saya di Belakang

Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru
Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Tomi membuka tas ransel yang ia bawa. Mengeluarkan sejumlah biskuit, roti tawar, dan sebotol air mineral 1,5 liter. Saya, bersama Mustofa dan Figur yang sedang asyik memotret, segera menghampirinya. Ikut merapat, sudah waktunya sarapan. Di atas tanah berbatu dan berdebu, di tengah embusan angin puncak yang cukup kencang dan dingin, kami menikmati sarapan ringan ini dengan nikmat.

Di tengah sarapan, dari arah jalur pendakian, tiba-tiba mendekat sekelompok pendaki. Empat orang laki-laki, seorang perempuan. Hanya tas selempang dan kamera yang melekat di antara tubuh mereka. Langkah mereka agak gontai. Seorang di antaranya mendekati kami.

“Permisi, Mas,” Sapa perempuan bermata sipit dengan pakaian serba hitam dan bersepatu gunung warna cokelat.

“Ya, Mbak?” Jawab kami berempat serempak.

Lanjutkan membaca “Teman Saya di Belakang”
Lautan awan puncak Mahameru

Sriwijaya Inflight Magazine Edisi Juni 2015: Selamat Pagi, Mahameru!

Tak bisa dipungkiri, Gunung Semeru dengan puncaknya yang bernama Mahameru merupakan gunung  idaman bagi mayoritas pendaki Indonesia. Statusnya sebagai tanah tertinggi di Pulau Jawa menjadikannya ramai dikunjungi para pendaki demi kebanggaan individu maupun golongan. Dalam pendakian untuk yang keempat kalinya ini, saya membawa misi lebih dari sekadar gengsi. Menyaksikan matahari terbit dari Mahameru untuk yang pertama kalinya adalah hadiah terindah yang tak akan pernah saya lupakan.

Lanjutkan membaca “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi Juni 2015: Selamat Pagi, Mahameru!”