Warung Nasi Goreng

Hari itu Magelang diguyur hujan sejak siang. Ritmenya tak menentu. Kadang deras, kadang gerimis saja. Beberapa saat kemudian mereda, lalu tiba-tiba mak bres lagi. Saya sedikit waswas sambil berdoa, semoga plafon ruang tamu rumah kontrakan tidak merembes terlalu parah.

Jelang berakhirnya jam kerja—saya bekerja di media secara jarak jauh—hujan tak kunjung berhenti. Saya matikan laptop dan menutupnya. Magrib beberapa menit berlalu, sebentar lagi azan Isya berkumandang. Perut sudah bergolak meminta perhatian, begitu pun yang istri saya rasakan. Memang sudah waktunya makan malam.

Tapi, kami baru sadar. Stok makanan telah habis untuk sarapan dan makan siang tadi. Mau masak kok tanggung, mau pesan lewat ojek daring kok juga eman-eman.

Saya pun menawarkan ke istri, “Gimana kalau kita beli makan di luar?”

Ia setuju. Tanpa perlu pikir panjang.

Pergi saat hujan berarti harus sedia mantol, karena kami naik sepeda motor. Saya hampir selalu mengonfirmasi padanya untuk tetap bersabar dan mengamini, semoga kami kelak dimampukan “menambah sepasang roda” dari yang sudah ada sekarang. Supaya tidak kehujanan di jalan.

Sebuah nama warung spesialis olahan sambal terkenal di jantung kota ini jadi tujuan kami awalnya. Saya sudah terbayang akan memesan menu andalan: ayam goreng dan sambal bawang. Kami siap melantas hujan yang belum juga berhenti.

Ban motor menggilas aspal Jalan Magelang yang basah. Seperti biasanya, rutenya tinggal lurus saja selepas perempatan besar Mal Armada Town Square (Artos) yang terkenal memiliki durasi lampu merah lama.

Ketika sudah melewati tepian timur kawasan hutan Gunung Tidar, di tengah deru mesin motor dan lalu-lalang kendaraan lainnya, istri saya menceletuk, “Mas, katanya kalau malam hujan-hujan gini baiknya makan di warung biasa? Gimana kalau cari warung kaki lima yang lagi sepi buat ngelarisi?”

Saya diam sesaat. Kaget. Saya tiba-tiba teringat pernah bilang seperti itu sebelumnya ke istri. Saya mengajaknya untuk “mengamalkan” niat beli makan di warung yang biasanya lagi sepi pembeli saat hujan malam hari. Dan malam ini bisa jadi waktu yang tepat sebenarnya untuk itu.

“Oke. Mau di mana?” Terus terang saya tidak menyiapkan rencana cadangan. Yang jelas, warung makan yang jadi tujuan awal seketika dicoret dari daftar. Istri pun menyerahkan sepenuhnya pada saya. Manut, katanya.

Refleks saya arahkan motor memasuki Jalan Mataram di utara Pasar Rejowinangun. Kemudian pikiran saya menginstruksikan untuk terus menggeber gas menyusuri sepanjang Jalan Sriwijaya.

Beberapa saat berselang istri setengah berteriak, “Itu ada warung nasi goreng!”

Saya langsung menginjak rem dan menepi. Saya menengok ke arah yang ditunjuk istri. Di seberang Depot Es Murni yang tutup, memang ada satu warung nasi goreng yang buka. Ditandai dengan spanduk kain lukis berwarna kuning lusuh.

“Mau di situ? Oke, kita nyeberang.” Saya memarkirkan motor di dekat warung yang menempati lahan trotoar. Hujan malah makin deras. Kami buru-buru melepas mantol dan lekas masuk warung.

Saat kami datang, belum ada pembeli baru lagi. Warung itu dioperasikan dua orang. Bapak-bapak yang tampaknya sebaya. Satu bertugas memasak, satu lagi yang memakai jas hujan dan topi mencatat pesanan dan menyiapkan bahan makanan yang dipesan.

“Pak, nasi goreng telur dadar setunggal, bihun goreng setunggal,” ucap istri saya, “minumnya jeruk panas setunggal mawon.”

Penjual nasi goreng ala kaki lima di seberang Depot Es Murni, Kota Magelang/Rifqy Faiza Rahman

Warung ini amat sederhana. Layaknya warung kaki lima, atap terpal menjadi pelindung dari hujan. Gerobak kayu itu juga biasa saja. Paling hanya satu hal yang menyorot perhatian—terutama istri—yaitu seikat petai tergantung di tiang gerobak. Untuk mengakomodasi pembeli yang makan di tempat seperti kami, hanya ada satu meja kayu agak panjang, di atasnya terdapat sendok, garpu, tisu, dan setoples acar. Kursi-kursi plastik untuk duduk cukup terbatas, tidak lebih dari delapan buah; itu pun dua di antaranya sudah ditempati dua bapak itu.

Kurang dari 15 menit, pesanan kami siap. Asap yang mengepul di atas gunungan nasi goreng telur dadar dan bihun goreng tampak menggugah selera. Terhidang dengan kemasan sederhana pula: piring melamin tipis berwarna putih. Plus, masing-masing dua lembar kerupuk.

Kami datang tanpa berekspektasi lebih. Kami ke sini untuk urusan perut sekaligus memenuhi urusan niat tadi. Pada akhirnya, kami tak membiarkan sebutir nasi atau secuil bihun pun yang tersisa. Piring-piring mengkilat bersih (baca: jejak minyak). Sayang, warung ini tidak muncul di Google Maps, sehingga kami tidak bisa memberi ulasan dan nilai.

Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, saya bilang ke istri, menyampaikan testimoni, “Ternyata enak juga, ya!”

Kedua tangannya memeluk lingkar pinggang saya erat. “Iya, alhamdulillah. Gak nyangka. Mudah-mudahan berkah.”

Saat tadi kami selesai makan dan hendak membayar, tiga orang dengan motor dan berbalut jas hujan datang bersamaan. Satu rombongan. Kami sempat bertegur sapa. Semoga mereka bukanlah pembeli terakhir warung nasi goreng malam itu.

Kian larut, hujan akhirnya purna. Barangkali ada titipan doa-doa yang terbawa ke langit. Mencurahkan berkah untuk orang-orang yang masih mengejar rezeki di tengah dinginnya malam, tatkala orang-orang lain sudah terbenam kenyamanan menjemput mimpi. (*)

6 pemikiran pada “Warung Nasi Goreng

  1. Aku juga sering begini. Biasanya ada beberapa penjual yang jadi langganan karena sering lewat depan rumah. Salah satunya penjual kacang ijo. Hampir setiap malam lewat depan rumah. Kalau pas hujan sering beli, sekaligus nglarisi jualannya. Kadang penjual bakpao pas magrib.

    btw, kita bisa lho menambahkan tempat yang belum ada di gmaps. Nanti bakal diperiksa sama pihak google. Setelah muncul di maps, kita juga bisa kasih review.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke Rifqy Faiza Rahman Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.