Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik

Jejak Batik Tulis Giriloyo

Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik
Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik

Di sebuah saung kayu beralas keramik kuning gading, tiga perempuan berjilbab sedang membatik. Masing-masing duduk di atas dingklik plastik yang hampir tidak terlihat. Tertutup baju. Seakan-akan mereka membatik dengan berjongkok.

Jemari mereka begitu lihai mencanting di atas kain katun putih yang sudah tak polos. Sudah memiliki pola yang memikat. Dua motif klasik dikerjakan oleh Khiftiyah dan Nur Janah,  sedangkan Imaroh membatik motif buah naga. Motif tersebut merupakan motif pengembangan (modern).

Lekuk motif yang rumit itu, tak sekadar bicara mengenai proses membuat pola, mencanting, mewarnai, nglorot (menghilangkan lilin), hingga mencuci. Kerumitan motif tersebut menggambarkan ketelatenan dan kesabaran srikandi pembatik itu. Sesabar saat mereka dan pengrajin batik lainnya melalui ujian berat yang terjadi 11 tahun silam.

Lanjutkan membaca “Jejak Batik Tulis Giriloyo”
Gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk Gunungkidul

Wisata Alam di Desa Bleberan

Butuh 36 tahun bagi pemerintah Kabupaten Gunungkidul menetapkan Bleberan, Kecamatan Playen, sebagai desa wisata. Objek wisata gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk dirintis masyarakat setempat sejak tahun 1974, lalu diresmikan dan dikelola secara maksimal pada 3 Juli 2010. Tahun-tahun yang terentang di antaranya adalah masa kevakuman dan terbatasnya sumber daya manusia, yang berdampak pada kekurangseriusan pengelolaan.

Kini, gapura kokoh menyambut di dua ikon desa wisata Bleberan itu. Hari itu, Saifuddin, juga turut menyambut kami yang tergabung dalam tim #EksplorDeswitaJogja. Pemandu sekaligus pemaket wisata itu mendampingi kami selama di lokasi. Ia menjelaskan berbagai seluk-beluk di balik keberadaan kedua objek wisata yang dipisahkan jarak sejauh 700 meter.

“Mari kita ke gua Rancang Kencono dulu,” ajak Saifuddin.

Lanjutkan membaca “Wisata Alam di Desa Bleberan”

Sentra Blangkon Desa Wisata Bejiharjo

Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya

Wawancara terhenti sesaat. Sejenak, Erna menghentikan kegiatan menjahit sebuah blangkon. “Sebentar ya, Mas.” Ia bilang begitu ketika terdengar seperti suara air yang meluber. Bergemericik. Kemudian ia setengah berteriak, “Mas, tolong matikan pompa airku!”

Yang ia mintai tolong adalah Arif dan kawan-kawan pemandu offroad yang menunggu kami di luar rumah. Saya yang duduk persis di depan Erna bergegas bangkit dan berjalan keluar.

Tapi Arif lebih sigap. Ia berjalan cepat ke arah saklar pompa air yang dimaksud Erna. Letaknya ada di dinding bangunan sederhana di luar rumah. Seketika, suara raungan mesin pompa air berhenti. Gemericik air di tendon juga perlahan berhenti mengalir. Arif kembali bergabung dengan Fian dan Taufiq, ngobrol-ngobrol di atas jip.

Saya kembali duduk di posisi semula. Teman bloger #EksplorDeswitaJogja yang lain kembali antusias mendengarkan cerita Erna, yang melanjutkan kegiatan menjahit blangkon. Dengan duduk bersandar tembok putih rumahnya, dia bertutur mengenai suka dukanya membuat blangkon.

Lanjutkan membaca “Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya”

Visit Tidore Island – To Ado Re, Sultan…

Saya terkesan saat membaca lembar demi lembar disertasi berbahasa Inggris –yang juga dibukukan– karya almarhum Muridan Satriyo Widjojo. Tesis doktoral peneliti LIPI yang diuji pada 2007 di hadapan para promotor Universitas Leiden, Belanda itu, begitu sangat-sangat (saya sengaja menekankan) membuka relung wawasan baru –selain tebal, tentu saja (lebih dari 300 halaman). Karya ilmiah setebal itu berisi riset yang menampilkan satu sosok utama, Sultan Nuku, yang mana terlibat dalam kebangkitan Kesultanan Tidore.

Ada atribusi khusus yang membuat Sultan Nuku begitu dikenal dan dikenang, yaitu jejak Revolusi Tidore. Ada di bagian keempat dalam disertasi tersebut.

Sultan Nuku bukanlah yang pertama dalam tahta Kesultanan Tidore. Tapi lewat Revolusi Tidore-lah, namanya melambung. Ia seakan ditakdirkan Tuhan untuk membuka mata dunia, bahwa Tidore tak bisa dipandang sebelah mata.

Tidore, olehnya dibuat seakan mengabarkan adagium. Boleh kita terbuai dengan kekayaan alam dan budayanya, tapi harus diiringi penghormatan sejarah pada para pendahulu. Pada jasa-jasa atas kemerdekaan Tidore dari Belanda, hingga kemudian secara administratif bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Lanjutkan membaca “Visit Tidore Island – To Ado Re, Sultan…”

Wisata Offroad Gunungkidul

Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo

Stop! Stop! Stop!

Raungan mesin ketiga jip berjenis 4 wheel drive atau berpenggerak empat roda itu berhenti. Itu seiring ketika Arif dan Taufiq, yang masing-masing mengemudikan jip putih dan merah, saling bersahutan memberi aba-aba berhenti. Ketika, ban kanan depan jip hijau yang berada di antara keduanya tersangkut di antara batu-batu penyangga di tepi Kali Oyo.

Fian, pengemudi jip hijau yang saya dan Rizka tumpangi, dengan sigap memindahkan kedua tuas persneling ke gigi satu dan mematikan mesin. Kami pun turun. Hujan semalam sedikit membuat batu-batu penyangga jalur jip yang akan turun ke sungai sedikit renggang.

Tanpa banyak menunggu, dengan gesit mereka bertiga menerapkan langkah darurat.

Lanjutkan membaca “Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo”

Bentuk kepedulian Atria Hotel & Conference Magelang terhadap batik

#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)

Ini hari keempat saya di Jawa Tengah. Setelah sebelumnya berkelana ke Ungaran, Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Temanggung; kini saya masih melanjutkan perjalanan. Magelang, kota yang akan saya tuju.

“Jadi pulang kapan?”

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)”

Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)

Sebuah majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia tergeletak di atas meja kayu. Majalah bersampul garis tepi kuning tersebut terlihat lecek. Buku tamu tebal yang bersandingan di sebelahnya tak kalah kucel pula. Keempat sudutnya juga sudah tak ‘siku’ lagi. Salah satu halaman melipat tegas di tengah-tengahnya. Halaman tersebut mengulas laporan khusus dan cukup lengkap tentang sebuah situs: Liyangan.

“Mbak, pinjam sebentar ya. Mau saya foto tulisannya,” pinta saya kepada seorang perempuan berjilbab penjaga pos informasi. “Iya silakan, Mas.”

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)”

Kabut masih melayang di atas Kali Serayu

#VisitJateng: Para Juara di Kali Serayu Banjarnegara (6)

Sementara Pak Pranoto dan Mas Ari berbalut selimut, saya malah meringkuk dalam sarung. Kehangatan yang beradu dengan dinginnya udara Subuh di tepi Kali Serayu. Pondok penginapan yang berdinding kayu tampak malah mempersilakan angin masuk di antara celahnya.

Saya bergegas menuju kamar mandi yang bersisian dengan tempat tidur. Berwudu antara agak tergesa dan menikmati. Air dari balik kerannya dingin sekaligus menyegarkan.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Para Juara di Kali Serayu Banjarnegara (6)”

Purbasari Pancuran Mas, Purbalingga

#VisitJateng: Agak Tak Rela Meninggalkan Purbalingga (5)

Setelah makan siang di Alas Daun, Purwokerto, Pak Pranoto bergegas menggeber gas menuju Purbalingga. Kesejukan khas Baturraden di lereng Gunung Slamet, mulai perlahan menguap. Mendung tak juga enyah. Tapi masih menyisakan ruang kosong bagi matahari, yang meneruskan sinarnya ke bumi. Terpencar-pencar, layaknya air yang mengucur dari lubang-lubang shower. 

Karena hari sudah beranjak sore, kami hanya menyempatkan singgah cukup lama di dua tempat: Purbasari Pancuran Mas dan Desa Wisata Karangbanjar.

Dari pandangan saya, keduanya sepertinya tipikal: Sama-sama merupakan contoh kreativitas, inovasi dan buah kesuksesan. Yang menghidupkan perekonomian daerah.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Agak Tak Rela Meninggalkan Purbalingga (5)”

Pancuran Pitu, Baturraden

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)

Setelah menapaki ratusan anak tangga -yang saya tak sempat menghitung angka pastinya-, sejumlah lelaki berusia paruh baya menyambut dengan tawaran jasa lulur belerang. Di antara kami, hanya Pak Pranoto yang menyambut tawaran itu. Wajar saja, mungkin beliau perlu melemaskan otot kaki yang sedari kemarin dibuat tegang. Menginjak pedal gas, rem, dan kopling sepanjang Semarang-Temanggung-Wonosobo-Banyumas. Ditambah, berjalan menapaki ratusan undakan anak tangga tadi.

Pak Pranoto pun langsung duduk di dingklik kecil, dengan celana digulung hingga selutut. Seorang lelaki berpakaian lusuh dengan cekatan mengoleskan serbuk lulur belerang ke kedua betisnya. “Enak lho, ayo sini kalau mau coba,” ajak Pak Pranoto.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)”

Baturraden Adventure Forest, Kabupaten Banyumas

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.2)

Gerbang Kebun Raya Baturraden tampak di depan kami. Namun, Pak Pranoto membelokkan mobil ke kanan. “Kita ke BAF dulu ya, baru pulangnya ke Pancuran Pitu,” terangnya. Kebun Raya Baturraden adalah pintu masuk ke Pancuran Pitu.

Sesekali tubuh kami agak berguncang, ketika keempat ban mobil melintasi jalan aspal yang berlubang. Saya sebenarnya kasihan dengan Mbak Ratri dan Mbak Reaca yang duduk di jok belakang. Tentu lebih terguncang. Nama terakhir ini baru bergabung dengan kami sejak tengah malam. Urusan pekerjaan membuatnya terpaksa menyusul di pagi buta, hari kedua family trip ini.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.2)”

Salah satu sudut di dalam kawasan wisata Baturraden

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)

Tubuhnya begitu lebar, kakinya mencengkeram kokoh ke bumi. Berbalut hutan khas tropis yang rimbun, lalu menyisakan tanah kering, berbatu, dan padas di bagian kepalanya. Membelah lima kabupaten. Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang mendapat bagian yang meskipun tak sama rata. Jika cuaca bersahabat, jika kabut dan mendung tak menghalangi. Kita bisa melihatnya berdiri menjulang, seolah mencakar langit. Anggap saja tinggi badan kita sama rata, sekitar 1,6 meter. Jika dihitung mulai dari titik nol dari permukaan laut, maka perlu kurang lebih 2.143 orang untuk saling berdiri di atas kepala satu sama lain; menyamai ketinggiannya.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)”

Peserta parade dari Kabupaten Kudus

#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)

Saya pikir sedang ada pertemuan lintas agama. Ada ulama berpakaian serba putih, mewakili umat Islam. Ada pendeta, bhiksu, bhiksuni, resi, brahmana, lalu disusul di belakangnya orang desa berkebaya. Ternyata bukan. Konsep demikian mengusung semangat pluralisme. Mengingatkan saya tentang sejarah salah satu anggota dewan Wali Songo, Sunan Kudus. Bagaimana dulu ia memikat pribumi setempat terhadap agama Islam. Dakwahnya santun, halus, tanpa memberangus kebudayaan setempat yang saat itu mayoritas beragama Hindu.

Terjadi akulturasi budaya, yang bukti sejarahnya bisa kita lihat di arsitektur menara Masjid Kudus. Perpaduan budaya Hindu, Buddha, Cina, Persia dan Islam.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)”

Sudut salat satu family room dalam area Pondok Wisata, Umbul Sidomukti

#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)

Tampak dari luar sejumlah kamar berukuran besar berderet, bertingkat dengan berbagai macam corak. Jendelanya berdimensi lebar, memanjakan penghuni kamar untuk leluasa melihat pemandangan di luar. Isi kamarnya pastilah lapang, diisi antara 4-8 orang dalam berbagai varian bergantung kapasitas. Khusus untuk keluarga, baik kecil maupun besar.

Saya sendiri belum berkeluarga. Jadi kalaulah hari itu harus menginap, saya memilih tidur di dalam tenda saja di camping ground yang disediakan. Melihat Gunung Ungaran yang berperawakan lebar dan nampak dekat, saya jadi rindu berkelana di alam bebas. Tidur beralas matras dan berselimut sleeping bag. 

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)”

Seberkas cahaya pagi di langit Kota Lama

#VisitJateng: Kota Semarang Membuka Hari (1)

Saya baru selesai salat Subuh di masjid Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Semarang. Suasana di jalan raya depan rumah sakit ini masih tetap seperti tadi. Dua puluh menit lalu, saat saya baru turun dari bus patas di seberang jalan masuk menuju Terminal Terboyo. Masih tetap berseliweran truk-truk ekspedisi, bus keluar-masuk terminal, taksi-taksi terparkir di bahu jalan, dan udara Subuh yang cukup sejuk. Jarum arloji kompak menunjukkan angka yang bertafsir pukul lima tepat.

Seorang tukang ojek berusia paruh baya menghampiriku. Belum sempat ia membuka tawaran, saya keburu menyebut tujuan saya. “Simpang Lima ya, Pak. Mau sarapan dan mandi di sekitar sana”. Saya memboncengnya, lalu ia memutar haluan dan langsung menggeber gas. Melaju ke arah kota dengan kecepatan tetap, kisaran 40 km/jam. Santai sekali.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Kota Semarang Membuka Hari (1)”