Sunrise Puncak Gunung Bantal, Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta

Membumi di Kampung Pitu Nglanggeran

Tak ada satu pun bukti tertulis yang mengisahkan terbentuknya kampung ini. Cerita-cerita yang membentuknya adalah hasil kekuatan lisan. Mulut ke mulut. Dari generasi ke generasi. Turun temurun.

Kabarnya, semua bermula dari seonggok pohon kinah gadung wulung. Ia hanya pohon biasa yang tumbuh di sebuah padukuhan bernama dusun Tlogo. Tapi di dalamnya, tersimpan benda pusaka. Benda yang dikabarkan memiliki kekuatan supranatural besar itu terpantau radar Keraton Kesultanan Mataram.

Keraton pun menyebar sayembara. Barangsiapa yang kuat menjaga dan merawatnya, akan diberi tanah secukupnya untuk anak dan keturunan. Seorang abdi dalem keraton yang berasal dari Banyumas, Eyang Iro Dikromo menyanggupinya. Benda pusaka kemudian diamankan dan disimpan dalam keraton.

Jejak Eyang Iro Dikromo mendapatkan benda pusaka di Dusun Tlogo, diikuti keenam orang sakti lainnya, termasuk Kyai Tir. Namun, hanya mereka berdua yang dapat melanjutkan keturunan di dusun tersebut.

Lanjutkan membaca “Membumi di Kampung Pitu Nglanggeran”

Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik

Jejak Batik Tulis Giriloyo

Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik
Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik

Di sebuah saung kayu beralas keramik kuning gading, tiga perempuan berjilbab sedang membatik. Masing-masing duduk di atas dingklik plastik yang hampir tidak terlihat. Tertutup baju. Seakan-akan mereka membatik dengan berjongkok.

Jemari mereka begitu lihai mencanting di atas kain katun putih yang sudah tak polos. Sudah memiliki pola yang memikat. Dua motif klasik dikerjakan oleh Khiftiyah dan Nur Janah,  sedangkan Imaroh membatik motif buah naga. Motif tersebut merupakan motif pengembangan (modern).

Lekuk motif yang rumit itu, tak sekadar bicara mengenai proses membuat pola, mencanting, mewarnai, nglorot (menghilangkan lilin), hingga mencuci. Kerumitan motif tersebut menggambarkan ketelatenan dan kesabaran srikandi pembatik itu. Sesabar saat mereka dan pengrajin batik lainnya melalui ujian berat yang terjadi 11 tahun silam.

Lanjutkan membaca “Jejak Batik Tulis Giriloyo”
Gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk Gunungkidul

Wisata Alam di Desa Bleberan

Butuh 36 tahun bagi pemerintah Kabupaten Gunungkidul menetapkan Bleberan, Kecamatan Playen, sebagai desa wisata. Objek wisata gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk dirintis masyarakat setempat sejak tahun 1974, lalu diresmikan dan dikelola secara maksimal pada 3 Juli 2010. Tahun-tahun yang terentang di antaranya adalah masa kevakuman dan terbatasnya sumber daya manusia, yang berdampak pada kekurangseriusan pengelolaan.

Kini, gapura kokoh menyambut di dua ikon desa wisata Bleberan itu. Hari itu, Saifuddin, juga turut menyambut kami yang tergabung dalam tim #EksplorDeswitaJogja. Pemandu sekaligus pemaket wisata itu mendampingi kami selama di lokasi. Ia menjelaskan berbagai seluk-beluk di balik keberadaan kedua objek wisata yang dipisahkan jarak sejauh 700 meter.

“Mari kita ke gua Rancang Kencono dulu,” ajak Saifuddin.

Lanjutkan membaca “Wisata Alam di Desa Bleberan”

Seorang pria Tengger berbalut sarung dan mengenakan peci menikmati panorama Bromo

Foto-Foto Puncak B29 Lumajang

Hari Buruh, tiga tahun lalu. Mengawali bulan Mei di tahun 2014, saya bersama tiga orang teman ‘mendadak’ bersepeda motor ke Bukit B29, Desa Argosari, Senduro, Lumajang. Saat itu, punggungan bukit yang termasuk bagian dari tebing kaldera Bromo itu belum lama dibuka untuk wisata.

Dalam pos ini, saya menampilkan foto-foto selama kami berkemah di sana. Foto-foto yang dapat menjadi alasan, bahwa kami ingin kembali ke sana lain waktu. Menikmati alam, menikmati suasana hangat dan ramah di antara masyarakat suku Tengger Argosari. Menikmati Bromo dari sisi timur.

Lanjutkan membaca “Foto-Foto Puncak B29 Lumajang”

Sentra Blangkon Desa Wisata Bejiharjo

Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya

Wawancara terhenti sesaat. Sejenak, Erna menghentikan kegiatan menjahit sebuah blangkon. “Sebentar ya, Mas.” Ia bilang begitu ketika terdengar seperti suara air yang meluber. Bergemericik. Kemudian ia setengah berteriak, “Mas, tolong matikan pompa airku!”

Yang ia mintai tolong adalah Arif dan kawan-kawan pemandu offroad yang menunggu kami di luar rumah. Saya yang duduk persis di depan Erna bergegas bangkit dan berjalan keluar.

Tapi Arif lebih sigap. Ia berjalan cepat ke arah saklar pompa air yang dimaksud Erna. Letaknya ada di dinding bangunan sederhana di luar rumah. Seketika, suara raungan mesin pompa air berhenti. Gemericik air di tendon juga perlahan berhenti mengalir. Arif kembali bergabung dengan Fian dan Taufiq, ngobrol-ngobrol di atas jip.

Saya kembali duduk di posisi semula. Teman bloger #EksplorDeswitaJogja yang lain kembali antusias mendengarkan cerita Erna, yang melanjutkan kegiatan menjahit blangkon. Dengan duduk bersandar tembok putih rumahnya, dia bertutur mengenai suka dukanya membuat blangkon.

Lanjutkan membaca “Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya”

Wisata Offroad Gunungkidul

Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo

Stop! Stop! Stop!

Raungan mesin ketiga jip berjenis 4 wheel drive atau berpenggerak empat roda itu berhenti. Itu seiring ketika Arif dan Taufiq, yang masing-masing mengemudikan jip putih dan merah, saling bersahutan memberi aba-aba berhenti. Ketika, ban kanan depan jip hijau yang berada di antara keduanya tersangkut di antara batu-batu penyangga di tepi Kali Oyo.

Fian, pengemudi jip hijau yang saya dan Rizka tumpangi, dengan sigap memindahkan kedua tuas persneling ke gigi satu dan mematikan mesin. Kami pun turun. Hujan semalam sedikit membuat batu-batu penyangga jalur jip yang akan turun ke sungai sedikit renggang.

Tanpa banyak menunggu, dengan gesit mereka bertiga menerapkan langkah darurat.

Lanjutkan membaca “Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo”

Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru

Kalimati

Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru
Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru

Kalimati kembali bergeliat. Saya terbangun. Kedua mata terasa bagaikan habis menangis. Kurang tidur. Tapi karena suhu di dalam tenda mulai gerah –arloji menunjukkan pukul 8 pagi- saya memilih keluar tenda.

Membawa kamera, saya berjalan menjauhi area perkemahan. Ke utara, ke arah Jambangan. Tak jauh dari gerombolan edelweiss dan cantigi. Subhan yang baru menunaikan hajat di ‘peturasan’ alami, dan Anggrek (yang juga baru bangun)  menyusul.

Di atas rerumputan, kami berjemur. Memandang tubuh raksasa berlumur bebatuan dan pasir bergurat itu.

Untuk yang kesekian kalinya, asap beracun itu keluar dari kawah Jonggring Saloka. Dari gelembung-gelembung pekat pucat, menebarkan buih-buih debu, melekat di baju. Pakaian saya yang serba hitam bak berlumur ketombe.

Saya menelisik, memicingkan mata ke arah pendakian ke puncak Mahameru. Tampak debu-debu yang beterbangan, tanda dilewati orang yang turun. Dan lenyap selepas melintasi Kelik, perbatasan vegetasi. Pasti di wajah mereka terlukis rona gembira, lelah, dan lapar yang menjadi satu.

Kalimati menjadi tempat kembali.

Lanjutkan membaca “Kalimati”

Labuan Bajo-Malang dalam 57 Jam

Di dalam toilet, saya tidak hendak kencing. Saya membuka dompet lecek yang tebalnya kian menipis. Tersisa enam lembar uang 50 ribuan untuk ongkos transportasi pulang ke Malang. Tambah selembar 50 ribu lagi untuk ongkos makan.

Dengan sisa uang tersebut, secara matematis akan ada cukup uang untuk naik bus dari pelabuhan Sape ke Bima. Tapi tidak dengan ongkos bus dari Bima ke Mataram. Belum lagi menyeberang ke Bali… Ke Banyuwangi… Ke Malang…

Saya kemudian teringat dengan tiga truk ekspedisi yang ikut dalam penyeberangan sore ini…

Lanjutkan membaca “Labuan Bajo-Malang dalam 57 Jam”

Saya dan mikrobus Gunung Mas trayek Maumere-Ruteng saat istirahat makan di sebuah rumah makan masakan Padang di kota Ende

Antara Maumere dan Ruteng

Siang itu, jelang waktu Asar, mikrobus biru berkapasitas 14 penumpang ini berhenti di seberang sebuah penginapan tak jauh dari Pelabuhan Aimere, Kabupaten Ngada. Mikrobus dan gerbang penginapan tersebut dipisahkan jalan nasional Trans Flores.

Sim, sopir travel Gunung Mas itu, turun dan bergegas membukakan pintu samping paling belakang mikrobus bercat biru ini. Saya yang duduk di deret kursi belakang sopir ikut menoleh ke belakang, melihat siapa yang turun.

Satu orang saja yang turun, seorang pria yang sudah sepuh. Dia ikut naik bersama rombongan keluarganya dari kota Ende. Dia turun di Aimere, yang lain akan turun di Ruteng.

Kakek itu turun dengan meninggalkan jejak. Jejak muntah yang mengering kecoklatan di dinding pintu. Jejak yang menjadi saksi ‘keganasan’ Trans Flores.

Lanjutkan membaca “Antara Maumere dan Ruteng”

Rofinus, satu di antara tiga ketua adat Wae Rebo tengah menjemur kopi di pagi yang cerah

Di Timur Matahari

“Aih! Kenapa tidak ke Kelimutu?”

“Aih! Kenapa tidak ke Komodo?”

“Aih! Belum sah ke Flores kalau tidak ke Komodo dan ke Kelimutu!”

“Sumba sudah?”

Suara-suara itu saya dengar dari sejumlah teman di Flores, khususnya. Baik lewat telepon atau ngobrol langsung. Saya hanya bisa menggeleng dan menjawab diplomatis, belum ada waktu. Tambahan, saya juga sedikit berkelakar, “Pasti akan ada jelajah Nusa Tenggara Timur jilid ke sekian dan seterusnya!”

NTT bukan hanya tentang itu bukan?

Lanjutkan membaca “Di Timur Matahari”

AIr terjun Kapas Biru

Kembali ke Kapas Biru

Sebuah pertanda berupa lahan padi di tubir anak sungai Kali Glidik menunjukkan bahwa trekking hampir mendekati akhir. Saya melihat arloji. Sudah pukul 09.40. Sudah 40 menit kami berjalan dari tempat parkir.

“Masih jauh, Mas?” tanya Rizky yang berjalan di belakang saya. Saya menggeleng, lalu menelunjuk pada sebuah jembatan bambu di depan kami. Memberi kode pada Rizky dan yang lain bahwa tujuan kami tidak jauh lagi. Sayup-sayup terdengar suara gemuruh air yang kian jelas. “Kalian dengar suaranya?”

Lanjutkan membaca “Kembali ke Kapas Biru”

Warga dusun melintas di jalan kampung dengan latar belakang Gunung Slamet

Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Atap Tertinggi Jawa Tengah

Warga dusun melintas di jalan kampung dengan latar belakang Gunung Slamet

Melakukan pendakian ke Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah lewat jalur Bambangan itu, adalah persoalan bercampurnya rasa penasaran dan pemenuhan tantangan. Seperti apa sih rasanya mendaki gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru itu?

Perlahan tapi pasti, rasa penasaran akan pendakian Gunung Slamet tersebut mulai terpupus saat hari keberangkatan. Panjang dan lelahnya perjalanan dari Malang ke stasiun Surabaya Gubeng, lalu dilanjut dengan kereta api Logawa ke stasiun Purwokerto luruh seketika setibanya saya dan teman-teman setim di basecamp Bambangan. Kami disambut tuan rumah pemilik basecamp dengan suguhan makan malam nasi, mi goreng, kering tempe, telur mata sapi dan mendoan. Sangat mengenyangkan dan saya pun makan dengan kalap. “Sambutan” yang sangat hangat, bukti keramahan warga di kaki gunung.

Angin malam berembus menusuk, memasuki celah jendela dan langit basecamp. Sementara yang lain merasakan kehangatan lelap dalam sleeping bag, saya memilih tidur dengan berselimut sarung. Tak sabar untuk segera meniti jejak di hutan rimba Gunung Slamet esok pagi.

Lanjutkan membaca “Pendakian Gunung Slamet Jalur Bambangan, Atap Tertinggi Jawa Tengah”