Memandang langit sore, dalam penerbangan Surabaya-Makassar.

Kilas Balik: Perjalanan Sepekan, Menjelajah Sulawesi Selatan

Pertengahan April 2013 kala itu. Dihasilkan sebuah keputusan yang saya buat. Menebus dua lembar tiket promo pesawat pulang-pergi seharga Rp400.000,00. Untuk keberangkatan dan kepulangan di awal September 2013.

Pintu menuju sebuah perjalanan dan pengalaman. Cukup duduk manis dalam sebuah burung besi menuju pulau seberang. Tak harus berlayar dengan pinisi, demi sepekan menjelajah Sulawesi Selatan, bumi kelahiran nenek moyang sang pelaut yang kondang.

Lanjutkan membaca “Kilas Balik: Perjalanan Sepekan, Menjelajah Sulawesi Selatan”

Istirahat sejenak di depan kantor kecamatan Glenmore

Jurnal Perjalanan: Touring Motor Malang-Banyuwangi-Bali (2)

(Cerita sebelumnya)

Ketika umumnya setelah makan malam lanjut tidur, tidak bagi yang tengah berada dalam sebuah perjalanan. Seperti kami, makan malam menjadi energi baru. Energi tambahan untuk melanjutkan perjalanan. Wajah pun lebih segar setelah salat Isya seusai makan nasi goreng.

Teringat dengan pemeriksaan kelengkapan administrasi seperti KTP, STNK, dan SIM di kedua pelabuhan nantinya, saya berkata kepada Rizky, “Ky, nanti sebelum pelabuhan Ketapang gantian awakmu yang nyetir ya. SIM C-ku kan mati, hehehe.”

Lanjutkan membaca “Jurnal Perjalanan: Touring Motor Malang-Banyuwangi-Bali (2)”

Foto sampul: Di atas feri, dalam penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Dari kiri: Mas Kur, Mumu, dan Rizky.

Jurnal Perjalanan: Touring Motor Malang-Banyuwangi-Bali (1)

Truk, bus, mobil pribadi, dan sepeda motor berbagai jenis sudah terparkir rapi. Pintu rampa kapal feri diangkat naik. Menutup rapat geladak bawah yang sarat muatan. Mesin kapal yang sudah hidup, terdengar semakin keras. Tanda feri sudah siap berlayar, tepat pukul 03.00 WIB.

Kami berempat segera mencari tempat duduk. Dengan alasan ingin menikmati angin Selat Bali, kami memilih duduk di dek atas. Menanti waktu tempuh satu jam menuju Gilimanuk. Selang waktu yang juga saya gunakan untuk merenung. Menertawakan diri akan keputusan yang diambil sekitar 12 jam yang lalu.

Dua belas jam ke belakang, yang terjadi akibat gejolak darah muda. Ternyata begini, masa mahasiswa penuh hasrat dan nekat.

Lanjutkan membaca “Jurnal Perjalanan: Touring Motor Malang-Banyuwangi-Bali (1)”

Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan

Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan

Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan

Rindu itu tidak mengenal jarak dan waktu. Rindu itu tak terkotakkan dalam satu definisi dan rupa.

Rindu bisa muncul di tengah-tengah, kala ulama besar Imam Asy Syafi’i menganjurkan manusia untuk merantau. Menempuh perjalanan menuju tempat perantauan, tak peduli seberapa jauh jaraknya. Menjadi asing sekaligus bernilai di tempat yang baru.

Namun, saya menjadi paham bahwa setiap orang berhak memaknai rindu bahkan dengan cara yang paling sederhana. Dalam perjalanan hidupnya, seseorang bisa merindu karena setitik alasan. Terlebih saat berada di perantauan.

Lanjutkan membaca “Merindukan Rumah, Merindukan Kesahajaan”
Bentuk kepedulian Atria Hotel & Conference Magelang terhadap batik

#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)

Ini hari keempat saya di Jawa Tengah. Setelah sebelumnya berkelana ke Ungaran, Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Temanggung; kini saya masih melanjutkan perjalanan. Magelang, kota yang akan saya tuju.

“Jadi pulang kapan?”

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)”

Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)

Sebuah majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia tergeletak di atas meja kayu. Majalah bersampul garis tepi kuning tersebut terlihat lecek. Buku tamu tebal yang bersandingan di sebelahnya tak kalah kucel pula. Keempat sudutnya juga sudah tak ‘siku’ lagi. Salah satu halaman melipat tegas di tengah-tengahnya. Halaman tersebut mengulas laporan khusus dan cukup lengkap tentang sebuah situs: Liyangan.

“Mbak, pinjam sebentar ya. Mau saya foto tulisannya,” pinta saya kepada seorang perempuan berjilbab penjaga pos informasi. “Iya silakan, Mas.”

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)”

Kabut masih melayang di atas Kali Serayu

#VisitJateng: Para Juara di Kali Serayu Banjarnegara (6)

Sementara Pak Pranoto dan Mas Ari berbalut selimut, saya malah meringkuk dalam sarung. Kehangatan yang beradu dengan dinginnya udara Subuh di tepi Kali Serayu. Pondok penginapan yang berdinding kayu tampak malah mempersilakan angin masuk di antara celahnya.

Saya bergegas menuju kamar mandi yang bersisian dengan tempat tidur. Berwudu antara agak tergesa dan menikmati. Air dari balik kerannya dingin sekaligus menyegarkan.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Para Juara di Kali Serayu Banjarnegara (6)”

Purbasari Pancuran Mas, Purbalingga

#VisitJateng: Agak Tak Rela Meninggalkan Purbalingga (5)

Setelah makan siang di Alas Daun, Purwokerto, Pak Pranoto bergegas menggeber gas menuju Purbalingga. Kesejukan khas Baturraden di lereng Gunung Slamet, mulai perlahan menguap. Mendung tak juga enyah. Tapi masih menyisakan ruang kosong bagi matahari, yang meneruskan sinarnya ke bumi. Terpencar-pencar, layaknya air yang mengucur dari lubang-lubang shower. 

Karena hari sudah beranjak sore, kami hanya menyempatkan singgah cukup lama di dua tempat: Purbasari Pancuran Mas dan Desa Wisata Karangbanjar.

Dari pandangan saya, keduanya sepertinya tipikal: Sama-sama merupakan contoh kreativitas, inovasi dan buah kesuksesan. Yang menghidupkan perekonomian daerah.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Agak Tak Rela Meninggalkan Purbalingga (5)”

Pancuran Pitu, Baturraden

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)

Setelah menapaki ratusan anak tangga -yang saya tak sempat menghitung angka pastinya-, sejumlah lelaki berusia paruh baya menyambut dengan tawaran jasa lulur belerang. Di antara kami, hanya Pak Pranoto yang menyambut tawaran itu. Wajar saja, mungkin beliau perlu melemaskan otot kaki yang sedari kemarin dibuat tegang. Menginjak pedal gas, rem, dan kopling sepanjang Semarang-Temanggung-Wonosobo-Banyumas. Ditambah, berjalan menapaki ratusan undakan anak tangga tadi.

Pak Pranoto pun langsung duduk di dingklik kecil, dengan celana digulung hingga selutut. Seorang lelaki berpakaian lusuh dengan cekatan mengoleskan serbuk lulur belerang ke kedua betisnya. “Enak lho, ayo sini kalau mau coba,” ajak Pak Pranoto.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)”

Baturraden Adventure Forest, Kabupaten Banyumas

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.2)

Gerbang Kebun Raya Baturraden tampak di depan kami. Namun, Pak Pranoto membelokkan mobil ke kanan. “Kita ke BAF dulu ya, baru pulangnya ke Pancuran Pitu,” terangnya. Kebun Raya Baturraden adalah pintu masuk ke Pancuran Pitu.

Sesekali tubuh kami agak berguncang, ketika keempat ban mobil melintasi jalan aspal yang berlubang. Saya sebenarnya kasihan dengan Mbak Ratri dan Mbak Reaca yang duduk di jok belakang. Tentu lebih terguncang. Nama terakhir ini baru bergabung dengan kami sejak tengah malam. Urusan pekerjaan membuatnya terpaksa menyusul di pagi buta, hari kedua family trip ini.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.2)”

Salah satu sudut di dalam kawasan wisata Baturraden

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)

Tubuhnya begitu lebar, kakinya mencengkeram kokoh ke bumi. Berbalut hutan khas tropis yang rimbun, lalu menyisakan tanah kering, berbatu, dan padas di bagian kepalanya. Membelah lima kabupaten. Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang mendapat bagian yang meskipun tak sama rata. Jika cuaca bersahabat, jika kabut dan mendung tak menghalangi. Kita bisa melihatnya berdiri menjulang, seolah mencakar langit. Anggap saja tinggi badan kita sama rata, sekitar 1,6 meter. Jika dihitung mulai dari titik nol dari permukaan laut, maka perlu kurang lebih 2.143 orang untuk saling berdiri di atas kepala satu sama lain; menyamai ketinggiannya.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)”

Peserta parade dari Kabupaten Kudus

#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)

Saya pikir sedang ada pertemuan lintas agama. Ada ulama berpakaian serba putih, mewakili umat Islam. Ada pendeta, bhiksu, bhiksuni, resi, brahmana, lalu disusul di belakangnya orang desa berkebaya. Ternyata bukan. Konsep demikian mengusung semangat pluralisme. Mengingatkan saya tentang sejarah salah satu anggota dewan Wali Songo, Sunan Kudus. Bagaimana dulu ia memikat pribumi setempat terhadap agama Islam. Dakwahnya santun, halus, tanpa memberangus kebudayaan setempat yang saat itu mayoritas beragama Hindu.

Terjadi akulturasi budaya, yang bukti sejarahnya bisa kita lihat di arsitektur menara Masjid Kudus. Perpaduan budaya Hindu, Buddha, Cina, Persia dan Islam.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)”

Sudut salat satu family room dalam area Pondok Wisata, Umbul Sidomukti

#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)

Tampak dari luar sejumlah kamar berukuran besar berderet, bertingkat dengan berbagai macam corak. Jendelanya berdimensi lebar, memanjakan penghuni kamar untuk leluasa melihat pemandangan di luar. Isi kamarnya pastilah lapang, diisi antara 4-8 orang dalam berbagai varian bergantung kapasitas. Khusus untuk keluarga, baik kecil maupun besar.

Saya sendiri belum berkeluarga. Jadi kalaulah hari itu harus menginap, saya memilih tidur di dalam tenda saja di camping ground yang disediakan. Melihat Gunung Ungaran yang berperawakan lebar dan nampak dekat, saya jadi rindu berkelana di alam bebas. Tidur beralas matras dan berselimut sleeping bag. 

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Nyaris Telanjur Nyaman di Umbul Sidomukti (2)”

Seberkas cahaya pagi di langit Kota Lama

#VisitJateng: Kota Semarang Membuka Hari (1)

Saya baru selesai salat Subuh di masjid Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Semarang. Suasana di jalan raya depan rumah sakit ini masih tetap seperti tadi. Dua puluh menit lalu, saat saya baru turun dari bus patas di seberang jalan masuk menuju Terminal Terboyo. Masih tetap berseliweran truk-truk ekspedisi, bus keluar-masuk terminal, taksi-taksi terparkir di bahu jalan, dan udara Subuh yang cukup sejuk. Jarum arloji kompak menunjukkan angka yang bertafsir pukul lima tepat.

Seorang tukang ojek berusia paruh baya menghampiriku. Belum sempat ia membuka tawaran, saya keburu menyebut tujuan saya. “Simpang Lima ya, Pak. Mau sarapan dan mandi di sekitar sana”. Saya memboncengnya, lalu ia memutar haluan dan langsung menggeber gas. Melaju ke arah kota dengan kecepatan tetap, kisaran 40 km/jam. Santai sekali.

Lanjutkan membaca “#VisitJateng: Kota Semarang Membuka Hari (1)”

Teman seperjalanan sedang asyik berswafoto

(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul

Saya menuruni tebing sebentar, menghampiri ketiga rekan perjalanan saya, yang masih asyik berfoto ria. “Eh, kalian nggak ke atas kah? Ke Coban Papat?” Ketiganya menoleh. Eko, menyahut pertanyaan saya, “Awakmu wes merono ta?” Saya mengangguk, tadi sudah menyempatkan pergi terlebih dahulu ke Coban Papat sendiri.

Lanjutkan membaca “(Sempat) Termangu di Coban Sumber Pitu Pujon Kidul”