Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)

Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)

Belasan tahun lalu, saya berjumpa dengan Mbah Rumini. Seorang nenek yang menjual mainan tradisional anak-anak dan suvenir kerajinan tangan di teras Museum Kereta Karaton, Yogyakarta.

Aksinya menarik perhatian saya. Saya mendekatinya tatkala ia sedang memutar otok-otok bambu yang mengeluarkan bunyi. Hanya selang beberapa detik, kemudian beralih memainkan suling bambu, gasing, dan lainnya. Barang-barang yang dijual rata-rata hasil kerajinan tetangganya, sedangkan sebagian dibuat sendiri.

Saya akhirnya membeli sebuah ontong-ontong. Jenis mainan bunyi-bunyian yang biasa disebut drum goyang. Harganya sangat murah, hanya lima ribu rupiah.

Lanjutkan membaca “Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)”
Menetapkan Langkah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian ketiga)

Menetapkan Langkah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian ketiga)

Hari itu (20/1/2022) peserta Ecotourism Master Class Batch V dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing akan praktik menyusun konten paket ekowisata yang akan dijual. Menentukan atraksi utama dan penunjang di dalamnya, bergantung pada target wisatawan yang dituju.

Ada sejumlah tema yang bisa dipilih, di antaranya alam, budaya, hingga kuliner. Setiap kelompok dibebaskan merancang rencana perjalanan wisata dan destinasi mana pun. Ada beberapa petunjuk kunci, yaitu memuat konten kegiatan wisata yang dilakukan, gambaran singkat pengalaman seperti apa yang akan dialami wisatawan, dan siapa yang bertanggung jawab dalam paket tersebut. Selain itu, atraksi wisata yang dilakukan harus memiliki dasar yang jelas, serta durasi waktu yang efektif, dan efisien.

Ekowisata senantiasa berbicara tentang detail. Dari hulu ke hilir. Ladang untuk berkolaborasi, bahu-membahu membangun paradigma berwisata yang ramah lingkungan. Bagi sebagian orang, ruh sejati ekowisata mungkin akan memberatkan. Terutama untuk yang hanya mengejar materi semata. Hanya mau uang cepat, begitu Pak Nurdin Razak mengibaratkan.

Lanjutkan membaca “Menetapkan Langkah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian ketiga)”
Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian kedua)

Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian kedua)

Hari kedua dimulai lebih pagi. Saya, Pak Nurdin Razak beserta istri, tiba ketika petugas kebersihan masih mengepel teras dan menyapu taman LPPM Unnes. Sejam lebih awal daripada hari sebelumnya. Bulir-bulir embun pun masih menggelayut manja di pucuk-pucuk rerumputan.

Ini karena keinginan kami untuk keliling kompleks universitas bervisi konservasi itu. Gayung bersambut. Bu Eta—sapaan akrab Bu Margareta—dan Bu Nana menjadi pemandu tur kampus dadakan. Naik mobil listrik yang disopiri Fachrudin, seorang satpam Unnes.

Kami diperlihatkan gedung rektorat, fakultas-fakultas dan sejumlah fasilitas yang dimiliki Unnes. Termasuk “aset-aset” alami seperti pepohonan, penyebab teduhnya kampus. Bu Eta bilang, itu buah satu dasawarsa melakukan penghijauan besar-besaran. Dari gersang menjadi rindang.

Lanjutkan membaca “Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian kedua)”
Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian pertama)

Menghidupkan Gairah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian pertama)

Semarang sore itu tidak menyambut saya dengan lumpia, tapi hujan yang tak putus mengguyur sejak Kota Magelang. Dan juga ucapan ‘selamat datang’; tertera pada gapura bagian dalam kompleks Akademi Kepolisian (Akpol) Indonesia. Selasar beraspal di depannya adalah tempat saya turun dari shuttle bus Joglosemar trayek Jogja—Semarang. Persis di seberang pom bensin yang biasa disebut ‘SPBU Akpol’.

Karena curahan dari langit tak kunjung reda, saya sebisa mungkin berteduh di bawah gapura luar akademi. Merapat ke pagar besi keemasan menjulang yang terkunci rapat.

Lanjutkan membaca “Menghidupkan Gairah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian pertama)”
Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno

Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno

Sebuah pesan baru masuk di fitur direct message akun Instagram saya. Sekitar dua minggu lalu. Namanya tak asing. Lebih-lebih foto profil berbingkai bundar menampakkan wajah dengan jelas.

Sosok familiar yang membawa ingatan saya bernostalgia. Melambung kira-kira selama kurun waktu tujuh tahun ke belakang. Seorang perempuan yang sudah menganggap saya sebagai anak kandungnya.

Begitu pun sebaliknya. Tatiek Koerniawati, S.P., M.P., dosen jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), sudah seperti ibu saya sendiri. Dari yang dianggap biasa saja, menjadi istimewa sampai akhir kuliah.

Bukan spesial karena IPK cumlaude, bukan. Melainkan studi sarjana saya yang akhirnya tuntas benar-benar tepat pada waktunya. Memenuhi 14 kolom stempel semester di bagian belakang kartu tanda mahasiswa. Karena inilah saya menjadi salah satu mahasiswa bimbingan beliau yang paling diingat.

Tidak terhitung Bu Tatiek, baik lewat SMS maupun WhatsApp, begitu keras—bahkan nyaris jemu—mengingatkan progres tugas akhir saya. Tak terkecuali media sosial. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika mengunggah foto pemandangan puncak gunung di Facebook. Salah satu komentar yang muncul adalah dari beliau yang berbunyi, “Jangan cuma gunung saja yang didaki, skripsimu juga.”

Lanjutkan membaca “Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno”
Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Ditahbiskan sebagai yang terbaik di bidang teknologi dalam ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 seperti menjadi puncak pencapaian I Gede Merta Yoga Pratama. Namun ketika dijumpai di kantornya, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Badung (24/12/2020), mimik wajah dan nada bicara pria kelahiran Gobleg, Buleleng, 23 September 1996 itu memberi kesan tentang rasa tak ingin berpuas diri.

“Kami harus terus berimprovisasi. Itu tantangan kami,” tegasnya.

Dari balik masker, mata Yoga–sapaan akrabnya–nyalang memandang saya. Ia kembali membuka labirin memori. Mundur lima tahun ke belakang. Menguak lika-liku perjuangan demi niat mulia: membuat nelayan tradisional lebih sejahtera.

Lanjutkan membaca “Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali”

Candu Ayam Panggang Gandu

Dwi (kiri), anak kedua Suryani, dibantu pegawai di sebelahnya menyiapkan dan memilah ayam-ayam yang akan dipanggang ketiga kalinya sebelum disajikan kepada pelanggan. Sejak kecil ia membantu usaha ayam panggang ibunya di rumah yang juga menjadi warung makan bernama Depot Ayam Panggang Miroso Bu Hj. Suryani, Desa Gandu, Kecamatan Karangrejo, Magetan.

“Ibu mulai merintis usaha sejak 1988,” kata Dwi.

Awalnya Hj. Suryani (58 tahun) berjualan aneka masakan berbahan baku ayam seperti garang asem, ayam bumbu rujak, dan ayam panggang. Keliling dari desa ke desa dengan sepeda onthel. Delapan tahun kemudian, ia memberanikan diri membuka usaha kuliner ayam panggang secara menetap di rumah peninggalan neneknya.

Lanjutkan membaca “Candu Ayam Panggang Gandu”

[Foto] Gapura Gaib Lawu via Singolangu

Pos 1 Kerun-Kerun Gunung Lawu Jalur Singolangu
Sejumlah pendaki sedang beristirahat di Pos 1 Kerun-Kerun, jalur pendakian Gunung Lawu via Singolangu, Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Singolangu dikenal sebagai jalur klasik untuk menapaktilasi perjalanan Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu.

Pos di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini hanya berupa gubuk sederhana beratap seng. Normalnya, pendaki mencapai tempat ini setelah berjalan 1,8 kilometer selama kurang lebih 60 menit dari pos pendakian (basecamp). Treknya kombinasi antara ladang pertanian milik warga, rumput gajah, dan hutan pinus.

Lanjutkan membaca “[Foto] Gapura Gaib Lawu via Singolangu”
Sunrise puncak mahameru gunung semeru

Roman Pagi dari Puncak-Puncak Tertinggi

Pada saatnya, saya termasuk sekelompok orang yang rela menahan kantuk, dingin, dan bersusah payah demi matahari terbit dari puncak gunung. Meninggalkan kehangatan tidur untuk sebuah pengalaman, yang saya harus jujur, tidak akan terlupakan seumur hidup.

Bahkan rela jauh dari kenyamanan rumah. Memasuki zona bahaya yang tak terprediksi.

Sementara situasi terkini yang telah mengglobal, memaksa kita untuk menahan diri dari hasrat bertualang. Menjelajah alam. Mencumbu rimba. Saya ingin berbagi sedikit visual, tentang apa yang saya lihat kala pagi dari puncak-puncak gunung tertinggi.

Ini bukan hanya untuk yang rindu mendaki, tapi juga teman-teman yang ingin merasakan pengalaman pertamanya.

Lanjutkan membaca “Roman Pagi dari Puncak-Puncak Tertinggi”
Lautan Pasir Gunung Bromo

2020: Angkat Sauh Lalu Bertumbuh

“Kamu ingin tahu apa resolusiku tahun ini?” saya meminta seorang teman di kantor menebak.

Dia menggeleng. Balik bertanya, “Apa?”

“Resolusiku tahun ini adalah meneruskan apa yang menjadi resolusi tahun 2019 yang dibuat di pengujung tahun 2018, dan belum terealisasi di tahun 2019.”

Panjang jawaban saya.

Tentu saja itu hanya bercanda.

Lanjutkan membaca “2020: Angkat Sauh Lalu Bertumbuh”

Jam tangan kayu "Maccasi Craft" Banyuwangi

Jam Tangan Kayu dari Banyuwangi

Perempatan Wornorekso (patung kebo) ke timur sedikit. Depan sekolahan TK.

Saya membaca pesan yang dikirim Akbar Andi (31 tahun) melalui Whatsapp. Saya menyorongkannya ke Alan, teman narablog asal Jakarta yang bekerja dan sudah mukim cukup lama di Banyuwangi. Saya menginap dua malam di rumahnya.

“Oh, aku tahu perempatan itu,” Ia menanggapi.

Kami mengecek aplikasi peta di gawai. Pagi itu juga kami bermotor ke rumah lelaki perajin limbah kayu tersebut.

Lanjutkan membaca “Jam Tangan Kayu dari Banyuwangi”

Kendil-kendil ikan pindang yang siap dibakar

Pindang Bawean

Sehari sebelum libur Iduladha dua tahun lalu (31/8/2017), Jun mengajak saya, Inggit, Imama, dan Ucup ke Dedawang. Sebuah dusun di pesisir barat laut Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Di sana bermukim nelayan dan pusat produksi pindang khas daerah berjuluk Pulau Putri tersebut.

Perjalanan ke dusun di tepi pantai itu hanya sekitar 10 menit dari rumah Jun. Kami menyusuri jalan kampung. Membelah bentang alam yang beragam. Mulai dari sawah hingga berujung lautan.

Lanjutkan membaca “Pindang Bawean”

Stasiun Pasar Senen Jakarta

Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang

“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim,
sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab,
maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan);

“Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan.
Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya,
karena lezatnya kehidupan baru terasa,
setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha;

Lanjutkan membaca “Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang”

OCD Beach Cafe & Hostel Kupang

Saya menempati kamar di lantai dua rumah berarsitektur sasando. Strukturnya dari tiga jenis bambu berbeda: Bambu betung untuk tiang, bambu hutan untuk atap, dan bambu biasa untuk hiasan.

Butuh biaya 30 juta untuk membangun utuh rumah sasando bertingkat. lebih mahal dari dua rumah bambu satu lantai di Sebelahnya. Uang segitu sama dengan modal memermak satu mobil angkutan kota di Kupang, yang penuh aksesori dan full music.

Lanjutkan membaca “OCD Beach Cafe & Hostel Kupang”