Hari itu Magelang diguyur hujan sejak siang. Ritmenya tak menentu. Kadang deras, kadang gerimis saja. Beberapa saat kemudian mereda, lalu tiba-tiba mak bres lagi. Saya sedikit waswas sambil berdoa, semoga plafon ruang tamu rumah kontrakan tidak merembes terlalu parah.
Jelang berakhirnya jam kerja—saya bekerja di media secara jarak jauh—hujan tak kunjung berhenti. Saya matikan laptop dan menutupnya. Magrib beberapa menit berlalu, sebentar lagi azan Isya berkumandang. Perut sudah bergolak meminta perhatian, begitu pun yang istri saya rasakan. Memang sudah waktunya makan malam.
Tapi, kami baru sadar. Stok makanan telah habis untuk sarapan dan makan siang tadi. Mau masak kok tanggung, mau pesan lewat ojek daring kok juga eman-eman.
Saya pun menawarkan ke istri, “Gimana kalau kita beli makan di luar?”
Lanjutkan membaca “Warung Nasi Goreng”





