Belasan tahun lalu, saya berjumpa dengan Mbah Rumini. Seorang nenek yang menjual mainan tradisional anak-anak dan suvenir kerajinan tangan di teras Museum Kereta Karaton, Yogyakarta.
Aksinya menarik perhatian saya. Saya mendekatinya tatkala ia sedang memutar otok-otok bambu yang mengeluarkan bunyi. Hanya selang beberapa detik, kemudian beralih memainkan suling bambu, gasing, dan lainnya. Barang-barang yang dijual rata-rata hasil kerajinan tetangganya, sedangkan sebagian dibuat sendiri.
Saya akhirnya membeli sebuah ontong-ontong. Jenis mainan bunyi-bunyian yang biasa disebut drum goyang. Harganya sangat murah, hanya lima ribu rupiah.
Lanjutkan membaca “Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)”



