Hari Kemenangan

Hari Kemenangan

Saya, Emmy (istri), dan Najih (adik) baru saja tiba di Stasiun Surabaya Gubeng, pada Senin dini hari lalu (24/3), setelah perjalanan empat jam dari Yogyakarta. Kami mudik ke rumah orang tua saya di perbatasan Sidoarjo–Surabaya. Supaya hemat waktu karena ingin segera sahur di rumah, kami memilih naik taksi Bluebird.

Seorang bapak bertubuh jangkung—taksiran saya usianya sudah kepala lima—dengan kemeja batik lengan pendek dan celana panjang biru khas Bluebird menyongsong kami. Tampaknya ia adalah sopir yang sedang menunggu jatah untuk berangkat. Dan inilah garis takdirnya, seperti hari-hari biasanya.

Belum sempat saya meminta, si bapak sudah berinisiatif menawarkan jasanya dengan ramah. “Taksi Bluebird?” Saya mengangguk. “Monggo saya bantu bawakan.” Barang kami banyak, ada tiga koper, tiga ransel, sejumlah totebag. “Tidak apa-apa, Mas. Sudah biasa.”

Lanjutkan membaca “Hari Kemenangan”
Tahun Ini Ingin Bertumbuh Lebih Jauh

Tahun Ini Ingin Bertumbuh Lebih Jauh

Inti tulisan ini sebenarnya sudah jelas. Seperti termaktub pada judul di atas.

Tetapi, jika ingin mendengar saya bercerita, maka silakan melanjutkan membaca.

Tulisan ini, kalau boleh saya bilang, mudah-mudahan tidak akan berat. Layaknya sejawat saling bertukar kisah sehari-hari dan berteman kopi panas.

Karena topiknya melekat pada diri sendiri yang—mau tak mau—masih harus melanjutkan hidup. Masih harus mengencani waktu dari pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam, dan kembali menemui pagi.

Lanjutkan membaca “Tahun Ini Ingin Bertumbuh Lebih Jauh”
Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)

Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)

Belasan tahun lalu, saya berjumpa dengan Mbah Rumini. Seorang nenek yang menjual mainan tradisional anak-anak dan suvenir kerajinan tangan di teras Museum Kereta Karaton, Yogyakarta.

Aksinya menarik perhatian saya. Saya mendekatinya tatkala ia sedang memutar otok-otok bambu yang mengeluarkan bunyi. Hanya selang beberapa detik, kemudian beralih memainkan suling bambu, gasing, dan lainnya. Barang-barang yang dijual rata-rata hasil kerajinan tetangganya, sedangkan sebagian dibuat sendiri.

Saya akhirnya membeli sebuah ontong-ontong. Jenis mainan bunyi-bunyian yang biasa disebut drum goyang. Harganya sangat murah, hanya lima ribu rupiah.

Lanjutkan membaca “Meluaskan Kiprah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian keempat)”
Menetapkan Langkah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian ketiga)

Menetapkan Langkah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian ketiga)

Hari itu (20/1/2022) peserta Ecotourism Master Class Batch V dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing akan praktik menyusun konten paket ekowisata yang akan dijual. Menentukan atraksi utama dan penunjang di dalamnya, bergantung pada target wisatawan yang dituju.

Ada sejumlah tema yang bisa dipilih, di antaranya alam, budaya, hingga kuliner. Setiap kelompok dibebaskan merancang rencana perjalanan wisata dan destinasi mana pun. Ada beberapa petunjuk kunci, yaitu memuat konten kegiatan wisata yang dilakukan, gambaran singkat pengalaman seperti apa yang akan dialami wisatawan, dan siapa yang bertanggung jawab dalam paket tersebut. Selain itu, atraksi wisata yang dilakukan harus memiliki dasar yang jelas, serta durasi waktu yang efektif, dan efisien.

Ekowisata senantiasa berbicara tentang detail. Dari hulu ke hilir. Ladang untuk berkolaborasi, bahu-membahu membangun paradigma berwisata yang ramah lingkungan. Bagi sebagian orang, ruh sejati ekowisata mungkin akan memberatkan. Terutama untuk yang hanya mengejar materi semata. Hanya mau uang cepat, begitu Pak Nurdin Razak mengibaratkan.

Lanjutkan membaca “Menetapkan Langkah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian ketiga)”
Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian kedua)

Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian kedua)

Hari kedua dimulai lebih pagi. Saya, Pak Nurdin Razak beserta istri, tiba ketika petugas kebersihan masih mengepel teras dan menyapu taman LPPM Unnes. Sejam lebih awal daripada hari sebelumnya. Bulir-bulir embun pun masih menggelayut manja di pucuk-pucuk rerumputan.

Ini karena keinginan kami untuk keliling kompleks universitas bervisi konservasi itu. Gayung bersambut. Bu Eta—sapaan akrab Bu Margareta—dan Bu Nana menjadi pemandu tur kampus dadakan. Naik mobil listrik yang disopiri Fachrudin, seorang satpam Unnes.

Kami diperlihatkan gedung rektorat, fakultas-fakultas dan sejumlah fasilitas yang dimiliki Unnes. Termasuk “aset-aset” alami seperti pepohonan, penyebab teduhnya kampus. Bu Eta bilang, itu buah satu dasawarsa melakukan penghijauan besar-besaran. Dari gersang menjadi rindang.

Lanjutkan membaca “Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian kedua)”
Menentukan Arah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian pertama)

Menghidupkan Gairah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian pertama)

Semarang sore itu tidak menyambut saya dengan lumpia, tapi hujan yang tak putus mengguyur sejak Kota Magelang. Dan juga ucapan ‘selamat datang’; tertera pada gapura bagian dalam kompleks Akademi Kepolisian (Akpol) Indonesia. Selasar beraspal di depannya adalah tempat saya turun dari shuttle bus Joglosemar trayek Jogja—Semarang. Persis di seberang pom bensin yang biasa disebut ‘SPBU Akpol’.

Karena curahan dari langit tak kunjung reda, saya sebisa mungkin berteduh di bawah gapura luar akademi. Merapat ke pagar besi keemasan menjulang yang terkunci rapat.

Lanjutkan membaca “Menghidupkan Gairah: Catatan dari Ecotourism Master Class Batch V (bagian pertama)”
Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno

Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno

Sebuah pesan baru masuk di fitur direct message akun Instagram saya. Sekitar dua minggu lalu. Namanya tak asing. Lebih-lebih foto profil berbingkai bundar menampakkan wajah dengan jelas.

Sosok familiar yang membawa ingatan saya bernostalgia. Melambung kira-kira selama kurun waktu tujuh tahun ke belakang. Seorang perempuan yang sudah menganggap saya sebagai anak kandungnya.

Begitu pun sebaliknya. Tatiek Koerniawati, S.P., M.P., dosen jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), sudah seperti ibu saya sendiri. Dari yang dianggap biasa saja, menjadi istimewa sampai akhir kuliah.

Bukan spesial karena IPK cumlaude, bukan. Melainkan studi sarjana saya yang akhirnya tuntas benar-benar tepat pada waktunya. Memenuhi 14 kolom stempel semester di bagian belakang kartu tanda mahasiswa. Karena inilah saya menjadi salah satu mahasiswa bimbingan beliau yang paling diingat.

Tidak terhitung Bu Tatiek, baik lewat SMS maupun WhatsApp, begitu keras—bahkan nyaris jemu—mengingatkan progres tugas akhir saya. Tak terkecuali media sosial. Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika mengunggah foto pemandangan puncak gunung di Facebook. Salah satu komentar yang muncul adalah dari beliau yang berbunyi, “Jangan cuma gunung saja yang didaki, skripsimu juga.”

Lanjutkan membaca “Menilik Masa Depan Tawangargo, Calon Desa Agrowisata di Kaki Gunung Arjuno”
Senyawa Alas Lali Jiwo: Kembali ke Peraduan (8)

Senyawa Alas Lali Jiwo: Kembali ke Peraduan (8)

Aku pernah berkata kabut adalah teman sejati di Arjuno dan Welirang. Tak peduli cerah sekalipun. Lebih-lebih saat musim hujan. Tak pandang tempat rendah atau tinggi.

Saking seringnya kabut turun, pendaki sampai tidak perlu khawatir. Pendaki yang paling tahu kapan bisa terus berjalan atau harus berhenti. Berupaya tetap tenang di segala situasi.

Dan bukan kali ini saja aku berkejaran dengan kabut. Pada pendakian ke Welirang sebelumnya, kadang kabut yang turun disusul dengan hujan lokal. Tetesan rinai yang dihasilkan kabut itu sendiri.

Maka setelah Satya menyatakan cukup dengan drone-nya, kami lekas balik. Biarpun kelihatannya langit biru kadang muncul sekelebat di balik awan. Lebih baik bergegas dan berusaha sampai di Lembah Kidang sebelum gelap datang.

Lanjutkan membaca “Senyawa Alas Lali Jiwo: Kembali ke Peraduan (8)”
SEMESTA RENJANA: Belajar dari Keluarga Kecil Pencinta Alam

SEMESTA RENJANA: Belajar dari Keluarga Kecil Pencinta Alam

Elisabeth Murni harus tahu ini: saya adalah orang yang sangat antusias ketika ia akan menerbitkan buku terbarunya. Tepat di hari yang sama ia menulis peluncuran buku di blog Ransel Hitam (ranselhitam.com), saya langsung menghubunginya dan memesan buku lewat WhatsApp.

Mengapa saya harus antusias? Barangkali ada satu jawaban. Sasha—panggilan akrabnya—adalah orang yang digambarkan persis seperti slogan di blognya: dream, journey, dan discover. Bersama keluarga kecilnya, ia adalah orang yang percaya pada kekuatan mimpi. Kemudian mewujudkannya dengan berjalan dan bertualang, serta menemukan banyak hal baru, yang seringkali tiada disangka-sangka. Bahkan di suatu tempat yang tak jauh dari rumah.

Semesta Renjana adalah salah satu bukti dan puncak kekuatan mimpi itu.

Lanjutkan membaca “SEMESTA RENJANA: Belajar dari Keluarga Kecil Pencinta Alam”

Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga

Foto bersama Muchlis saat aksi bersih-bersih Kali Brantas bersama Jawa Pos Radar Malang
Foto bersama Muchlis (pakai topi) saat aksi bersih-bersih Kali Brantas bersama Jawa Pos Radar Malang

Izinkan saya bernyanyi,

Ingatkanku semua, wahai sahabat; kita untuk selamanya, kita percaya;  kita tebarkan arah dan tak pernah lelah; ingatkanku semua, wahai sahabat…

Penggalan lagu Sahabat milik Peterpan tiba-tiba terngiang saat memeluk erat tubuhnya yang kurus. Rasanya tangan ini begitu ingin mencengkeram lebih dalam jaket hitam yang menyelimuti tubuhnya. Rasa haru yang tertahan sejak berangkat dari rumahnya di Gresik nyata-nyata hendak membuncah, beriring air mata yang nyaris keluar. Kami saja yang “hanya” teman dan sahabat sangat terharu melepas keberangkatannya ke Jakarta, apalagi orangtuanya, terutama sang ibundanya yang lugu. Bapak dan pakdenya nan bersahaja nampak tegar, serupa dengan adik perempuannya, Rara. Riuh lobi stasiun Pasar Turi sore itu seperti jadi saksi pertemuan ini. Berulang kali saya menepuk pundak sang ibu, menghiburnya sedikit demi menguatkan hatinya. Saya bicara dalam bahasa Jawa krama yang intinya “Yang penting doa dan restu bapak ibu buat kesuksesan Muchlis. Insya Allah barokah”.

Sudah pukul 16.30, Fitrah dan saya membantu mengangkat tas carrier 60 liternya untuk dibawa Muchlis. Sebuah “kulkas” kehidupan yang akan menemaninya selama di Jakarta nanti, selain bodypack dan daypack-nya. Melihat carrier kesayangannya itu, saya jadi teringat masa-masa silam penuh perjuangan saat awal membangun sebuah “keluarga” baru: Gamananta.

Lanjutkan membaca “Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga”