
Sejumlah pendaki menyebutnya bagian kepala dari Pegunungan Putri Tidur. Dari Kota Malang, memang tampak seperti sosok perempuan yang terlelap dengan tangan bersedekap.
Lanjutkan membaca “Menjejak Puncak Butak”

Sejumlah pendaki menyebutnya bagian kepala dari Pegunungan Putri Tidur. Dari Kota Malang, memang tampak seperti sosok perempuan yang terlelap dengan tangan bersedekap.
Lanjutkan membaca “Menjejak Puncak Butak”


Saya berdiri di bawah atap Pos III, menghadap dan menatap nanar Bukit Penyesalan. Begitu pun keempat rekan setim.
Kami sudah melahap separuh perjalanan dari Desa Bawak Nao, titik awal pendakian.
Lanjutkan membaca “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi”
Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini tengah naik daun. Sang juara dunia pariwisata tahun 2016 versi UNWTO ini memiliki keragaman atraksi.
Tentu gelar ”Sunrise of Java” bukanlah gurauan.
Lanjutkan membaca “Xpress Air Inflight Magazine Edisi Agustus 2017: Serenade Buana Banyuwangi”
Malam itu (11/4/2017) pukul 21.30 WIT, kami berkesempatan menyaksikan persiapan pelepasan Paji Nyili-Nyili tak jauh dari Pelabuhan Rum. Kami baru saja bersilaturahmi ke kediaman nenek Aminah Sabtu. Seorang nenek pejuang. Penjahit bendera merah putih yang pertama kali berkibar di Tidore pada 1946 silam.
Di lokasi pelepasan, telah bersiap para pasukan Paji Nyili-Nyili. Pakaiannya serba hitam. Orang-orang itu dari wilayah Mareku. Saya menumpang perahunya saat Parade Juanga. Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. H. Ali Ibrahim.
Lampu-lampu permukiman yang akan dilintasi Paji Nyili-Nyili hampir seluruhnya dipadamkan. Digantikan sementara oleh obor kecil sederhana yang dipasang di muka rumah-rumah warga. Membuat suasana temaram. Kontras dengan kota tetangga, Ternate, yang gemerlap di kaki Gunung Gamalama.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)”
Sepagi ini kami sudah bersiap. Sesuai instruksi, kami mengenakan atasan putih dan bawahan bebas rapi. Baju koko putih yang semalam saya gunakan saat Rora Ake Dango, saya pakai lagi. Begitu pun celana kain hitam. Untuk perempuan, rata-rata menggunakan bawahan batik.
Sebelum berangkat ke Kadato Kie (istana Kesultanan Tidore), kami harus mengisi perut terlebih dahulu. Sarapan khas nasi kuning telah tersaji di meja ruang makan Penginapan Seroja. Acara inti hari ini (10/4/2017), Parade Juanga, merupakan perjalanan laut menapaktilasi perjuangan Sultan Nuku. Dari dermaga kesultanan di Soasio, Tidore, menuju Ternate.
Saya mulai membayangkan adegan seperti di film-film. Berada di kapal-kapal berpasukan siap tempur, mendampingi raja berperang melawan penjajah. Menerjang gelombang, menembus badai.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Parade Juanga (6)”
Setelah hari sebelumnya dimeriahkan bazar, petang ini (9/4/2017) kami kembali naik ke Sonine Gurua (Gurabunga).
Kondisinya sedikit berbeda dibandingkan acara semalam. Ada beberapa perubahan dekorasi, menyesuaikan tema acara malam ini.
Kursi-kursi tamu undangan di bawah tenda menghadap ke arah masjid. Ke arah Gunung Marijang. Filosofinya adalah memohon berkah Yang Maha Kuasa, sebagai rasa syukur akan gunung yang menghidupi Gurabunga.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Rora Ake Dango (5)”
Acara malam di Gurabunga (8/4/2017) itu termasuk rangkaian awal Festival Hari Jadi Tidore ke-909. Jadi, sebuah gelaran seni dan budaya. Namun, bukan hanya itu saja yang merebut daya pikat kami.
Ada dua tenda utama di tengah lapangan. Satu tenda menghadap timur. Ke arah panggung. Di bawahnya berderet rapi kursi-kursi plastik serta sofa untuk tamu kehormatan.
Satu tenda lainnya ada di sisi utara, dekat dengan pagar SD Negeri Gurabunga. Di sanalah bazar kuliner berada.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Meriung di Kaki Gunung (4)”
Keberangkatan dari Bandara Juanda, Sidoarjo, adalah sepak mula hal-hal yang mengejutkan bagi saya. Mencecap pengalaman-pengalaman baru dan seru. Karena, semuanya serba pertama. Termasuk urusan makan. Menu apa yang dimakan, dengan siapa dan di mana kami makan.
Seperti saat itu, Sabtu pagi yang cerah di Pelabuhan Rum, Kota Tidore Kepulauan.
Setelah puas memotret pemandangan sepanjang Ternate-Rum, ada aba-aba untuk berkumpul. Muhammad Gathmir membawa kresek hitam berisi belasan nasi bungkus. Menu sarapan telah datang.
Tanpa komando berlebihan, kami tergerak sendirinya untuk duduk melingkar. Di atas lantai kayu dermaga. Di tengah lalu-lalang pengguna jasa pelabuhan. Di tengah kesibukan awak kapal mengangkut motor penumpang. Di tengah hiruk-pikuk, kami dengan santainya membuka bungkusan dan melahap isinya: nasi uduk, ikan goreng, mi goreng, telur balado, dan sambal. Sesekali bergeser memberi jalan penumpang dan motor yang akan naik kapal.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Kelana Rasa Antara Rum-Safira (3)”
Roda pesawat menyentuh aspal landasan pacu. Meskipun bersabuk pengaman, saya tetap tersentak. Tubuh yang duduk tegak sempat terangkat satu-dua kali. Lalu condong ke depan beberapa saat. Kedua telapak tangan mencengkeram pegangan kursi.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara spoiler dan sirip menderu dari kedua sayap pesawat. Seperti berada dalam bus yang direm mendadak ketika kendaraan di depannya melambat.
Tepat beberapa meter sebelum ujung landasan, pesawat melambat dan langsung putar balik. Menuju apron Bandara Sultan Babullah, Ternate.
Untuk pertama kalinya, saya bersama Zulfa dan Eko menginjakkan kaki di wilayah Provinsi Maluku Utara. Dua jam lebih cepat dari Jawa.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)”
Mengunjungi Tidore pada pertengahan April 2017 lalu, ibarat beralih jenjang pendidikan. Mencecap pengalaman yang serba pertama, baru, dan seru. Menikmati dan mempelajari banyak hal, seperti orang-orangnya, tradisinya, dan alamnya.
Semua bermula dari partisipasi dalam lomba menulis blog bertema “Tidore Untuk Indonesia”. Lomba yang digelar sejak tanggal peluncurannya (12/2/2017) sampai tenggat akhir 18 Maret 2017.
Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)”
Petang itu langit menggelap. Suasana agak temaram setibanya di pelataran OCD Beach Café & Hostel. Tempat saya menginap ini masih satu kawasan dengan Pantai Lasiana, Kupang. Saya memarkir motor pinjaman di muka kamar penginapan yang serba bambu itu.
Saya bergegas menemui sang pemilik, yang sudah saya hubungi lewat pesan singkat beberapa hari sebelumnya. Tanpa harus bersusah payah mencari, sosok itu muncul dari balik dapur yang terletak di belakang kafe. Ia keluar dengan langkah tegap. Kesan bersahaja saya rasakan dari pria gempal berkaus putih dan bercelana selutut itu. Ia menjabat tangan saya erat dan memperkenalkan diri, “Oddy.”
Ia mengarahkan saya untuk segera menaruh tas ke kamar yang sudah disiapkan. “Mandi dulu, makan malam, baru kita ngobrol. Oke?”

Subuh berlalu. Kersak dahan cemara gunung tak sekencang semalam. Langit gelap berangsur terang. Suhu udara khas fajar beringsut menghangat. Menghangatkan kawasan camp Lembah Kidang yang cukup ramai.
Saya bergegas bangkit dari tidur. Menyusul Kurniawan yang sudah duluan berwudu di sumber air persis di barat perkemahan.
Sesungguhnya pagi di bulan April tak sedingin kala puncak musim kemarau, biasanya Agustus-September. Sayang, pada kedua bulan tersebut, sumber air biasanya mengering. Pendaki harus mengambil air bersih ke shelter III Pondokan yang masih mengucur pelan.
Jika pada pendakian-pendakian ke Gunung Arjuno sebelumnya, saya biasanya salat subuh di tengah perjalanan ke puncak, kali ini cukup di Lembah Kidang. Pendakian kali ini saya ‘tertahan’ untuk ke puncak. Bersama beberapa teman dalam satu tim, kami menghemat tenaga untuk ke Welirang besok.
Pagi ini, memang saatnya untuk lebih menikmati sisi tenang Lembah Kidang.
Lanjutkan membaca “Kidung Lembah Kidang”

Saya membuka pintu tenda yang menghadap danau. Sekian detik menengadah, melihat langit malam itu. Ketika membalikkan badan dan berseru, “Ayo, rek, metu ngopi karo ndelok bintang!” Ade, Oki, dan Rizky sudah terlelap di balik kehangatan sleeping bag.
Ajakan saya untuk ngopi di luar dan melihat bintang berbalas dengkuran. Setelah membantu menyiapkan makan malam, keduanya jelas kelelahan setelah turun dari puncak Mahameru siang tadi. Bersama dua belas teman yang juga sudah terlelap di dua tenda sebelah.
Tenda kami malam itu agak berantakan, karena jadi dapur umum. Kami kebagian tugas memasak. Saya bergegas merapikan bahan dan peralatannya. Sebagian dimasukkan ke tenda, sebagian dirapikan di teras tenda.
Setelah memakai jaket, saya ke luar tenda. Perlahan melangkah dengan memanggul tas pinggang berisi kamera dan menenteng sebuah tripod. Setelah menutup pintu tenda, saya kembali menengadah sesaat.
Lanjutkan membaca “Sabda Malam Langit Kumbolo”
Ketika berkunjung ke Pulau Buaya, Alor, Nusa Tenggara Timur, kita tak hanya dianggap sebagai tamu, tapi saudara. Satu keluarga.
Setahun lebih berlalu, denyut kehidupan yang unik di Pulau Buaya masih lekat di ingatan. Menjadi pengalaman berkesan.
Lanjutkan membaca “Mengunjungi Pulau Buaya di Kabupaten Alor”